Kamis, 25 Mei 2017

PETUALANGAN DETEKTIF SAMUJI 3 - Malam Itu (Bab 2/4)


DETEKTIF SAMUJI


BAB 2


Mereka berdua akhirnya tiba dirumah itu, rumah itu berada di daerah ngantru dekat dengan Alun-alun kota, cukup besar, lantai 2. Halamannya juga cukup lebar, ada beberapa jemuran dilihatnya, ada orang meninggal dan mereka cuci pakaian? Hebat sekali, keduanya berjalan masuk ke rumah itu, sebelum masuk Samuji memandangi pintu itu sebentar lalu melihat kedalam rumah, didalam ada beberapa polisi, dan 3 orang biasa mungkin penghuni rumah pikir Samuji, tiba-tba seorang polisi yang agak gemuk melarang Samuji mendekat.
“Maaf, orang asing dilarang mendekati tkp, untuk menjaga tetap streril” Polisi itu menahan Samuji dengan tangannya
“Biarkan dia melihatnya” Minto ikut berbicara “Dia detektif yang memecahkan kasus Asih itu[1]” Polisi tadi langsung minggir sambil tersenyum, Samuji melihatnya
“Maaf mas, saya nggak tahu” Samuji melihat polisi itu dengan tatapan tajam seolah ingin berkata Demi Tuhan kamu tidak tahu siapa aku “Mereka ini penghuni rumah disini, istrinya ibu Elis, anaknya mas Toni dan ini pembantunya mbak Narni” dia melanjutkan, Samuji mendekati mereka dan menyalami satu persatu lalu duduk di sofa panjang.
“Aku ingin bertanya, bagaimana sifat Pak Sugeng, apakah dia mempunyai musuh?” Samuji lekas bersuara dan mengeluarkan buku catatannya
“Dia itu, sering judi, sering mabuk bahkan sering main wanita..” Istrinya menjelaskan “..biasanya kalau sedang mabuk saya juga sering di pukul, kalau soal musuh saya tidak tau”
“Rumah ini ada pintu belakangnya?” Samuji melihat mbak Narni
“Tidak” Pembantunya menjelaskan
“Jadi akses kesini hanya pintu depan ya, ngomong-ngomong itu siapa yang mencuci pakaian? Kamu?”
“Iya, sepreinya kotor jadi aku cuci”
“Kotor kenapa?” tanya Samuji lagi
“Eh? Aku gak tau kenapa” Mbak Narni menjawab dengan ragu
“Hmm, oke” Samuji mencatat semuanya di buku catatannya “Kalau begitu saya akan lihat dulu mayatnya” Samuji bangkit kemudian bersama Minto masuk ke ruang tidur pak sugeng dilantai 2, tempat dia ditemukan tewas, pintu ruangan itu tertutup Samuji membukanya perlahan, ada seorang pria terbaring secara terlentang di lantai dengan beberapa luka tusuk di tubuhnya.
“Ya Allah” Kata Minto sambil menutup mulutnya
“Sepertinya dia meninggal 10 jam yang lalu”
“Pembunuhnya kejam sekali menusuk pria ini berkali-kali sampai tewas” Minto menggelengkan kepalanya, Samuji berjongkok melihat kondisi mayat itu lalu bangkit dan melihat sekeliling, tempat itu cukup bersih, sepertinya setiap hari di bersihkan, lalu melihat ke arah jendela dan menyadari sesuatu yang ganjil.
“To panggil polisi yang ada dibawah” Suruh Samuji tiba-tiba
“Oke” Minto keluar sebentar dan berteriak memanggil polisi dibawah “Andi, Zainudin coba naik kesini” keduanya langsung naik ke atas begitu dipanggil
“Ada apa?” Polisi yang badannya kecil mulai bicara
“Apa semalam salah satu dari kalian disini?”
“Aku dari semalam berjaga disini” Kata polisi yang agak gemuk
“Apa ada pisau didekat mayat ini?”
“Tidak” Andi itu menggeleng
“Apa kamu mengunci jendela itu?” Samuji menunjuk ke arah jendela
“Tidak, tidak ada yang masuk ke ruangan ini setelah polisi sampai disini”
“Menarik sekali” Samuji tersenyum
“Apa yang lucu?” Minto bingung
“Temanku, menurut analisaku ada 1 kemungkinan dalam kasus ini..” Samuji melihat Minto “..Pria ini dibunuh salah satu penghuni rumah”
“Apa?!!” Minto kaget, kedua polisi itu juga kaget “Hey jangan bercanda”
“Tidak ada orang lain yang masuk kesini, lihat jendela itu terkunci”
“Bisa saja dia masuk dari pintu depan”
“Pintu depan tidak ada bekas dibuka paksa, aku tadi sudah mengamatinya”
“Ya kalau begitu pintu belakang”
“Temanku, rumah ini kan tidak punya pintu belakang” Samuji menggeleng-geleng, Minto menggelengkan kepalanya lalu menghela nafas panjang, coba untuk menenangkan dirinya
“Oke, tapi ada kemungkinan dia bunuh diri kan?”
“Tidak”
“Tidak? Kenapa?”
“Kalau dia bunuh diri pisaunya pasti disekitar sini”
“Kalau kemungkinan lain?”
“Aku sudah menganalisa semuanya dan satu-satunya kemungkinan yang tersisa adalah ini” Samuji agak kesal, Minto menunduk.
“Terus bagaimana?”
“Suruh mereka tetap dirumah mbak narni suruh menunggu dikamarnya, mas toni juga, aku ingin menanyai alibi mereka semalam”
“Kalau istrinya?”
“Suruh dia menunggu di ruang tamu, kasus ini baru saja dimulai” Samuji menyalakan rokoknya.





[1] Baca “Petualangan Detektif Samuji 2”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar