DETEKTIF SAMUJI
Mereka berdua akhirnya tiba dirumah itu, rumah itu berada
di daerah ngantru dekat dengan Alun-alun kota, cukup besar, lantai 2.
Halamannya juga cukup lebar, ada beberapa jemuran dilihatnya, ada orang
meninggal dan mereka cuci pakaian? Hebat sekali, keduanya berjalan masuk ke
rumah itu, sebelum masuk Samuji memandangi pintu itu sebentar lalu melihat
kedalam rumah, didalam ada beberapa polisi, dan 3 orang biasa mungkin penghuni
rumah pikir Samuji, tiba-tba seorang polisi yang agak gemuk melarang Samuji
mendekat.
“Maaf, orang asing dilarang mendekati tkp, untuk menjaga
tetap streril” Polisi itu menahan Samuji dengan tangannya
“Biarkan dia melihatnya” Minto ikut berbicara “Dia
detektif yang memecahkan kasus Asih itu[1]”
Polisi tadi langsung minggir sambil tersenyum, Samuji melihatnya
“Maaf mas, saya nggak tahu” Samuji melihat polisi itu
dengan tatapan tajam seolah ingin berkata Demi Tuhan kamu tidak tahu siapa
aku “Mereka ini penghuni rumah disini, istrinya ibu Elis, anaknya mas Toni
dan ini pembantunya mbak Narni” dia melanjutkan, Samuji mendekati mereka dan
menyalami satu persatu lalu duduk di sofa panjang.
“Aku ingin bertanya, bagaimana sifat Pak Sugeng, apakah
dia mempunyai musuh?” Samuji lekas bersuara dan mengeluarkan buku catatannya
“Dia itu, sering judi, sering mabuk bahkan sering main
wanita..” Istrinya menjelaskan “..biasanya kalau sedang mabuk saya juga sering
di pukul, kalau soal musuh saya tidak tau”
“Rumah ini ada pintu belakangnya?” Samuji melihat mbak
Narni
“Tidak” Pembantunya menjelaskan
“Jadi akses kesini hanya pintu depan ya, ngomong-ngomong
itu siapa yang mencuci pakaian? Kamu?”
“Iya, sepreinya kotor jadi aku cuci”
“Kotor kenapa?” tanya Samuji lagi
“Eh? Aku gak tau kenapa” Mbak Narni menjawab dengan ragu
“Hmm, oke” Samuji mencatat semuanya di buku catatannya
“Kalau begitu saya akan lihat dulu mayatnya” Samuji bangkit kemudian bersama
Minto masuk ke ruang tidur pak sugeng dilantai 2, tempat dia ditemukan tewas,
pintu ruangan itu tertutup Samuji membukanya perlahan, ada seorang pria
terbaring secara terlentang di lantai dengan beberapa luka tusuk di tubuhnya.
“Ya Allah” Kata Minto sambil menutup mulutnya
“Sepertinya dia meninggal 10 jam yang lalu”
“Pembunuhnya kejam sekali menusuk pria ini berkali-kali
sampai tewas” Minto menggelengkan kepalanya, Samuji berjongkok melihat kondisi
mayat itu lalu bangkit dan melihat sekeliling, tempat itu cukup bersih,
sepertinya setiap hari di bersihkan, lalu melihat ke arah jendela dan menyadari
sesuatu yang ganjil.
“To panggil polisi yang ada dibawah” Suruh Samuji
tiba-tiba
“Oke” Minto keluar sebentar dan berteriak memanggil
polisi dibawah “Andi, Zainudin coba naik kesini” keduanya langsung naik ke atas
begitu dipanggil
“Ada apa?” Polisi yang badannya kecil mulai bicara
“Apa semalam salah satu dari kalian disini?”
“Aku dari semalam berjaga disini” Kata polisi yang agak
gemuk
“Apa ada pisau didekat mayat ini?”
“Tidak” Andi itu menggeleng
“Apa kamu mengunci jendela itu?” Samuji menunjuk ke arah
jendela
“Tidak, tidak ada yang masuk ke ruangan ini setelah
polisi sampai disini”
“Menarik sekali” Samuji tersenyum
“Apa yang lucu?” Minto bingung
“Temanku, menurut analisaku ada 1 kemungkinan dalam kasus
ini..” Samuji melihat Minto “..Pria ini dibunuh salah satu penghuni rumah”
“Apa?!!” Minto kaget, kedua polisi itu juga kaget “Hey
jangan bercanda”
“Tidak ada orang lain yang masuk kesini, lihat jendela
itu terkunci”
“Bisa saja dia masuk dari pintu depan”
“Pintu depan tidak ada bekas dibuka paksa, aku tadi sudah
mengamatinya”
“Ya kalau begitu pintu belakang”
“Temanku, rumah ini kan tidak punya pintu belakang”
Samuji menggeleng-geleng, Minto menggelengkan kepalanya lalu menghela nafas
panjang, coba untuk menenangkan dirinya
“Oke, tapi ada kemungkinan dia bunuh diri kan?”
“Tidak”
“Tidak? Kenapa?”
“Kalau dia bunuh diri pisaunya pasti disekitar sini”
“Kalau kemungkinan lain?”
“Aku sudah menganalisa semuanya dan satu-satunya
kemungkinan yang tersisa adalah ini” Samuji agak kesal, Minto menunduk.
“Terus bagaimana?”
“Suruh mereka tetap dirumah mbak narni suruh menunggu
dikamarnya, mas toni juga, aku ingin menanyai alibi mereka semalam”
“Kalau istrinya?”
“Suruh dia menunggu di ruang tamu, kasus ini baru saja
dimulai” Samuji menyalakan rokoknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar