Kamis, 25 Mei 2017

PETUALANGAN DETEKTIF SAMUJI 3 - Malam Itu (Bab 3/4)


DETEKTIF SAMUJI


BAB 3

Samuji dan Minto menemui mbak Narni lebih dulu di kamarnya, kamar itu berada di dekat dapur, mungkin dimaksudkan agar memudahkan saat memasak, kamar itu agak berantakan, beberapa barang-barang disana ada yang jatuh ke lantai seperti alat kosmetik, begitu masuk ke kamar mbak narni langsung merapikannya, kasur tempat tidurnya juga tidak ada seprei karena sedang dicuci, Mbak Narni dan Minto duduk di kursi plastik sedang Samuji memilih berdiri sambil mengamati kamar itu, dia melihat ada sesuatu yang kecil dilantai, terlihat.. seperti.. beling?
“Berapa lama mbak Narni bekerja disini?” Tanya Samuji
“1 tahunan”
“Dan umur mbak berapa?”
“19”
“Mbak narni semalam ada dimana saat kejadian itu terjadi?”
“Saya tidak tau kapan kejadiannya”
“Apakah mbak dengar teriakan atau apalah dari pak sugeng?”
“Enggak mas, saya semalam tidur sampai ibu bangunin saya karena bapak ditemukan meninggal”
“Apakah pak sugeng seorang majikan yang baik?”
“Iya, dia majikan yang baik”
“Benarkah?”
Mbak Narni tidak menjawab
“Mbak, kami tidak bisa membantu jika mbak tidak menceritakan yang sejujurnya” Minto akhirnya ikut bicara
Mbak Narni masih diam sambil menunduk
“Kalau ibu, apakah dia majikan yang baik?” Samuji melanjutkan
“Ya, dia sangat baik”
“Baiknya seperti apa?”
“Ya ngasih gaji tidak pernah telat, jarang marah-marah”
“Kalau bapak sering marah-marah?” tanya Samuji cepat
“Eh? Enggak, bapak juga baik”
“Apakah dia pernah melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan pada anda?” Wajah mbak narni berubah pucat seperti orang ketakutan dan tidak menjawab
“Mbak, kami bisa menahan anda karena menghalangi penyelidikan” kata Minto sedikit mengancam
“Sebenarnya, bapak beberapa kali melakukan pelecehan terhadap saya” Samuji semakin antusias
“Pelecehan seperti apa?”
“Kadang grewol-grewol[1]
“Sering?”
“Hanya waktu lagi mabuk”
“Dia sering mabuk?”
“Hampir setiap hari”
“Berarti dia hampir setiap hari melecehkan anda?”
Mbak Narni diam lagi
“Apakah anda punya dendam padanya?”
“Eh tidak” Mbak Narni menggeleng pelan
Samuji berpikir keras sambil memandangi Mbak Narni, merasa tak nyaman Narni pun bersuara
“Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa, Terima kasih atas kerja samanya” Samuji lalu menjabat tangannya dan kelaur ruangan diikuti Minto, setelah mereka keluar zainudin menjaga ruangan itu dari luar
“Bagaimana menurutmu?” Minto bersuara
“Apanya?”
“Pembunuhnya lah, masak pemenang Indonesian Odol[2]
“Bisa jadi dia”
“Siapa yang kita interogasi selanjutnya?”
“Mas Toni, kita ke kamarnya”
“Oke” keduanya menuju kamar toni, kamar itu berada di lantai 1 dekat ruang tamu, bu Elis duduk sambil memandangi keduanya kamar itu dijaga Andi sekalian menjaga ruang tamu, Minto lalu mengetuk pintu kamar itu
“Masuk” suara itu terdengar dari dalam
“Selamat siang mas Toni”
“Siang” Samuji mengamati kamar itu sebentar, ada beberapa buku di rak kebanyakan novel ada juga yang komik, ada foto dirinya dan teman-teman juga ada foto dia bersama ibunya namun dari sekian banyak foto disana tidak ada foto ayahnya, aneh, Toni duduk di kasurnya sedang Minto berdiri di depan pintu.
“Mas toni sekarang kesibukannya apa?” Samuji bersuara sambil melihat-lihat kamar itu
“Saya kuliah mas”
“Di mana?” Samuji bertanya sambil melihat-lihat foto di meja kecil itu
“STUVW[3] Trenggalek”
“Oh” Samuji diam sejenak “semasa hidup bapak itu orangnya gimana?”
“Ya gitu deh, mbak narni pasti sudah cerita, ibuk juga sudah cerita”
“Iya, tapi saya ingin dengar dari anaknya”
“Dia itu laki-laki yang tidak bertanggung jawab pada keluarga, suka judi, suka mabuk, suka main wanita bahkan kadang kdrt sama ibuk” Toni menjelaskan dengan nada biasa, Samuji lalu memandanginya sekilas
“Oh iya, bapak bekerja dimana ya?” Pandangan Samuji beralih ke rak buku
“Nggak kerja”
“Boleh saya baca bukunya?”
“Buat apa?”
“Saya seneng aja baca buku”
“Ya, silahkan” Toni membolehkan namun mengawasi buku mana yang dipilih Samuji, Samuji melihat-lihat buku disana ada 2 buku yang menarik, Ayah dari Andrea Hirata dan Sabtu bersama bapak, sepertinya dia ingin sosok ayah yang lebih baik, samuji mengambil satu-persatu buku disana ada satu buku yang aneh, jatuh cinta diam-diam dari dwitasari dibagian tengah seperti ada yang mengganjal, mungkin pembatas buku pikir samuji dia lalu membukanya, namun toni berdiri dan melarangnya
“Jangan dibuka!” Samuji kaget, Minto juga ikut berdiri
“Kenapa?” tanya Samuji polos
“Nggak kenapa-kenapa”
“Ya sudah” sedetik kemudian buku itu terbuka, di halaman 111 ada foto seorang wanita, mbak narni
“Sudah kubilang jangan dibuka!” Toni mengambil buku itu dan menutupnya, Samuji masih berusaha mencerna apa yang dia lihat lalu memandangi Toni
“Kamu menyukainya”
“Siapa?” Minto tidak mengerti
“Mbak Narni” keduanya memandangi Toni seperti menunggu jawaban
“Ya, aku menyukainya”
“Apakah kau tau kalau hampir setiap hari mbak narni mengalami pelecehan dari pak sugeng?”
“Tau lah, hampir setiap hari dia grewol-grewol mbak narni bukan cuma itu kadang juga nampar dia, benar-benar brengsek” Samuji dan Minto saling menatap “Dia punya istri sebaik ibuk tapi malah kayak begitu” Samuji melihat lagi sekilas foto toni dengan ibunya
“Oh iya, semalam mas Toni ada dimana?”
“Saya menonton tv sama ibuk”
“Ya, terima kasih atas kerja samanya mas toni” Samuji menyalami Toni
“Sama-sama”
“Saya akan berusaha semoga kasus ini segera terungkap”
“Ya” Minto dan Samuji keluar kamar itu dengan perasaan bingung dan memutuskan untuk keluar rumah sebentar mencari udara segar
“Bu Elis, tunggu sebentar ya, saya dan Minto nyari udara segar dulu”
“Ya, ngomong-ngomong Toni sama Narni boleh keluar kamar? Saya pengen ditemani mereka sekarang”
“Ya silahkan” Jawab Samuji singkat, keduanya pun keluar dan duduk di teras
“Aku nggak ngerti” Minto bersuara
“Bagian mana yang kamu nggak ngerti?”
“Tadinya kupikir yang bunuh Pak Sugeng mbak narni, tapi sekarang kayaknya toni, bagaimana menurutmu?”
“Entahlah aku juga bingung, tapi kalau mbak narni mungkin nggak sih dia bunuh orang yang badannya segede itu?”
“Sulit”
“Tapi kalau benar Toni nonton tv sama ibunya..”
“Alibinya cukup kuat, bahkan alibi Narni sangat lemah”
“Rokokku sampai habis” kata Samuji lalu melemparkan rokoknya ke tempat sampah. ketika itu dia melihat serbet, aneh kenapa disana ada serbet? Kalau tisu masih masuk akal dibuang, Samuji mengambilnya, serbet itu tidak terlihat kotor, kenapa dibuang? Dia mencium serbet itu dan menyadari sesuatu kemudian memasukkan serbet tadi ke saku mantelnya
“Apa itu?” tanya Minto
“Serbet”
“Ha? Serbet? Mau diapakan?”
“Aku belum yakin, ayo kita temui Ibu Elis” Samuji mengambil rokok dan menyalakannya lagi
“Ayo” Minto bangkit dari duduknya
Keduanya masuk lagi ke rumah itu, Bu Elis bersama mas toni dan mbak narni ada di ruang tamu, andi dan zainudin juga ada disana, Samuji dan Minto duduk di sofa panjang, Samuji memandangi Bu Elis sebentar lalu beralih ke Toni, kemudian Narni dan kembali ke Bu Elis
“Bu Elis, kesibukan ibu apa?”
“Saya guru”
“Guru? Dimana?”
“Di SMPI Bendungagung”
“Oh, berapa lama?”
“Sekitar 17 tahun”
“Lama juga ya, apakah ibu tau perilaku suami anda seperti itu ketika sebelum menikah?”
“Dulu dia tidak begitu, dulu dia orang yang baik, rajin ibadah, setelah menikah dia sering main judi dan sering kalah, dia dulu 2006 taruhan sama temannya tentang siapa juara piala dunia, dia megang prancis dan..”
“Kalah” Samuji menyela dengan mata menerawang ke meja lalu tersenyum dan memandangi semua orang sambil bercerita “..aku tau, siapa sih yang gak milih prancis waktu itu, aku juga dulu milih prancis, gila aja, ada zidane, sagnol masak milih italia yang lagi tersandung calciopoli[4], kecuali beber..” omongan Samuji terhenti ketika melihat Minto menatapnya dengan tajam “..Anyway, berapa yang dia pertaruhakan?” Katanya sambil menatap Bu Elis
“20 Juta”
“20 JUTA?! Bangsat itu banyak banget” Samuji terkejut
“Iya, setelah itu dia jadi kecanduan taruhan, di piala eropa 2008 piala dunia 2010 piala eropa 2012 juga di piala dunia 2014 tapi kalah terus”
“Di piala eropa 2016 dia nggak taruhan?”
“Di 2016 dia menang” Samuji kemudian tertawa
“Apakah anda sering mengalami kekerasan dari suami anda?”
“Kadang-kadang, kalau dia sedang mabuk”
“Apakah anda masih ingin berumah tangga dengan pak sugeng setelah semua yang dia lakukan?”
“Sebenarnya saya sudah tidak betah, tapi..”
“Tapi?”
“Tapi saya nggak berani menceraikannya, dia mengancam akan membunuh saya” Samuji dan Minto terkejut
“Menarik sekali, lalu anda percaya?”
“Melihat kelakuan dia, ya, saya percaya”
“Apakah pernah terbesit keinginan untuk membunuhnya?”
“Sering, kalau dia sedang marah dan mabuk” Samuji dan Minto kembali terkejut mendengarnya “Tapi untunglah dia sudah tewas” kata Bu Elis dengan santai
“Semalam anda ada dimana?”
“Saya semalam bersama toni, nonton tv”
“Benarkah? Apa suami anda tidak berteriak ketika dibunuh?”
“Saya tidak dengar apapun”
“Apakah ini milik anda?” Samuji lalu memperlihatkan serbet yang tadi dipungutnya ditempat sampah
“Iya, dimana anda menemukannya?” Elis kaget dan matanya melebar
“Di luar” Bu Elis berusaha meraihnya namun Samuji memasukkan serbet itu kesakunya lagi
“Apa serbet itu sering digunakan?”
“Sering, mungkin, Narni yang menggunakannya”
“Ya serbet itu sering digunakan”
“Mengelap apa saja biasanya?”
“Piring, kompor, semacam itu”
“Begitu ya, baiklah, terima kasih atas kerjasamanya, silahkan kalau mau makan siang sebentar” Samuji bangkit dari kursinya dan berjalan keluar bersama Minto, sesekali diluar rumah Samuji menghembuskan nafas panjang diikuti kepulan asap rokonya
“Kenapa?”
“Aku bingung”
“Bingung kenapa?”
“Siapa pelakunya”
“Ku pikir kita sudah sepakat kalau pembunuhnya Narni”
“Belum tentu”
“Sepertinya bicara dengan Ibu Elis membuat keyakinanmu goyah”
“Tadi, serbet yang kamu tunjukkan pada Bu Elis, ada apa dengan serbet itu?”
“Serbet ini diberi obat bius”
“Apa?!”
“Mungkin ini serbet yang dipakai pembunuh”
“Pantas saja tidak ada yang mendengar suara sugeng berteriak”
Samuji bingung sambil berjalan mondar mandir tak tentu arah dengan tangan ditaruh dibelakang, kadang menghilang dibalik jemuran kadang kelihatan lagi kadang menghilang lagi, lalu suaranya terdengar keras
“TO!!” Minto bangkit dan berlari kearah Samuji
“Ada apa?” tanya Minto panik
“Lihat” Samuji menunjuk noda di seprei itu
“Apa? Hanya noda?” Minto heran
“Bukan noda, itu darah”
“Darah?”
“Ya, dan ini adalah sepreinya Narni yang dicuci”
“Ini darahnya sugeng, kalau begitu..”
“Tunggu sebentar..”
“Kita ringkus dia sekarang!” Minto berlari ke dalam rumah
“Tunggu sebentar! Aku membuat sebuah kesalahan” Samuji melihat ke bawah, Minto terhenti dan menoleh bingung, apa yang salah?



[1] Grepe-grepe
[2] Sebuah ajang pencarian bakat di televisi
[3] Sebuah kampus di Trenggalek
[4] Kasus pengaturan skor di liga Italia tahun 2006



Tidak ada komentar:

Posting Komentar