DETEKTIF SAMUJI
Samuji dan Minto
menemui mbak Narni lebih dulu di kamarnya, kamar itu berada di dekat dapur,
mungkin dimaksudkan agar memudahkan saat memasak, kamar itu agak berantakan,
beberapa barang-barang disana ada yang jatuh ke lantai seperti alat kosmetik,
begitu masuk ke kamar mbak narni langsung merapikannya, kasur tempat tidurnya
juga tidak ada seprei karena sedang dicuci, Mbak Narni dan Minto duduk di kursi
plastik sedang Samuji memilih berdiri sambil mengamati kamar itu, dia melihat
ada sesuatu yang kecil dilantai, terlihat.. seperti.. beling?
“Berapa lama mbak
Narni bekerja disini?” Tanya Samuji
“1 tahunan”
“Dan umur mbak
berapa?”
“19”
“Mbak narni semalam
ada dimana saat kejadian itu terjadi?”
“Saya tidak tau
kapan kejadiannya”
“Apakah mbak dengar
teriakan atau apalah dari pak sugeng?”
“Enggak mas, saya
semalam tidur sampai ibu bangunin saya karena bapak ditemukan meninggal”
“Apakah pak sugeng
seorang majikan yang baik?”
“Iya, dia majikan
yang baik”
“Benarkah?”
Mbak Narni tidak menjawab
“Mbak, kami tidak
bisa membantu jika mbak tidak menceritakan yang sejujurnya” Minto akhirnya ikut
bicara
Mbak Narni masih
diam sambil menunduk
“Kalau ibu, apakah
dia majikan yang baik?” Samuji melanjutkan
“Ya, dia sangat
baik”
“Baiknya seperti
apa?”
“Ya ngasih gaji
tidak pernah telat, jarang marah-marah”
“Kalau bapak sering
marah-marah?” tanya Samuji cepat
“Eh? Enggak, bapak
juga baik”
“Apakah dia pernah
melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan pada anda?” Wajah mbak narni
berubah pucat seperti orang ketakutan dan tidak menjawab
“Mbak, kami bisa
menahan anda karena menghalangi penyelidikan” kata Minto sedikit mengancam
“Sebenarnya, bapak
beberapa kali melakukan pelecehan terhadap saya” Samuji semakin antusias
“Pelecehan seperti
apa?”
“Kadang grewol-grewol[1]”
“Sering?”
“Hanya waktu lagi
mabuk”
“Dia sering mabuk?”
“Hampir setiap
hari”
“Berarti dia hampir
setiap hari melecehkan anda?”
Mbak Narni diam
lagi
“Apakah anda punya
dendam padanya?”
“Eh tidak” Mbak
Narni menggeleng pelan
Samuji berpikir
keras sambil memandangi Mbak Narni, merasa tak nyaman Narni pun bersuara
“Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa,
Terima kasih atas kerja samanya” Samuji lalu menjabat tangannya dan kelaur
ruangan diikuti Minto, setelah mereka keluar zainudin menjaga ruangan itu dari
luar
“Bagaimana
menurutmu?” Minto bersuara
“Apanya?”
“Pembunuhnya lah,
masak pemenang Indonesian Odol[2]”
“Bisa jadi dia”
“Siapa yang kita
interogasi selanjutnya?”
“Mas Toni, kita ke
kamarnya”
“Oke” keduanya
menuju kamar toni, kamar itu berada di lantai 1 dekat ruang tamu, bu Elis duduk
sambil memandangi keduanya kamar itu dijaga Andi sekalian menjaga ruang tamu,
Minto lalu mengetuk pintu kamar itu
“Masuk” suara itu
terdengar dari dalam
“Selamat siang mas
Toni”
“Siang” Samuji
mengamati kamar itu sebentar, ada beberapa buku di rak kebanyakan novel ada
juga yang komik, ada foto dirinya dan teman-teman juga ada foto dia bersama
ibunya namun dari sekian banyak foto disana tidak ada foto ayahnya, aneh, Toni
duduk di kasurnya sedang Minto berdiri di depan pintu.
“Mas toni sekarang
kesibukannya apa?” Samuji bersuara sambil melihat-lihat kamar itu
“Saya kuliah mas”
“Di mana?” Samuji
bertanya sambil melihat-lihat foto di meja kecil itu
“STUVW[3]
Trenggalek”
“Oh” Samuji diam
sejenak “semasa hidup bapak itu orangnya gimana?”
“Ya gitu deh, mbak
narni pasti sudah cerita, ibuk juga sudah cerita”
“Iya, tapi saya
ingin dengar dari anaknya”
“Dia itu laki-laki
yang tidak bertanggung jawab pada keluarga, suka judi, suka mabuk, suka main
wanita bahkan kadang kdrt sama ibuk” Toni menjelaskan dengan nada biasa, Samuji
lalu memandanginya sekilas
“Oh iya, bapak
bekerja dimana ya?” Pandangan Samuji beralih ke rak buku
“Nggak kerja”
“Boleh saya baca
bukunya?”
“Buat apa?”
“Saya seneng aja
baca buku”
“Ya, silahkan” Toni
membolehkan namun mengawasi buku mana yang dipilih Samuji, Samuji melihat-lihat
buku disana ada 2 buku yang menarik, Ayah dari Andrea Hirata dan Sabtu bersama
bapak, sepertinya dia ingin sosok ayah yang lebih baik, samuji mengambil
satu-persatu buku disana ada satu buku yang aneh, jatuh cinta diam-diam dari
dwitasari dibagian tengah seperti ada yang mengganjal, mungkin pembatas buku
pikir samuji dia lalu membukanya, namun toni berdiri dan melarangnya
“Jangan dibuka!”
Samuji kaget, Minto juga ikut berdiri
“Kenapa?” tanya
Samuji polos
“Nggak
kenapa-kenapa”
“Ya sudah” sedetik
kemudian buku itu terbuka, di halaman 111 ada foto seorang wanita, mbak narni
“Sudah kubilang
jangan dibuka!” Toni mengambil buku itu dan menutupnya, Samuji masih berusaha
mencerna apa yang dia lihat lalu memandangi Toni
“Kamu menyukainya”
“Siapa?” Minto
tidak mengerti
“Mbak Narni”
keduanya memandangi Toni seperti menunggu jawaban
“Ya, aku
menyukainya”
“Apakah kau tau
kalau hampir setiap hari mbak narni mengalami pelecehan dari pak sugeng?”
“Tau lah, hampir
setiap hari dia grewol-grewol mbak narni bukan cuma itu kadang juga
nampar dia, benar-benar brengsek” Samuji dan Minto saling menatap “Dia punya
istri sebaik ibuk tapi malah kayak begitu” Samuji melihat lagi sekilas foto
toni dengan ibunya
“Oh iya, semalam
mas Toni ada dimana?”
“Saya menonton tv
sama ibuk”
“Ya, terima kasih
atas kerja samanya mas toni” Samuji menyalami Toni
“Sama-sama”
“Saya akan berusaha
semoga kasus ini segera terungkap”
“Ya” Minto dan
Samuji keluar kamar itu dengan perasaan bingung dan memutuskan untuk keluar
rumah sebentar mencari udara segar
“Bu Elis, tunggu
sebentar ya, saya dan Minto nyari udara segar dulu”
“Ya,
ngomong-ngomong Toni sama Narni boleh keluar kamar? Saya pengen ditemani mereka
sekarang”
“Ya silahkan” Jawab
Samuji singkat, keduanya pun keluar dan duduk di teras
“Aku nggak ngerti”
Minto bersuara
“Bagian mana yang
kamu nggak ngerti?”
“Tadinya kupikir
yang bunuh Pak Sugeng mbak narni, tapi sekarang kayaknya toni, bagaimana
menurutmu?”
“Entahlah aku juga
bingung, tapi kalau mbak narni mungkin nggak sih dia bunuh orang yang badannya
segede itu?”
“Sulit”
“Tapi kalau benar
Toni nonton tv sama ibunya..”
“Alibinya cukup
kuat, bahkan alibi Narni sangat lemah”
“Rokokku sampai
habis” kata Samuji lalu melemparkan rokoknya ke tempat sampah. ketika itu dia
melihat serbet, aneh kenapa disana ada serbet? Kalau tisu masih masuk akal
dibuang, Samuji mengambilnya, serbet itu tidak terlihat kotor, kenapa dibuang?
Dia mencium serbet itu dan menyadari sesuatu kemudian memasukkan serbet tadi ke
saku mantelnya
“Apa itu?” tanya
Minto
“Serbet”
“Ha? Serbet? Mau
diapakan?”
“Aku belum yakin,
ayo kita temui Ibu Elis” Samuji mengambil rokok dan menyalakannya lagi
“Ayo” Minto bangkit
dari duduknya
Keduanya masuk lagi
ke rumah itu, Bu Elis bersama mas toni dan mbak narni ada di ruang tamu, andi
dan zainudin juga ada disana, Samuji dan Minto duduk di sofa panjang, Samuji
memandangi Bu Elis sebentar lalu beralih ke Toni, kemudian Narni dan kembali ke
Bu Elis
“Bu Elis, kesibukan
ibu apa?”
“Saya guru”
“Guru? Dimana?”
“Di SMPI
Bendungagung”
“Oh, berapa lama?”
“Sekitar 17 tahun”
“Lama juga ya,
apakah ibu tau perilaku suami anda seperti itu ketika sebelum menikah?”
“Dulu dia tidak
begitu, dulu dia orang yang baik, rajin ibadah, setelah menikah dia sering main
judi dan sering kalah, dia dulu 2006 taruhan sama temannya tentang siapa juara
piala dunia, dia megang prancis dan..”
“Kalah” Samuji
menyela dengan mata menerawang ke meja lalu tersenyum dan memandangi semua
orang sambil bercerita “..aku tau, siapa sih yang gak milih prancis waktu itu,
aku juga dulu milih prancis, gila aja, ada zidane, sagnol masak milih italia
yang lagi tersandung calciopoli[4],
kecuali beber..” omongan Samuji terhenti ketika melihat Minto menatapnya dengan
tajam “..Anyway, berapa yang dia pertaruhakan?” Katanya sambil menatap
Bu Elis
“20 Juta”
“20 JUTA?! Bangsat
itu banyak banget” Samuji terkejut
“Iya, setelah itu
dia jadi kecanduan taruhan, di piala eropa 2008 piala dunia 2010 piala eropa
2012 juga di piala dunia 2014 tapi kalah terus”
“Di piala eropa
2016 dia nggak taruhan?”
“Di 2016 dia
menang” Samuji kemudian tertawa
“Apakah anda sering
mengalami kekerasan dari suami anda?”
“Kadang-kadang,
kalau dia sedang mabuk”
“Apakah anda masih
ingin berumah tangga dengan pak sugeng setelah semua yang dia lakukan?”
“Sebenarnya saya
sudah tidak betah, tapi..”
“Tapi?”
“Tapi saya nggak
berani menceraikannya, dia mengancam akan membunuh saya” Samuji dan Minto
terkejut
“Menarik sekali,
lalu anda percaya?”
“Melihat kelakuan
dia, ya, saya percaya”
“Apakah pernah
terbesit keinginan untuk membunuhnya?”
“Sering, kalau dia
sedang marah dan mabuk” Samuji dan Minto kembali terkejut mendengarnya “Tapi
untunglah dia sudah tewas” kata Bu Elis dengan santai
“Semalam anda ada
dimana?”
“Saya semalam
bersama toni, nonton tv”
“Benarkah? Apa
suami anda tidak berteriak ketika dibunuh?”
“Saya tidak dengar
apapun”
“Apakah ini milik
anda?” Samuji lalu memperlihatkan serbet yang tadi dipungutnya ditempat sampah
“Iya, dimana anda
menemukannya?” Elis kaget dan matanya melebar
“Di luar” Bu Elis
berusaha meraihnya namun Samuji memasukkan serbet itu kesakunya lagi
“Apa serbet itu
sering digunakan?”
“Sering, mungkin,
Narni yang menggunakannya”
“Ya serbet itu
sering digunakan”
“Mengelap apa saja
biasanya?”
“Piring, kompor,
semacam itu”
“Begitu ya, baiklah,
terima kasih atas kerjasamanya, silahkan kalau mau makan siang sebentar” Samuji
bangkit dari kursinya dan berjalan keluar bersama Minto, sesekali diluar rumah
Samuji menghembuskan nafas panjang diikuti kepulan asap rokonya
“Kenapa?”
“Aku bingung”
“Bingung kenapa?”
“Siapa pelakunya”
“Ku pikir kita
sudah sepakat kalau pembunuhnya Narni”
“Belum tentu”
“Sepertinya bicara
dengan Ibu Elis membuat keyakinanmu goyah”
“Tadi, serbet yang
kamu tunjukkan pada Bu Elis, ada apa dengan serbet itu?”
“Serbet ini diberi
obat bius”
“Apa?!”
“Mungkin ini serbet
yang dipakai pembunuh”
“Pantas saja tidak
ada yang mendengar suara sugeng berteriak”
Samuji bingung
sambil berjalan mondar mandir tak tentu arah dengan tangan ditaruh dibelakang,
kadang menghilang dibalik jemuran kadang kelihatan lagi kadang menghilang lagi,
lalu suaranya terdengar keras
“TO!!” Minto
bangkit dan berlari kearah Samuji
“Ada apa?” tanya
Minto panik
“Lihat” Samuji
menunjuk noda di seprei itu
“Apa? Hanya noda?”
Minto heran
“Bukan noda, itu
darah”
“Darah?”
“Ya, dan ini adalah
sepreinya Narni yang dicuci”
“Ini darahnya
sugeng, kalau begitu..”
“Tunggu sebentar..”
“Kita ringkus dia
sekarang!” Minto berlari ke dalam rumah
“Tunggu sebentar! Aku membuat sebuah kesalahan” Samuji
melihat ke bawah, Minto terhenti dan menoleh bingung, apa yang salah?
[1]
Grepe-grepe
[2]
Sebuah ajang pencarian bakat di
televisi
[3]
Sebuah kampus di Trenggalek
[4]
Kasus pengaturan skor di liga Italia
tahun 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar