DETEKTIF SAMUJI
Samuji masuk ke
rumah itu dan mengumpulkan ke tiga penghuni rumah, dia meminta polisi yang tadi
berjaga untuk pergi, sehingga dirumah itu hanya ada mereka berlima. Samuji
berdiri sedangkan Minto duduk di sofa panjang
“Pak detektif,
kenapa lama sekali?” Bu Elis bertanya tidak sabar
“Aku mengumpulkan
kalian semua karena aku ingin membongkar kasus ini”
“Kamu sudah tahu
siapa pelakunya?”
“Ya, aku sudah
tahu”
“Siapa?” Minto
penasaran
“Tunggu, biarkan
aku menjelaskan. Mbak Narni, anda benci sekali dengan pak sugeng, karena dia
sangat keterlaluan, bahkan kadang melecehkan anda, kadang juga mengasari anda
hingga pada suatu malam dia melakukan sesuatu yang membuat anda berang..”
Samuji berhenti sejenak “..dia memperkosa anda” lanjutnya.
“Wow wow wow, dari
mana kamu tahu itu?” Minto bingung
“Seprei itu, disana
ada darah”
“Itu darah Sugeng
kan?”
“Bukan, itu darah
Narni, benarkan?”
“Iya”
“Jadi dia yang..”
“Lalu Mas Toni,
yang mempergoki ayahnya melakukan itu pada orang yang disukainya tidak terima
dan berkelahi dengan ayahnya, meskipun mabuk tapi ayahnya tidak bodoh, dia
memukul Toni dengan gelas, karena itu di kamar Narni ada pecahan gelas,
benarkan?”
“Ya” jawab Toni
tenang
“Lalu Bu Elis yang
coba melerai perkelahian kalian juga dipukul oleh pak sugeng, kalau kalian
lihat meskipun sudah memakai make up luka didekat bibirnya masih terlihat, anda
juga sakit hati terhadap pak sugeng, bukan karena dia menghianati anda, karena
dia memperkosa gadis yang disukai anaknya”
“Benar sekali
detektif” Bu Elis mengucapkannya dengan berat
“Samuji, jangan
muter-muter, siapa pembunuhnya?” Minto tidak sabar lagi dan ingin segera
mengetahuinya
“Pembunuhhya adalah
mereka bertiga”
Malam Itu
Pak Sugeng malam
itu pulang dalam keadaan mabuk berat, dia baru saja selesai melakukan
rutinitasnya, main judi dan mabuk. Ketika sampai dirumah dia melihat anak dan
istrinya di ruang tamu sedang menonton tv, sebenarnya keduanya juga enggan
bertanya kepada pak Sugeng namun Bu Elis tidak bisa menahan dirinya
“Pak, mabuk lagi?”
“Diam! Gak usah
ikut campur” Bu Elis sudah bisa memprediksi apa yang akan dikatakan suaminya,
namun tetap saja ingin bertanya, Sugeng lalu pergi ke dapur untuk mencari
minuman namun dia mencium bau yang enak, bukan makanan tapi parfum, dari kamar
Narni. Sugeng mendekat bau itu semakin wangi setiap kali dihirup, lalu Sugeng
membuka pintu itu, Narni yang tengah bersiap tidur terkejut, waktu itu dia
hanya menggunakan tengtop dan celana pendek, Sugeng melihatnya dengan sangat
bernafsu
“Ada apa pak?”
tanya Narni takut
“Enggak apa-apa,
jangan berteriak” seketika itu Sugeng mengunci pintu itu dan meraih mulut Narni
dengan tangan, dan kejadian itu pun terjadi. Narni coba berteriak namun
suaranya tidak bisa keluar, karena tertutup tangan Sugeng, tangisannya
menjadi-jadi berharap untuk diselamatkan
Toni merasa haus
dan pergi ke dapur untuk minum, ketika hendak membuka kulkas dia mendengar
suara dari kamar Narni, namun itu bukan suara Narni itu suara ayahnya. Suara
itu terdengar semakin lama semakin keras, Toni coba membuka pintu itu
“Buka, Ni buka!”
namun tidak ada jawaban, tak berselang lama suara ayahnya mengerang panjang,
Toni berinisiatif mendobrak pintu itu butuh sekitar 5 tendangan hingga akhirnya
pintu itu terbuka, pemandangan yang tidak ingin dia lihat terjadi, ayahnya
membenarkan resletingnya sementara Narni terbaring telanjang bulat
“Brengsek!!” Toni
menyerang ayahnya, pukulan yang dia layangkan mendarat di pipinya, ayahnya
seketika itu mengambil gelas dan membenturkannya ke kepala Toni, langsung saja
kepalanya berdarah, Toni pun mengerang kesakitan. Teriakkan Toni membuat Bu
Elis bergegas menuju dapur, begitu sampai disana betapa terkejutmya dia melihat
suami dan anaknya berkelahi, saat Sugeng hendak memukul Toni, Elis coba untuk
melerai perkelahian itu
“Mas, sudah mas.
Sudah”
“Diam kamu, tidak
lihat hah! Dia memukulku! Bapaknya!” Kata Sugeng sambil menunjukan pipinya
“Sudah mas sudah”
“Diam kamu” Sugeng
lalu menampar istrinya dan melemparnya jauh, mungkin sudah puas memukul atau
lelah Sugeng berbalik dan menuju kamarnya meninggalkan ketiga orang yang
kesakitan itu. Narni segera berpakaian dan memperban kepala Toni serta
mengambilkan es untuk mengompres luka Bu Elis
“Biadab” Bu Elis
membuka suara
“Kali ini bapak
sudah keterlaluan” Kata Toni sambil memegangi kepalanya, Bu Elis memperhatikan
anaknya yang tengah kesakitan dengan mata berkaca-kaca, lalu berbicara dengan
nada serak
“Ayo kita bunuh
dia” Narni dan Toni saling menatap dengan ekspresi kaget
“Apa buk?”
“Ayo kita bunuh
dia” ulangnya “Ibuk sudah muak”
“Baiklah buk”
“Narni bagaimana?”
Narni tidak bersuara hanya bisa mengangguk pelan “Oke, jadi pertama-tama Toni
bius dia, setelah itu kita bunuh dia”
“Dibunuh pake apa
buk?”
“Pisau saja”
“Aku yang pertama
nusuk” Narni akhirnya bersuara, keduanya pun mengangguk, setelah semua
direncanakan mereka bergerak menjalankan aksi mereka, Toni mengambil serbet dan
memberinya obat bius. Ketiganya naik ke lantai 2 dengan pikiran yang
melayang-layang, apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mereka akan
dipenjara? Itu urusan belakangan, yang terpenting membunuh si keparat itu, Toni
membuka pintu itu perlahan terlihat ayahnya tengah duduk di kursi dan menghadap
ke jendela, saat pintu dibuka dia otomatis berbalik dan melihat Toni.
“Ada apa Ton?”
“Tidak ada apa-apa”
“Maafkan bapak ya,
bapak keterlaluan” Toni tidak menjawab matanya berkaca-kaca dan seketika itu
juga meraih kepala Sugeng dan meletakkan serbet itu di hidungnya, Sugeng juga
tidak tinggal diam, dia mencoba melawan namun kesadarannya yang mulai
menghilang membuatnya tak berdaya, beberapa detik kemudian Sugeng sudah tidak
bergerak, saat itulah Narni dan Bu Elis masuk ke kamar dan membunuh Sugeng,
Narni menusuk sugeng dengan sangat dalam di bagian perut pisau itu diberikan ke
Toni kemudian menusuk Sugeng dibagiang dada dan Elis menusuk Sugeng dibagian
jantung, tidak puas dengan satu tusukkan Elis menusuk lagi di bagian perut,
sebenarnya dia ingin berhenti namun tanggannya bergerak sendiri dan menusuk
perut sugeng lagi, lagi dan lagi hingga akhirnya Toni menarik ibunya, air
matanya tak tertahankan dan terus menetes, malam itu mereka menjadi pembunuh.
Setelah cukup kuat mengendalikan dirinya Elis menyuruh Narni mencuci seprei
dikamarnya dan tidur di ruang tamu, Elis juga menyuruh Toni membuang serbet itu
ke luar.
“Setelah ini
bagaimana?”
“Kita buang
mayatnya?”
“Jangan, kita
pura-pura saja kalau dia dibunuh orang, kita teriak minta tolong dan memanggil
polisi, kalau akting kita bagus tidak ada yang curiga kita pembunuhnya” Toni
keluar rumah minta tolong pada tetangga dan memanggil polisi
Masa Sekarang
Ketiganya bengong,
heran kenapa detektif ini bisa tau apa yang mereka lakukan, Minto juga sama
herannya
“Apa maksudmu
mereka bertiga pembunuhnya?” Minto bangkit dari kursinya
“Mereka
bersekongkol”
“Aku tidak percaya”
Minto menggeleng
“Tanyakan pada
mereka”
“Kamu tidak punya
bukti kejadian itu ji”
“Lihat belakang
kepala mas Toni masih ada bekas pertarungan anda semalam, lihat kondisi rumah
ini, tidak ada bekas dibuka paksa oleh orang luar, sudah jelas pelaku
pembunuhnya kalian bertiga”
“Hampir benar pak
detektif..” Bu Elis bersuara “..tapi ada satu kesalahan, akulah pembunuhnya..”
Samuji diam tidak mengerti “..mereka tidak tau apa-apa”
“Apa yang ibu
bicarakan?” Toni menatap ibunya
“Tangkap aku pak
polisi, aku yang mempunyai ide ini”
“Baiklah, Bu Elis
anda saya tahan” Narni dan Toni menghampiri Minto
“Jangan tahan ibu
saya, saya yang membiusnya harusnya saya yang ditahan”
“Saya yang pertama
menusuk pak sugeng, saya yang harus ditahan”
“Kumohon pak polisi
jangan tahan mereka, mereka masih muda dan punya masa depan, saya saja” Bu Elis
memohon sambil menangis
“Diam!” bentak
Samuji, semuanya pun terdiam “Bu Elis benar, biar dia yang ditahan, aku
menyuruh polisi yang tadi pergi supaya kalian semua tidak ditahan. Harus ada
yang ditahan untuk membebaskan yang lain”
“Kalau Bu Elis
ditahan dia akan dipecat dari sekolahnya, karena itu biar aku saja” Narni
memohon
“Tidak apa-apa ni,
saya yang bertanggung jawab” Bu Elis bangkit dari kursinya dan menyerahkan diri
ke Minto, dia memandangi keduanya lalu berkata “Sering-sering jenguk ibuk ya
Ton..” sambil tersenyum
Toni mengangguk
pelan
“..jaga Narni juga”
Toni kembali
mengangguk pelan
“..maafin ibuk ya”
Kali ini Toni
memeluk ibunya, narni juga, Samuji diam ditempatnya memandang ke luar jendela,
melihat Bu Elis seperti itu ia jadi teringat Ibunya.
Beberapa jam
kemudian
Setelah mengantar
Bu Elis ke polres Trengalek Minto dan Samuji pulang kerumah masing-masing.
Samuji mengambil Smartphonenya melihat kontak dan memulai panggilan, bunyi tut
tut itu terus berulang hingga akhirnya terdengar suara di ujung telepon
“Halo, Samuji”
Suara perempuan itu terdengar berat
“Buk, Samuji kangen” ucapnya dengan penuh kejujuran
dari hati terdalam, ditengah air mata yang menetes kasus ini pun ditutup.
Good job.. Lanjutkan��
BalasHapusDitunggu part 4