Kamis, 25 Mei 2017

PETUALANGAN DETEKTIF SAMUJI 3 - Malam Itu (Bab 4/4)

DETEKTIF SAMUJI


BAB 4


Samuji masuk ke rumah itu dan mengumpulkan ke tiga penghuni rumah, dia meminta polisi yang tadi berjaga untuk pergi, sehingga dirumah itu hanya ada mereka berlima. Samuji berdiri sedangkan Minto duduk di sofa panjang
“Pak detektif, kenapa lama sekali?” Bu Elis bertanya tidak sabar
“Aku mengumpulkan kalian semua karena aku ingin membongkar kasus ini”
“Kamu sudah tahu siapa pelakunya?”
“Ya, aku sudah tahu”
“Siapa?” Minto penasaran
“Tunggu, biarkan aku menjelaskan. Mbak Narni, anda benci sekali dengan pak sugeng, karena dia sangat keterlaluan, bahkan kadang melecehkan anda, kadang juga mengasari anda hingga pada suatu malam dia melakukan sesuatu yang membuat anda berang..” Samuji berhenti sejenak “..dia memperkosa anda” lanjutnya.
“Wow wow wow, dari mana kamu tahu itu?” Minto bingung
“Seprei itu, disana ada darah”
“Itu darah Sugeng kan?”
“Bukan, itu darah Narni, benarkan?”
“Iya”
“Jadi dia yang..”
“Lalu Mas Toni, yang mempergoki ayahnya melakukan itu pada orang yang disukainya tidak terima dan berkelahi dengan ayahnya, meskipun mabuk tapi ayahnya tidak bodoh, dia memukul Toni dengan gelas, karena itu di kamar Narni ada pecahan gelas, benarkan?”
“Ya” jawab Toni tenang
“Lalu Bu Elis yang coba melerai perkelahian kalian juga dipukul oleh pak sugeng, kalau kalian lihat meskipun sudah memakai make up luka didekat bibirnya masih terlihat, anda juga sakit hati terhadap pak sugeng, bukan karena dia menghianati anda, karena dia memperkosa gadis yang disukai anaknya”
“Benar sekali detektif” Bu Elis mengucapkannya dengan berat
“Samuji, jangan muter-muter, siapa pembunuhnya?” Minto tidak sabar lagi dan ingin segera mengetahuinya
“Pembunuhhya adalah mereka bertiga”

Malam Itu

Pak Sugeng malam itu pulang dalam keadaan mabuk berat, dia baru saja selesai melakukan rutinitasnya, main judi dan mabuk. Ketika sampai dirumah dia melihat anak dan istrinya di ruang tamu sedang menonton tv, sebenarnya keduanya juga enggan bertanya kepada pak Sugeng namun Bu Elis tidak bisa menahan dirinya
“Pak, mabuk lagi?”
“Diam! Gak usah ikut campur” Bu Elis sudah bisa memprediksi apa yang akan dikatakan suaminya, namun tetap saja ingin bertanya, Sugeng lalu pergi ke dapur untuk mencari minuman namun dia mencium bau yang enak, bukan makanan tapi parfum, dari kamar Narni. Sugeng mendekat bau itu semakin wangi setiap kali dihirup, lalu Sugeng membuka pintu itu, Narni yang tengah bersiap tidur terkejut, waktu itu dia hanya menggunakan tengtop dan celana pendek, Sugeng melihatnya dengan sangat bernafsu
“Ada apa pak?” tanya Narni takut
“Enggak apa-apa, jangan berteriak” seketika itu Sugeng mengunci pintu itu dan meraih mulut Narni dengan tangan, dan kejadian itu pun terjadi. Narni coba berteriak namun suaranya tidak bisa keluar, karena tertutup tangan Sugeng, tangisannya menjadi-jadi berharap untuk diselamatkan

Toni merasa haus dan pergi ke dapur untuk minum, ketika hendak membuka kulkas dia mendengar suara dari kamar Narni, namun itu bukan suara Narni itu suara ayahnya. Suara itu terdengar semakin lama semakin keras, Toni coba membuka pintu itu
“Buka, Ni buka!” namun tidak ada jawaban, tak berselang lama suara ayahnya mengerang panjang, Toni berinisiatif mendobrak pintu itu butuh sekitar 5 tendangan hingga akhirnya pintu itu terbuka, pemandangan yang tidak ingin dia lihat terjadi, ayahnya membenarkan resletingnya sementara Narni terbaring telanjang bulat
“Brengsek!!” Toni menyerang ayahnya, pukulan yang dia layangkan mendarat di pipinya, ayahnya seketika itu mengambil gelas dan membenturkannya ke kepala Toni, langsung saja kepalanya berdarah, Toni pun mengerang kesakitan. Teriakkan Toni membuat Bu Elis bergegas menuju dapur, begitu sampai disana betapa terkejutmya dia melihat suami dan anaknya berkelahi, saat Sugeng hendak memukul Toni, Elis coba untuk melerai perkelahian itu
“Mas, sudah mas. Sudah”
“Diam kamu, tidak lihat hah! Dia memukulku! Bapaknya!” Kata Sugeng sambil menunjukan pipinya
“Sudah mas sudah”
“Diam kamu” Sugeng lalu menampar istrinya dan melemparnya jauh, mungkin sudah puas memukul atau lelah Sugeng berbalik dan menuju kamarnya meninggalkan ketiga orang yang kesakitan itu. Narni segera berpakaian dan memperban kepala Toni serta mengambilkan es untuk mengompres luka Bu Elis
“Biadab” Bu Elis membuka suara
“Kali ini bapak sudah keterlaluan” Kata Toni sambil memegangi kepalanya, Bu Elis memperhatikan anaknya yang tengah kesakitan dengan mata berkaca-kaca, lalu berbicara dengan nada serak
“Ayo kita bunuh dia” Narni dan Toni saling menatap dengan ekspresi kaget
“Apa buk?”
“Ayo kita bunuh dia” ulangnya “Ibuk sudah muak”
“Baiklah buk”
“Narni bagaimana?” Narni tidak bersuara hanya bisa mengangguk pelan “Oke, jadi pertama-tama Toni bius dia, setelah itu kita bunuh dia”
“Dibunuh pake apa buk?”
“Pisau saja”
“Aku yang pertama nusuk” Narni akhirnya bersuara, keduanya pun mengangguk, setelah semua direncanakan mereka bergerak menjalankan aksi mereka, Toni mengambil serbet dan memberinya obat bius. Ketiganya naik ke lantai 2 dengan pikiran yang melayang-layang, apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mereka akan dipenjara? Itu urusan belakangan, yang terpenting membunuh si keparat itu, Toni membuka pintu itu perlahan terlihat ayahnya tengah duduk di kursi dan menghadap ke jendela, saat pintu dibuka dia otomatis berbalik dan melihat Toni.
“Ada apa Ton?”
“Tidak ada apa-apa”
“Maafkan bapak ya, bapak keterlaluan” Toni tidak menjawab matanya berkaca-kaca dan seketika itu juga meraih kepala Sugeng dan meletakkan serbet itu di hidungnya, Sugeng juga tidak tinggal diam, dia mencoba melawan namun kesadarannya yang mulai menghilang membuatnya tak berdaya, beberapa detik kemudian Sugeng sudah tidak bergerak, saat itulah Narni dan Bu Elis masuk ke kamar dan membunuh Sugeng, Narni menusuk sugeng dengan sangat dalam di bagian perut pisau itu diberikan ke Toni kemudian menusuk Sugeng dibagiang dada dan Elis menusuk Sugeng dibagian jantung, tidak puas dengan satu tusukkan Elis menusuk lagi di bagian perut, sebenarnya dia ingin berhenti namun tanggannya bergerak sendiri dan menusuk perut sugeng lagi, lagi dan lagi hingga akhirnya Toni menarik ibunya, air matanya tak tertahankan dan terus menetes, malam itu mereka menjadi pembunuh. Setelah cukup kuat mengendalikan dirinya Elis menyuruh Narni mencuci seprei dikamarnya dan tidur di ruang tamu, Elis juga menyuruh Toni membuang serbet itu ke luar.
“Setelah ini bagaimana?”
“Kita buang mayatnya?”
“Jangan, kita pura-pura saja kalau dia dibunuh orang, kita teriak minta tolong dan memanggil polisi, kalau akting kita bagus tidak ada yang curiga kita pembunuhnya” Toni keluar rumah minta tolong pada tetangga dan memanggil polisi

Masa Sekarang

Ketiganya bengong, heran kenapa detektif ini bisa tau apa yang mereka lakukan, Minto juga sama herannya
“Apa maksudmu mereka bertiga pembunuhnya?” Minto bangkit dari kursinya
“Mereka bersekongkol”
“Aku tidak percaya” Minto menggeleng
“Tanyakan pada mereka”
“Kamu tidak punya bukti kejadian itu ji”
“Lihat belakang kepala mas Toni masih ada bekas pertarungan anda semalam, lihat kondisi rumah ini, tidak ada bekas dibuka paksa oleh orang luar, sudah jelas pelaku pembunuhnya kalian bertiga”
“Hampir benar pak detektif..” Bu Elis bersuara “..tapi ada satu kesalahan, akulah pembunuhnya..” Samuji diam tidak mengerti “..mereka tidak tau apa-apa”
“Apa yang ibu bicarakan?” Toni menatap ibunya
“Tangkap aku pak polisi, aku yang mempunyai ide ini”
“Baiklah, Bu Elis anda saya tahan” Narni dan Toni menghampiri Minto
“Jangan tahan ibu saya, saya yang membiusnya harusnya saya yang ditahan”
“Saya yang pertama menusuk pak sugeng, saya yang harus ditahan”
“Kumohon pak polisi jangan tahan mereka, mereka masih muda dan punya masa depan, saya saja” Bu Elis memohon sambil menangis
“Diam!” bentak Samuji, semuanya pun terdiam “Bu Elis benar, biar dia yang ditahan, aku menyuruh polisi yang tadi pergi supaya kalian semua tidak ditahan. Harus ada yang ditahan untuk membebaskan yang lain”
“Kalau Bu Elis ditahan dia akan dipecat dari sekolahnya, karena itu biar aku saja” Narni memohon
“Tidak apa-apa ni, saya yang bertanggung jawab” Bu Elis bangkit dari kursinya dan menyerahkan diri ke Minto, dia memandangi keduanya lalu berkata “Sering-sering jenguk ibuk ya Ton..” sambil tersenyum
Toni mengangguk pelan
“..jaga Narni juga”
Toni kembali mengangguk pelan
“..maafin ibuk ya”
Kali ini Toni memeluk ibunya, narni juga, Samuji diam ditempatnya memandang ke luar jendela, melihat Bu Elis seperti itu ia jadi teringat Ibunya.

Beberapa jam kemudian

Setelah mengantar Bu Elis ke polres Trengalek Minto dan Samuji pulang kerumah masing-masing. Samuji mengambil Smartphonenya melihat kontak dan memulai panggilan, bunyi tut tut itu terus berulang hingga akhirnya terdengar suara di ujung telepon
“Halo, Samuji” Suara perempuan itu terdengar berat
“Buk, Samuji kangen” ucapnya dengan penuh kejujuran dari hati terdalam, ditengah air mata yang menetes kasus ini pun ditutup.

1 komentar: