PETUALANGAN DETEKTIF SAMUJI 3
MALAM ITU
“Katanya kalau
Bakar kamus bahasa inggris
Lalu abunya diminum
Kita bisa lancar berbahasa inggris”
DETEKTIF SAMUJI
BAB 1
“Lima mendatar, 4 huruf ibukota Italia, Roma”
Samuji lalu mengisi TTS itu dengan yakin, ketika sedang bosan memang paling
menyenangkan melakukan sesuatu yang bisa membuat kita berpikir, setidaknya
itulah yang dipikirkan Samuji, walau kadang ketika bosan dia juga acap kali
main game online seperti Mobil Legen[1].
Dia seperti ini karena belakangan tidak ada kasus yang seru, Minto juga sudah
jarang main ke rumah mungkin sibuk pdkt dengan perawat rumah sakit itu.
“1 Menurun, 3 huruf Singkatan palang merah Indonesia, PMI”
Tak terasa TTS itu sudah terjawab semua, Samuji meletakkan pulpennya lalu
menyalakan tv dan menonton berita, ada anak kecil mengalami sakit perut karena
minum air yang dicampur abu kamus bahasa inggris yang dibakar. Samuji tersenyum
geli melihatnya
“Bodoh, kalau mau pintar bahasa inggris belajar, bukan
pakai jalan pintas” Katanya lalu pindah ke channel tv lain, namun yang
ditemuinya hanya acara gosip, mending kalau beritanya bagus, isinya nggak
penting, seperti perceraian pasangan suami istri muda, lagian bego masih muda
sudah nikah, Samuji menentang nikah muda karena menurutnya anak muda masih
harus bergaul dengan temannya dan mungkin belum siap dengan sebuah komitmen
yang besar apalagi yang laki-laki masih kuliah di luar negeri belum bisa
menafkahi istrinya dan sekarang mau cerai, kan kasihan yang perempuan masih
muda tapi harus menjadi seorang janda. Samuji beralih ke channel lain ada
animasi tv untuk anak yang bagus tapi sayang buatan luar negeri, ia memencet
tombol lain di channel itu ada drama india Samuji benci serial india tidak ada
alasan khusus, hanya tidak suka saja, satu demi satu channel dia lihat namun
tidak ada yang menarik, ditengah kebosanannya ada seorang tamu yang datang ke
rumahnya.
“Samuji” Panggil Minto dari luar
“Masuk” Samuji antusias, Minto masuk ke dalam rumah itu,
rumah itu dalam keadaan bersih sepertinya baru dibersihkan, ada tts diatas meja
dan channel tv yang berubah-ubah, temannya sedang bosan.
“Wah wah wah lagi ngapain?”
“Kesel, masak ada berita anak kecil minum air yang
dicampur abu kamus bahasa inggris yang dibakar, katanya biar pinter bahasa
inggris, kan bego”
“Bukannya dulu kamu juga begitu”
“Begitu gimana?”
“Bakar kamus bahasa arab lalu abunya diminum bar bisa
pinter bahasa arab”
“Ya tapi kan diimbangi dengan belajar”
“Ya ya ya”
“Kalau kamu kesini pasti ada yang menarik”
“Benar, tadi malam ditemukan seorang pria berumur 40an
tahun bernama Sugeng meninggal dengan luka tusuk”
“Dia dibunuh?”
“Melihat banyaknya luka tusuk yang dia alami, ya, dia
dibunuh” Samuji diam sejenak meletakkan ibu jarinya dibawah dagu dan jari
telunjuknya di bibir
“Ada pesan kematian seperti kasus Asih?”
“Sayangnya tidak”
“Bagus, kalau kasusnya sama aku bisa bosan” Samuji
tersenyum
“Jadi?”
“Ayo kita kesana” Samuji bersemangat
“Sebentar, aku mau ngomong soal koharu”
“Kenapa dia?”
“Kalau aku nembak dia, dia mau nggak ya?”
“Nggak tau, ngomong aja, kalau diterima bagus kalau
ditolak ya bagus biar nggak berharap terus” Samuji lalu tertawa terbahak-bahak
“Asu”
“Lagian ya, kalian itu kurang cocok, yang satu cantik
yang satu..”
“Yang satu apa? Jelek?”
“Bagus kalau kamu tau”
“Ya nggak apa-apa dong, siapa tau dia tipe yang menerima
apa adanya”
“Celeh” pandangan Samuji beralih ke jendela dengan
tatapan kosong, Minto kemudian tertawa, sakit hati bisa membuat kita kehilangan
kepercayaan ya
“Oh iya, besok koharu ngajak kita kerumahnya, nonton
film”
“The Dark Knight bukan?”
“Bukan, Moana”
“Film bocah, bahkan gak semua bocah nonton itu, cuma yang
cewek”
“Enggak-enggak, nonton Interstellar”
“Bagus, ibunya Koharu punya selera bagus”
“Emang kamu sudah nonton? Di Trenggalek kan nggak ada
bioskop”
“Ya beli yang Blu-ray lah, pemerintah daerah kurang
cerdas, padahal kan bisa nambah pemasukkan daerah, bego banget kalau cuma
ngandelin pemasukkan dari pantai-pantai disini”
“Kenapa? Bukannya pantai disini bagus-bagus”
“Semua kota di pesisir selatan jawa punya pantai, dan
akses kesini yang paling sulit, ke malang mudah, tulungagung mudah, blitar
mudah”
“Kenapa nggak kamu aja yang jadi bupati?”
“Kalau mau magang kan harus punya uang, tanpa uang cuma
bisa mimpi” Samuji bangkit dari kursinya mengambil mantel panjangnya, minto
masih diam melihat temannya, dia tidak diberi minum?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar