Jumat, 28 April 2017

PETUALANGAN DETEKTIF SAMUJI 2 - ASIH (Bab 5)


DETEKTIF SAMUJI


BAB 5



Adi mengingat ingat lagi kejadian sore itu, istrinya cek kandungan di klinik yang mereka biasa datangi di daerah timur hotel Widowan, prosedur standar seperti helm mereka gunakan Asih juga menggunakan jaket karena udara cukup dingin baginya. Saat sampai di lampu merah mereka berhenti.
“Mas kata dokter mulai sekarang aku harus banyak istirahat”
“Ya sudah berhenti dulu menjahitnya, biar nggak terlalu capek”
“Siap bos” katanya sambil menaruh tangan kirinya dalam posisi hormat, keduanya tertawa, saat lampu hijau mereka lalu belok kiri ke arah rumah namun ditabrak dari belakang seketika keduanya jatuh kaki Adi kejatuhan sepeda motor sehingga tidak bisa bangun untuk menolong asih, sedangkan dalam ingatannya asih menangis dan memanggil-manggil namanya, keduanya pun dibawa ke RS Widyawati untuk dirawat . Adi hanya luka ringan sehingga langsung bisa berjalan ke ruangan Asih meskipun dokter melarangnya, asih berada di UGD ia bisa melihatnya dari pintu, istrinya harus bernafas lewat tabung oksigen, setelah menstabilkan kondisi asih dokter keluar ruangan beserta asistennya, adi langsung menghampiri mereka
“Dok, bagaimana istri saya?”
“Kondisinya sudah stabil”
“Alhamdulilah” adi bisa bernafas lega
“Kami akan berusaha semampu kami”
“Ibu asih akan baik-baik saja” si asisten menambahkan dengan bahasa indonesia yang maksa
“Boleh saya masuk?”
“Sementara belum boleh, nanti setelah dipindahkan boleh anda jenguk” Adi berdiri didepan pintu semalaman memandangi istrinya yang tidur dengan perasaan cemas “kamu pasti bisa melewati ini sayang” meskipun suara hatinya tidak bisa didengar olehnya dia pasti memahami perasaannya. Pagi itu setelah kondisinya stabil asih dipindahkan ke kamar biasa, kali ini asih sudah bisa dijenguk namun masih harus bernafas dengan tabung oksigen. Adi memegang erat tangan istrinya, berusaha menguatkannya, semalaman tidak tidur membuat adi sangat ngantuk ia kemudian terlelap di samping istrinya dengan posisi duduk dan tangan yang masih memegang erat tangan asih tiba-tiba tangan itu bergerak seketika itu juga Adi bangun dan melihat wajah istrinya dia tersenyum, asih ikut tersenyum.
“Mas, aku mau istirahat” suaranya tidak terlalu jelas terdengar
“Iya, nanti sampai dirumah kamu tidak perlu memasak, tidak perlu menjahit, tidak perlu mencuci, biar aku yang mengerjakan semuanya”
“Aku mau istirahat” kata asih pelan sambil memandang suaminya
“Iya, kamu mau tidur sekarang?”
“Waktuku sudah tiba mas”
“Apa? Kamu ngomong apa dek?” Adi bingung
“A..ku Saa..” Asih hendak bicara dengan terbata-bata matanya melihat adi
“Apa dek?”
“..yang Kaa..mu” Asih tersenyum
“Dek”
“Mas” kepala Asih kemudian terjatuh ke samping dengan mata yang terbuka
“Dek?” Adi memanggilnya namun tidak ada jawaban
“Dek?” ulang Adi, sesutu yang buruk tengah terjadi
“DOKTER!!!!!!” Teriak Adi sangat keras, dokter yang kemarin menanganinya datang bersama beberapa asistennya, setelah memeriksanya dokter menatap adi dan berkata
“Mbak asih sudah pergi”
“Apa?”
“Tidak ada yang bisa kami lakukan sekarang”
“Bohong” adi memegang kerah dokter itu “Katakan dia bisa diselamatkan” adi mengucapkannya dengan air mata yang bercucuran
“Baiklah, aku akan mengatakannya, jika itu bisa membuatmu lebih baik” adi melepaskannya dan menangis sejadi-jadinya hingga terjatuh dilantai
“Dancok..dancok..DANCOK!” adi bangkit “Aku tahu, ini cuma sandiwara, kalian dan asih bersekongkol” adi beralih ke asih menunjuk istrinya sambil menangis “Mana mungkin dia mati!!”
“Satpam” dokter prapto memanggil satpam untuk mengeluarkan adi dari ruangan, 2 orang satpam lalu datang “bawa dia keluar dari sini” setelah keluar adi tidak berhenti malah semakin menjadi-jadi, ketika melihat langit adi mulai berteriak
“Hoe Allah, kenapa kau ambil istriku? Kenapa?” Adi menelan ludahnya
“HOE DENGER NGGAK SIH? JAWAB!”
“Kenapa..KENAPA?!!” Amukan Adi yang semakin menjadi-jadi membuat satpam harus memukulnya, untuk membuatnya pingsan.

Adi membuka matanya, menyeka air mata yang jatuh perlahan lalu menekan tombol bom, ledakan besar terjadi di lantai 3, lalu berbalik dan melihat koharu, koharu diam ditempat melihatnya dengan tatapan takut
“Kau bilang istriku akan baik-baik saja” Adi memasukkan amunisi ke pistolnya
“Kondisinya sudah stabil waktu itu”
“Bohong!” Adi berteriak
“Tidak..”
“Diam” bentak Adi “Kamu juga harus mati” Adi menodongkan pistol ke arah koharu yang sedang ketakutan

Ketika Minto dan Samuji tiba di RS lantai 1, 2 dan 3 sudah terbakar
“Kita terlambat” Minto berusara
“Kita bantu mengangkat pasien ini”
Samuji bergegas membantu mengangkat beberapa pasien ke tempat aman, Minto melihat sekeliling mencari Koharu, namun tidak ada, ia lalu bertanya pada seorang suster di dekatnya
“Suster, koharu dimana ya?”
“Koharu? Tadi dia bersama seorang pria naik lift sebelum bom meledak”
“Naik lift?”
“Ah maaf, maksudnya masuk lift, ke atas atau kebawahnya nggak tau”
“Dia keatas” Samuji tiba-tiba ikut ngomong
“Tau darimana?” Suster penasaran
“Ya kalau dia turun pasti ada disekitar sini”
“Oh iya hehe” suster itu terkekeh lucu
“Haha hehe, tak slentik teko jabalakat kenter[1] kapok” Samuji sedikit emosi
“Kalau gitu ayo kita naik”
“Bodoh, apinya besar lagian liftnya mati”
“Tangga, kita sudah kecolongan di sumberdadi, rejowinangun dan rumah sakit, satu orang lagi meninggal anggap itu aib untuk kita”
“Baiklah” keduanya berlari masuk ke rumah sakit yang terbakar itu
Lantai satu sudah cukup padam apinya, pemadam kebakaran mekakukan kerja bagus, tangga menuju lantai dua mulai terasa panas keduanya menutup mulut untuk menghindari asap masuk ke tubuh mereka, karena kepanasan larian mereka semakin kencang ketika memasuki lantai tiga, lantai empat masih belum terbakar, ledakan itu belum sampai ke lantai 4 mungkin, lantai 5 juga masih aman lantai 6 dan 7 berhasil dilewati hingga akhirnya mereka tiba di atap, ketika sampai mereka melihat koharu di todong pistol, keduanya pun langsung berlari ke arahnya namun berhenti ketika koharu dicekik dengan tangan oleh adi dan kepalanya ditodong pistol
“Angkat tangan” perintah adi “ANGKAT TANGAN!” ulangnya dengan berteriak, keduanya pun menurut
“Hey, ini bisa diselesaikan dengan baik-baik” Samuji coba menenangkan adi
“Ini hanya bisa diselesaikan dengan kematian”
“Kematian bukan solusi, aku juga yakin asih tidak akan mau kau melakukan ini” Minto bersuara, Samuji
“Apa kau bilang?”
“Asih tidak akan mau kau melakukan ini”
“Ini bukan apa yang dia inginkan, ini tentang keadilan”
“Ini bukan keadilan, ini balas dendam”
“Aku menghukum mereka yang bersalah, sigit yang menerobos lalu lintas, prapto bangsat yang tidak bekerja dengan baik dan wanita ini pembohong yang bilang dia akan baik-baik saja”
“Sigit memang salah tapi dia harus diadili bukan dibunuh, dan dr. Prapto dan koharu pasti sudah melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan” Samuji membalas
“Benar” Minto bersuara, Adi kehilangan kesabaran dan bersiap menembak
“Mati perempuan bangsat”
“JANGAN TEMBAK DIA, JIKA KAU INGIN MENEMBAK TEMBAK AKU!!” Minto berteriak, koharu memperhatikannya dengan air mata bercucuran
“Ya betul tembak dia” Samuji menunjuk Minto, mereka berdua saling menatap, Minto heran sementara Samuji tersenyum simpul
“Oh, lihat dia berani mati demi kamu, bagaimana menurutmu? Kau atau Dia yang harus mati?” Koharu menutup matanya sambil menggeleng “Baiklah 2 lawan 1, si kumis akan mati” Adi bersiap menarik pelatuknya, minto menutup matanya, ketika terdengar bunyi tembakan seketika itu juga Samuji menendang wajah Minto dengan kaki kanannya, kakinya tertembak dia langsung berputar dan berlari ke arah Adi yang bersiap menembaknya samuji melompat dan memegang ujung senapan dengan tangannya saat adi menarik pelatuknya peluru itu bersarang di tangan Samuji
“Ah!” erangnya
Samuji menyikut kepala adi hingga berjalan mundur dan melepaskan koharu, samuji terus menyerang adi, tendangan kaki kanannya berhasil mengenai kepala adi, bergantian dengan kaki kirinya, tangan kanannya meninju hidung adi diakhiri dengan tinjuan tangan kirinya, Minto menghampiri mereka dan memborgol tangan adi yang tak sadarkan diri
“Kasus selesai” kata Minto
“Ya” kata samuji berat, nafasnya terengah-engah menahan sakit “Beri sinyal agar pemadam kebakaran mengevakausi kita” Minto kali ini menurut dan menyalakan senter hpnya, beberapa menit kemudian dari lantai bawah berdatangan beberapa pemadam, api di lantai 1, 2 dan 3 pun sudah dipadamkan.

Beberapa saat kemudian

Di bawah banyak orang dan wartawan, mereka ingin tau siapa yang menangkap pelaku pengeboman dan pemnbunuh berantai ini, namun Samuji enggan diwawancara ia sibuk mengeluarkan dua peluru yang bersarang ditubuhnya dibantu oleh koharu
“Mereka ingin mewawancaraimu”
“Aku nggak minat, kamu saja, bilang kalau kamu yang menangkap adi”
“Mana bisa begitu”
“Bisa, juga bilang kalau kamu yang dobrak pintu rumahnya”
“Asu” Minto berjalan menemui wartawan dia menuruti permintaan samuji kali ini
“Bripda Minto apakah anda yang menangkap adi?”
“Bagaimana rasanya menjadi pahlawan?” hanya itu yang minto dengar, karena banyak pertanyaan yang ditujukan padanya, minto pun bersuara
“Mohon maaf, aku bukanlah orang yang menangkap adi..” senuanya diam “..disini ada pahlawan yang tidak ingin disebutkan namanya, orang paling ikhlas yang saya kenal, membantu saya tanpa pamrih, tanpa berharap kita untuk membalas kebaikannya, seseorang yang bahkan tidak ingin kita tahu siapa dia, jika kalian ingin berterima kasih mari tepuk tangan untuknya” semua wartawan, polisi, pemadam kebakaran dan pasien bertepuk tangan, samuji juga ikut berepuk tangan.
“Kamu luar biasa” Kata Koharu sambil tepuk tangan
“Biasa” Samuji mungkin bilang biasa namun wajahnya memancarkan kebahagiaan saat dipuji, beberapa saat kemudian setelah orang-orang bubar suasana menjadi tenang, Koharu mendekati Minto yang sedang menyendiri dibawah pohon beringin
“Terima kasih ya”
“Untuk apa?”
Kalau kau ingin menembak tembak aku, itu sangat berani”
“Polisi harus mengayomi masyarakat” Wajah Minto berubah merah
“Aku gak tau gimana membalas kebaikan kamu”
“Kita bisa notnon kapan-kapan” Minto antusias
“Eh?” Koharu kaget
“Maksud aku.. Anu..”
“Kamu suka film apa? Ibu aku punya koleksi dvd dirumah” Koharu tersenyum malu
“Apa aja yang action”
“Kalau Dunkirk gimana?”
“Boleh”
“Kalau The Dark Knight ada?” Samuji ikut ngomong dari belakang
“Ah!” Koharu kaget sambil memegangi dadanya
“Jangan ngagetin orang” Protes Minto
“Masak mau nonton berdua” Ganti Samuji yang protes
“Merusak suasana aja, mana mungkin ibunya koharu punya film itu”
“Iya, ada kok, kebetulan ibu aku fans Christopher Nolan. Kapan-kapan kita nonton bertiga” Koharu melempar senyum kearah keduanya, Samuji bersorak bahagia sedangkan Minto menggelengkan kepala
“Oh iya to, anterin aku pulang” Pinta Samuji
“Oke, ya sudah ya Koharu, aku mau nganter si kampret pulang”
“Iya hati-hati, sekali lagi terima kasih banyak” Mereka berdua pun pulang ke rumah masing-masing, koharu melambaikan tangannya sambil tersenyum, dia berharap semoga dia bisa bertemu dengannya lagi, eh.

Ketika sampai di rumahnya Samuji heran daerah rumahnya gelap tidak ada lampu yang menyala hanya ada lilin dan senter di beberapa rumah tetangga, ia mengingat-ingat lagi kejadian tadi pagi lalu tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. Kasus ditutup.



[1] “Saya pukul terhempas sampai ujung dunia..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar