DETEKTIF SAMUJI
BAB 5
Adi mengingat ingat
lagi kejadian sore itu, istrinya cek kandungan di klinik yang mereka biasa
datangi di daerah timur hotel Widowan, prosedur standar seperti helm mereka
gunakan Asih juga menggunakan jaket karena udara cukup dingin baginya. Saat
sampai di lampu merah mereka berhenti.
“Mas kata dokter
mulai sekarang aku harus banyak istirahat”
“Ya sudah berhenti
dulu menjahitnya, biar nggak terlalu capek”
“Siap bos” katanya
sambil menaruh tangan kirinya dalam posisi hormat, keduanya tertawa, saat lampu
hijau mereka lalu belok kiri ke arah rumah namun ditabrak dari belakang
seketika keduanya jatuh kaki Adi kejatuhan sepeda motor sehingga tidak bisa
bangun untuk menolong asih, sedangkan dalam ingatannya asih menangis dan
memanggil-manggil namanya, keduanya pun dibawa ke RS Widyawati untuk dirawat .
Adi hanya luka ringan sehingga langsung bisa berjalan ke ruangan Asih meskipun
dokter melarangnya, asih berada di UGD ia bisa melihatnya dari pintu, istrinya
harus bernafas lewat tabung oksigen, setelah menstabilkan kondisi asih dokter
keluar ruangan beserta asistennya, adi langsung menghampiri mereka
“Dok, bagaimana
istri saya?”
“Kondisinya sudah
stabil”
“Alhamdulilah” adi
bisa bernafas lega
“Kami akan berusaha
semampu kami”
“Ibu asih akan
baik-baik saja” si asisten menambahkan dengan bahasa indonesia yang maksa
“Boleh saya masuk?”
“Sementara belum
boleh, nanti setelah dipindahkan boleh anda jenguk” Adi berdiri didepan pintu
semalaman memandangi istrinya yang tidur dengan perasaan cemas “kamu pasti bisa
melewati ini sayang” meskipun suara hatinya tidak bisa didengar olehnya dia
pasti memahami perasaannya. Pagi itu setelah kondisinya stabil asih dipindahkan
ke kamar biasa, kali ini asih sudah bisa dijenguk namun masih harus bernafas
dengan tabung oksigen. Adi memegang erat tangan istrinya, berusaha
menguatkannya, semalaman tidak tidur membuat adi sangat ngantuk ia kemudian
terlelap di samping istrinya dengan posisi duduk dan tangan yang masih memegang
erat tangan asih tiba-tiba tangan itu bergerak seketika itu juga Adi bangun dan
melihat wajah istrinya dia tersenyum, asih ikut tersenyum.
“Mas, aku mau
istirahat” suaranya tidak terlalu jelas terdengar
“Iya, nanti sampai
dirumah kamu tidak perlu memasak, tidak perlu menjahit, tidak perlu mencuci,
biar aku yang mengerjakan semuanya”
“Aku mau istirahat”
kata asih pelan sambil memandang suaminya
“Iya, kamu mau
tidur sekarang?”
“Waktuku sudah tiba
mas”
“Apa? Kamu ngomong
apa dek?” Adi bingung
“A..ku Saa..” Asih
hendak bicara dengan terbata-bata matanya melihat adi
“Apa dek?”
“..yang Kaa..mu”
Asih tersenyum
“Dek”
“Mas” kepala Asih
kemudian terjatuh ke samping dengan mata yang terbuka
“Dek?” Adi
memanggilnya namun tidak ada jawaban
“Dek?” ulang Adi,
sesutu yang buruk tengah terjadi
“DOKTER!!!!!!”
Teriak Adi sangat keras, dokter yang kemarin menanganinya datang bersama
beberapa asistennya, setelah memeriksanya dokter menatap adi dan berkata
“Mbak asih sudah
pergi”
“Apa?”
“Tidak ada yang
bisa kami lakukan sekarang”
“Bohong” adi
memegang kerah dokter itu “Katakan dia bisa diselamatkan” adi mengucapkannya
dengan air mata yang bercucuran
“Baiklah, aku akan
mengatakannya, jika itu bisa membuatmu lebih baik” adi melepaskannya dan menangis
sejadi-jadinya hingga terjatuh dilantai
“Dancok..dancok..DANCOK!”
adi bangkit “Aku tahu, ini cuma sandiwara, kalian dan asih bersekongkol” adi
beralih ke asih menunjuk istrinya sambil menangis “Mana mungkin dia mati!!”
“Satpam” dokter
prapto memanggil satpam untuk mengeluarkan adi dari ruangan, 2 orang satpam
lalu datang “bawa dia keluar dari sini” setelah keluar adi tidak berhenti malah
semakin menjadi-jadi, ketika melihat langit adi mulai berteriak
“Hoe Allah, kenapa
kau ambil istriku? Kenapa?” Adi menelan ludahnya
“HOE DENGER NGGAK
SIH? JAWAB!”
“Kenapa..KENAPA?!!”
Amukan Adi yang semakin menjadi-jadi membuat satpam harus memukulnya, untuk
membuatnya pingsan.
Adi membuka
matanya, menyeka air mata yang jatuh perlahan lalu menekan tombol bom, ledakan
besar terjadi di lantai 3, lalu berbalik dan melihat koharu, koharu diam
ditempat melihatnya dengan tatapan takut
“Kau bilang istriku
akan baik-baik saja” Adi memasukkan amunisi ke pistolnya
“Kondisinya sudah
stabil waktu itu”
“Bohong!” Adi
berteriak
“Tidak..”
“Diam” bentak Adi
“Kamu juga harus mati” Adi menodongkan pistol ke arah koharu yang sedang
ketakutan
Ketika Minto dan
Samuji tiba di RS lantai 1, 2 dan 3 sudah terbakar
“Kita terlambat”
Minto berusara
“Kita bantu
mengangkat pasien ini”
Samuji bergegas
membantu mengangkat beberapa pasien ke tempat aman, Minto melihat sekeliling
mencari Koharu, namun tidak ada, ia lalu bertanya pada seorang suster di
dekatnya
“Suster, koharu
dimana ya?”
“Koharu? Tadi dia
bersama seorang pria naik lift sebelum bom meledak”
“Naik lift?”
“Ah maaf, maksudnya
masuk lift, ke atas atau kebawahnya nggak tau”
“Dia keatas” Samuji
tiba-tiba ikut ngomong
“Tau darimana?”
Suster penasaran
“Ya kalau dia turun
pasti ada disekitar sini”
“Oh iya hehe”
suster itu terkekeh lucu
“Haha hehe, tak
slentik teko jabalakat kenter[1]
kapok” Samuji sedikit emosi
“Kalau gitu ayo
kita naik”
“Bodoh, apinya
besar lagian liftnya mati”
“Tangga, kita sudah
kecolongan di sumberdadi, rejowinangun dan rumah sakit, satu orang lagi
meninggal anggap itu aib untuk kita”
“Baiklah” keduanya
berlari masuk ke rumah sakit yang terbakar itu
Lantai satu sudah
cukup padam apinya, pemadam kebakaran mekakukan kerja bagus, tangga menuju
lantai dua mulai terasa panas keduanya menutup mulut untuk menghindari asap
masuk ke tubuh mereka, karena kepanasan larian mereka semakin kencang ketika
memasuki lantai tiga, lantai empat masih belum terbakar, ledakan itu belum
sampai ke lantai 4 mungkin, lantai 5 juga masih aman lantai 6 dan 7 berhasil
dilewati hingga akhirnya mereka tiba di atap, ketika sampai mereka melihat
koharu di todong pistol, keduanya pun langsung berlari ke arahnya namun
berhenti ketika koharu dicekik dengan tangan oleh adi dan kepalanya ditodong
pistol
“Angkat tangan”
perintah adi “ANGKAT TANGAN!” ulangnya dengan berteriak, keduanya pun menurut
“Hey, ini bisa
diselesaikan dengan baik-baik” Samuji coba menenangkan adi
“Ini hanya bisa
diselesaikan dengan kematian”
“Kematian bukan
solusi, aku juga yakin asih tidak akan mau kau melakukan ini” Minto bersuara,
Samuji
“Apa kau bilang?”
“Asih tidak akan
mau kau melakukan ini”
“Ini bukan apa yang
dia inginkan, ini tentang keadilan”
“Ini bukan
keadilan, ini balas dendam”
“Aku menghukum
mereka yang bersalah, sigit yang menerobos lalu lintas, prapto bangsat yang
tidak bekerja dengan baik dan wanita ini pembohong yang bilang dia akan
baik-baik saja”
“Sigit memang salah
tapi dia harus diadili bukan dibunuh, dan dr. Prapto dan koharu pasti sudah
melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan” Samuji membalas
“Benar” Minto
bersuara, Adi kehilangan kesabaran dan bersiap menembak
“Mati perempuan
bangsat”
“JANGAN TEMBAK DIA,
JIKA KAU INGIN MENEMBAK TEMBAK AKU!!” Minto berteriak, koharu memperhatikannya
dengan air mata bercucuran
“Ya betul tembak
dia” Samuji menunjuk Minto, mereka berdua saling menatap, Minto heran sementara
Samuji tersenyum simpul
“Oh, lihat dia
berani mati demi kamu, bagaimana menurutmu? Kau atau Dia yang harus mati?”
Koharu menutup matanya sambil menggeleng “Baiklah 2 lawan 1, si kumis akan
mati” Adi bersiap menarik pelatuknya, minto menutup matanya, ketika terdengar
bunyi tembakan seketika itu juga Samuji menendang wajah Minto dengan kaki
kanannya, kakinya tertembak dia langsung berputar dan berlari ke arah Adi yang
bersiap menembaknya samuji melompat dan memegang ujung senapan dengan tangannya
saat adi menarik pelatuknya peluru itu bersarang di tangan Samuji
“Ah!” erangnya
Samuji menyikut
kepala adi hingga berjalan mundur dan melepaskan koharu, samuji terus menyerang
adi, tendangan kaki kanannya berhasil mengenai kepala adi, bergantian dengan
kaki kirinya, tangan kanannya meninju hidung adi diakhiri dengan tinjuan tangan
kirinya, Minto menghampiri mereka dan memborgol tangan adi yang tak sadarkan
diri
“Kasus selesai”
kata Minto
“Ya” kata samuji
berat, nafasnya terengah-engah menahan sakit “Beri sinyal agar pemadam
kebakaran mengevakausi kita” Minto kali ini menurut dan menyalakan senter
hpnya, beberapa menit kemudian dari lantai bawah berdatangan beberapa pemadam,
api di lantai 1, 2 dan 3 pun sudah dipadamkan.
Beberapa saat
kemudian
Di bawah banyak
orang dan wartawan, mereka ingin tau siapa yang menangkap pelaku pengeboman dan
pemnbunuh berantai ini, namun Samuji enggan diwawancara ia sibuk mengeluarkan
dua peluru yang bersarang ditubuhnya dibantu oleh koharu
“Mereka ingin mewawancaraimu”
“Aku nggak minat,
kamu saja, bilang kalau kamu yang menangkap adi”
“Mana bisa begitu”
“Bisa, juga bilang
kalau kamu yang dobrak pintu rumahnya”
“Asu” Minto
berjalan menemui wartawan dia menuruti permintaan samuji kali ini
“Bripda Minto apakah
anda yang menangkap adi?”
“Bagaimana rasanya
menjadi pahlawan?” hanya itu yang minto dengar, karena banyak pertanyaan yang
ditujukan padanya, minto pun bersuara
“Mohon maaf, aku
bukanlah orang yang menangkap adi..” senuanya diam “..disini ada pahlawan yang
tidak ingin disebutkan namanya, orang paling ikhlas yang saya kenal, membantu
saya tanpa pamrih, tanpa berharap kita untuk membalas kebaikannya, seseorang
yang bahkan tidak ingin kita tahu siapa dia, jika kalian ingin berterima kasih
mari tepuk tangan untuknya” semua wartawan, polisi, pemadam kebakaran dan
pasien bertepuk tangan, samuji juga ikut berepuk tangan.
“Kamu luar biasa”
Kata Koharu sambil tepuk tangan
“Biasa” Samuji
mungkin bilang biasa namun wajahnya memancarkan kebahagiaan saat dipuji, beberapa
saat kemudian setelah orang-orang bubar suasana menjadi tenang, Koharu
mendekati Minto yang sedang menyendiri dibawah pohon beringin
“Terima kasih ya”
“Untuk apa?”
“Kalau kau ingin
menembak tembak aku, itu sangat berani”
“Polisi harus
mengayomi masyarakat” Wajah Minto berubah merah
“Aku gak tau gimana
membalas kebaikan kamu”
“Kita bisa notnon
kapan-kapan” Minto antusias
“Eh?” Koharu kaget
“Maksud aku..
Anu..”
“Kamu suka film
apa? Ibu aku punya koleksi dvd dirumah” Koharu tersenyum malu
“Apa aja yang action”
“Kalau Dunkirk
gimana?”
“Boleh”
“Kalau The Dark
Knight ada?” Samuji ikut ngomong dari belakang
“Ah!” Koharu kaget
sambil memegangi dadanya
“Jangan ngagetin
orang” Protes Minto
“Masak mau nonton
berdua” Ganti Samuji yang protes
“Merusak suasana
aja, mana mungkin ibunya koharu punya film itu”
“Iya, ada kok,
kebetulan ibu aku fans Christopher Nolan. Kapan-kapan kita nonton bertiga”
Koharu melempar senyum kearah keduanya, Samuji bersorak bahagia sedangkan Minto
menggelengkan kepala
“Oh iya to, anterin
aku pulang” Pinta Samuji
“Oke, ya sudah ya
Koharu, aku mau nganter si kampret pulang”
“Iya hati-hati,
sekali lagi terima kasih banyak” Mereka berdua pun pulang ke rumah
masing-masing, koharu melambaikan tangannya sambil tersenyum, dia berharap
semoga dia bisa bertemu dengannya lagi, eh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar