DETEKTIF SAMUJI
BAB 4
Setelah menempuh
perjalanan panjang dan bertanya kanan kiri mereka sampai di rumah Asih, rumah
itu nampak tidak ditempati, rumput dihalaman setinggi betis tidak dicabut, daun
mangga yang jatuh tidak disapu, lebih baik bertanya pada tetangga apa ada yang
tinggal disini. Samuji memandangi Rumah itu, sepertinya rumah ini bangunan yang
baru selesai, dindingnya masih tembok belum di cat, sisa pasir dan batu-batu
ada di sekitar rumah, sore itu ada beberapa ibu-ibu yang sedang berkumpul dan
mengobrol di teras depan rumah tetangga asih dari pembicaraan mereka sepertinya
mereka setiap hari menggosip, Samuji dan Minto menghampiri mereka untuk
bertanya tapi untuk kali ini ia akan melakukan sesuatu yang berbeda.
“Kulonuwun ibu-ibu”
“Enggeh mas, mas
siapa ya?”
“Saya temannya SMA
mbak asih”
“Oh”
“Mau tanya rumahnya
mbak asih nggak ada yang nempatin ya?”
“Ada kok mas,
suaminya”
“Oh suaminya, mas
Minto ya” Minto melihat Samuji dengan tatapan bingung
“Bukan mas,
suaminya mbak asih mas adi”
“Oh iya, lupa mbak.
Mas adi ini kalau nggak salah yang kerja di spbu ya?”
“Kayaknya mas adi
sudah nggak kerja deh mas, sejak mbak asih meninggal”
“Oh gitu, ya sudah
makasih ya bu”
“Iya” keduanya
berjalan kembali kerumah asih, minto melihat temannya dengan seksama
“Kamu mancing
mereka ya?”
“Kadang memang
harus seperti itu, mereka adalah tipe orang yang tidak ingin terlibat masalah”
“Jadi namanya adi
dan pengangguran”
“Kita jadi tau
namanya” mereka berdua masih berdiri di depan rumah itu, tidak tau apa yang
harus dilakukan, samuji akhirnya melangkah ke rumah itu, minto mencegahnya
“Hey, jangan
melakukan sesuatu yang mencurigakan”
“Oke” Samuji
mengangguk
“Kita disini hanya
untuk mencari keterangan tentang asih”
“Oke” Samuji
mengangguk lagi
“Disini banyak
orang, kalau kita mencurigakan bisa membahayakan kita”
“Oke, ayo kita
dobrak pintunya”
“Sudah kubilang
jangan melakukan sesuatu yang mencurigakan!”
“Kalau begitu kita
dobrak pelan-pelan”
“INI BUKAN MASALAH
PELAN-PELAN ATAU TIDAK!!!"
Samuji merasa berdebat tidak ada gunanya dan langsung mendobrak pintunuya
dengan sekali tendang
“Goblok!” Bentak
Minto
“Tidak ada
informasi yang bisa kita dapat dari luar” Ibu-ibu yang tengah mengobrol
langsung berdiri dan berteriak minta tolong
“Maaf, Bripda Minto
kami sedang menyelidiki tentang kasus pembunuhan yang mungkin dilakukan Adi”
kata Minto sambil menunjukan tanda pengenalnya semua ibu-ibu tadi langsung diam
dan duduk kembali
Mereka berdua pun
akhirnya masuk ke rumah itu, tidak terlalu besar tapi cukup untuk dihuni satu
keluarga kecil, lantainya masih cor-coran, tidak ada foto apapun di tembok
hanya sebuah jam dinding yang tidak bergerak jarumnya, sebuah tv yang tidak
menyala dan 1 sofa panjang 3 kursi dan 1 meja kecil, sepertinya sudah lama
tidak berpenghuni. Minto pindah ke dapur untuk melihat-lihat, Samuji membuka
beberapa ruangan namun tidak berisi apapun, tapi ada satu pintu yang tidak bisa
dibuka
“To!” Teriak Samuji
“Ada apa ji?” Minto
langsung datang
“Pintu ini tidak
bisa dibuka”
“Lalu?”
“Kamu pasti tau apa
yang aku pikirkan” Minto mengangguk lalu mengeluarkan smaerphonenya
“Kamu mau apa?”
“Nonton bokep”
“Emang kamu punya
yang baru?” Samuji antusias
“Pasti dong,
judulnya SMAN 1 Gandujungan Bergoyang” Minto tersenyum
“Pembicaraan apa
ini, maksud aku tadi aku mikir untuk dobrak pintu ini”
“Oh, ayo lakukan,
kita tonton bokep nanti”
“Gak usah kirim
saja pakai Share That[1]”
Pintu itu di dobrak
bersamaan, ruangan itu adalah sebuah kamar yang berantakan berbeda dengan ruang
tamu, dikamar itu ada banyak foto wanita dengan wajah yang sama
“Asih” Minto
membuka suara
“Ya” Samuji melihat
lihat lagi ada foto pria disana bersama wanita itu
“Adi, suaminya”
Minto bersuara lagi
“Aku tahu, kamu
tidak harus mengatakan itu”
“Ya siapa tahu para
pembaca ingin tahu”
“Ya ampun” Samuji
menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya, banyak foto di kamar ini,
bahkan lebih mirip gudang daripada kamar, mulai dari foto si wanita sendirian
hingga bersama suaminya, tapi Samuji merasa pernah melihat orang itu, dimana
tapi ya, belum sempat mengingat-ingat tiba-tiba Minto memanggilnya.
“Ji, coba lihat
loker meja ini” Samuji mendekat melihat ke arah loker meja disebelah tempat
tidur itu, banyak barang-barang di loker itu, mulai dari batang bunga yang
sudah layu, hp, hingga album foto, didepan album foto itu ada tulisan Happy
anniVersary mungkin itu barang yang diberikan si suami untuk ulang tahun
pernikahan mereka yang ke lima, Minto membukanya pelan, dihalaman depan ada
sebuah foto bayi dibawahnya ada tulisan “Lahirnya manusia terindah” Halaman
itu dibalik, foto anak sd dengan pakaian drum band “Dia ikut drum band” halaman
tersebut dibalik dan semua foto disana mempunyai keterangan sendiri-sendiri,
seorang gadis kecil sedang diatas panggung hendak mencium tangan seorang kyai “Dia
khatam Al-Quran” berikutnya ada foto anak smp sedang memperlihatkan
rapotnya “Dia juara kelas VII semester 2” lalu ada gadis berseragam SMA
tengah menjahit pakaian “Dia prakerin di malang” foto berikutnya seorang
gadis yang rambutnya dikepang mengenakan kalung dari bawang dan cabai dan topi
dari koran “Dia ospek di UN[2]”
berikutnya ada beberapa orang di foto itu sepertinya foto kelas di kampus “Aku
bersyukur bertemu dia” halaman selanjutnya di sebuah daratan tinggi di
malang yang dikenal dengan paralayang malam hari “Pertama kali jalan”
selanjutnya seorang gadis bersama 2 orang tua mengenakan pakaian wisuda “Dia
wisuda” selanjutnya di pantai karanggongso trenggalek di ujung jembatan
seorang pria berlutut dan menyerahkan cincin pada seorang wanita “Dia bilang
‘iya, aku bersedia’” foto berikutnya adalah foto di resepsi mereka “Kami
menikah” Samuji dan Minto kini sampai ditengah album foto itu, di sebuah
klinik ada mereka berdua dan seorang dokter “Dia hamil” itulah akhir
dari album foto itu halaman demi halaman dibalik namun tidak ada foto lagi tapi
di halaman terakhir ada tulisan “Kita sudah berjanji bahwa hanya maut yang
memisahkan kita, namun saat kamu tiada, aku ingin maut yang menyatukan kita,
aku akan selalu mencintaimu, istriku, duniaku, asihku” Minto menutup album
itu dan memasukannya ke loker, matanya berkaca-kaca, Samuji juga sama tapi
masih merasa belum puas dengan semua ini ia melihat sekeliling, lemari pakaian,
lemari itu pasti menyimpan sesuatu, dia membukanya perlahan betapa terkejutnya
dia ketika melihat ada rakitan bom didalamnya, Minto pun langsung berdiri dan
di dalam lemari ada foto Sigit dan Prapto.
“Sudah jelas
sekarang, itu ulah Adi” Minto memulai pembicaraan
“Balas dendam”
“Lagi-lagi”
“Sigit yang
menabrak mereka, mereka berdua lalu dibawa ke RS, namun ketika sampai
disana...” Samuji berhenti
“..Asih meninggal,
bayinya juga tak terselamatkan”
“Adi yang masih
hidup merasa hidupnya sia-sia dan berencana membunuh Sigit dan Dr. Prapto...”
“...Dokter yang
menanganinya. Kalau begitu kasus ini sudah selesai”
“Belum, ada sesuatu
lagi”
“Apa?”
“Dia juga bermaksud
menggunakan bom rakitan itu untuk balas dendam”
“Balas dendam pada
apa? Bukannya semua sudah dibunuh”
“Dia tidak
bermaksud menggunakan bom itu pada manusia..”
“..Dia bermaksud
menggunakannya untuk menghancurkan rumah sakit” keduanya berlari keluar rumah
Minto melempar smartphonenya ke Samuji sedangkan dia bersiap-siap naik motor
“Telepon Koharu!”
Samuji menurut dan menelponnya namun tidak diangkat
“Goddamnit!!”
Teriak Samuji
Di Saat yang
bersamaan
Rumah sakit itu
sangat tenang, pasien sedang beristirahat para penunggu sedang shalat tiba-tiba
terdengar bunyi ledakan, semua orang panik berlarian, ditengah kepanikan itu
terdengar bunyi smartphone seseorang, namun sang pemilik tidak ada, dia sedang
di atap bersama seorang laki-laki
“Mau apa kamu?”
Teriak Koharu
“Aku ingin melihat semuanya hancur, rumah sakit ini
harus dihancurkan” teriaknya, Adi kemudian tertawa terbahak-bahak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar