Jumat, 28 April 2017

PETUALANGAN DETEKTIF SAMUJI 2 - ASIH (Bab 4)


DETEKTIF SAMUJI


BAB 4



Setelah menempuh perjalanan panjang dan bertanya kanan kiri mereka sampai di rumah Asih, rumah itu nampak tidak ditempati, rumput dihalaman setinggi betis tidak dicabut, daun mangga yang jatuh tidak disapu, lebih baik bertanya pada tetangga apa ada yang tinggal disini. Samuji memandangi Rumah itu, sepertinya rumah ini bangunan yang baru selesai, dindingnya masih tembok belum di cat, sisa pasir dan batu-batu ada di sekitar rumah, sore itu ada beberapa ibu-ibu yang sedang berkumpul dan mengobrol di teras depan rumah tetangga asih dari pembicaraan mereka sepertinya mereka setiap hari menggosip, Samuji dan Minto menghampiri mereka untuk bertanya tapi untuk kali ini ia akan melakukan sesuatu yang berbeda.
“Kulonuwun ibu-ibu”
“Enggeh mas, mas siapa ya?”
“Saya temannya SMA mbak asih”
“Oh”
“Mau tanya rumahnya mbak asih nggak ada yang nempatin ya?”
“Ada kok mas, suaminya”
“Oh suaminya, mas Minto ya” Minto melihat Samuji dengan tatapan bingung
“Bukan mas, suaminya mbak asih mas adi”
“Oh iya, lupa mbak. Mas adi ini kalau nggak salah yang kerja di spbu ya?”
“Kayaknya mas adi sudah nggak kerja deh mas, sejak mbak asih meninggal”
“Oh gitu, ya sudah makasih ya bu”
“Iya” keduanya berjalan kembali kerumah asih, minto melihat temannya dengan seksama
“Kamu mancing mereka ya?”
“Kadang memang harus seperti itu, mereka adalah tipe orang yang tidak ingin terlibat masalah”
“Jadi namanya adi dan pengangguran”
“Kita jadi tau namanya” mereka berdua masih berdiri di depan rumah itu, tidak tau apa yang harus dilakukan, samuji akhirnya melangkah ke rumah itu, minto mencegahnya
“Hey, jangan melakukan sesuatu yang mencurigakan”
“Oke” Samuji mengangguk
“Kita disini hanya untuk mencari keterangan tentang asih”
“Oke” Samuji mengangguk lagi
“Disini banyak orang, kalau kita mencurigakan bisa membahayakan kita”
“Oke, ayo kita dobrak pintunya”
“Sudah kubilang jangan melakukan sesuatu yang mencurigakan!”
“Kalau begitu kita dobrak pelan-pelan”
“INI BUKAN MASALAH PELAN-PELAN ATAU TIDAK!!!"
Samuji merasa berdebat tidak ada gunanya dan langsung mendobrak pintunuya dengan sekali tendang
“Goblok!” Bentak Minto
“Tidak ada informasi yang bisa kita dapat dari luar” Ibu-ibu yang tengah mengobrol langsung berdiri dan berteriak minta tolong
“Maaf, Bripda Minto kami sedang menyelidiki tentang kasus pembunuhan yang mungkin dilakukan Adi” kata Minto sambil menunjukan tanda pengenalnya semua ibu-ibu tadi langsung diam dan duduk kembali
Mereka berdua pun akhirnya masuk ke rumah itu, tidak terlalu besar tapi cukup untuk dihuni satu keluarga kecil, lantainya masih cor-coran, tidak ada foto apapun di tembok hanya sebuah jam dinding yang tidak bergerak jarumnya, sebuah tv yang tidak menyala dan 1 sofa panjang 3 kursi dan 1 meja kecil, sepertinya sudah lama tidak berpenghuni. Minto pindah ke dapur untuk melihat-lihat, Samuji membuka beberapa ruangan namun tidak berisi apapun, tapi ada satu pintu yang tidak bisa dibuka
“To!” Teriak Samuji
“Ada apa ji?” Minto langsung datang
“Pintu ini tidak bisa dibuka”
“Lalu?”
“Kamu pasti tau apa yang aku pikirkan” Minto mengangguk lalu mengeluarkan smaerphonenya
“Kamu mau apa?”
“Nonton bokep”
“Emang kamu punya yang baru?” Samuji antusias
“Pasti dong, judulnya SMAN 1 Gandujungan Bergoyang” Minto tersenyum
“Pembicaraan apa ini, maksud aku tadi aku mikir untuk dobrak pintu ini”
“Oh, ayo lakukan, kita tonton bokep nanti”
“Gak usah kirim saja pakai Share That[1]
Pintu itu di dobrak bersamaan, ruangan itu adalah sebuah kamar yang berantakan berbeda dengan ruang tamu, dikamar itu ada banyak foto wanita dengan wajah yang sama
“Asih” Minto membuka suara
“Ya” Samuji melihat lihat lagi ada foto pria disana bersama wanita itu
“Adi, suaminya” Minto bersuara lagi
“Aku tahu, kamu tidak harus mengatakan itu”
“Ya siapa tahu para pembaca ingin tahu”
“Ya ampun” Samuji menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya, banyak foto di kamar ini, bahkan lebih mirip gudang daripada kamar, mulai dari foto si wanita sendirian hingga bersama suaminya, tapi Samuji merasa pernah melihat orang itu, dimana tapi ya, belum sempat mengingat-ingat tiba-tiba Minto memanggilnya.
“Ji, coba lihat loker meja ini” Samuji mendekat melihat ke arah loker meja disebelah tempat tidur itu, banyak barang-barang di loker itu, mulai dari batang bunga yang sudah layu, hp, hingga album foto, didepan album foto itu ada tulisan Happy anniVersary mungkin itu barang yang diberikan si suami untuk ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima, Minto membukanya pelan, dihalaman depan ada sebuah foto bayi dibawahnya ada tulisan “Lahirnya manusia terindah” Halaman itu dibalik, foto anak sd dengan pakaian drum band “Dia ikut drum band” halaman tersebut dibalik dan semua foto disana mempunyai keterangan sendiri-sendiri, seorang gadis kecil sedang diatas panggung hendak mencium tangan seorang kyai “Dia khatam Al-Quran” berikutnya ada foto anak smp sedang memperlihatkan rapotnya “Dia juara kelas VII semester 2” lalu ada gadis berseragam SMA tengah menjahit pakaian “Dia prakerin di malang” foto berikutnya seorang gadis yang rambutnya dikepang mengenakan kalung dari bawang dan cabai dan topi dari koran “Dia ospek di UN[2] berikutnya ada beberapa orang di foto itu sepertinya foto kelas di kampus “Aku bersyukur bertemu dia” halaman selanjutnya di sebuah daratan tinggi di malang yang dikenal dengan paralayang malam hari “Pertama kali jalan” selanjutnya seorang gadis bersama 2 orang tua mengenakan pakaian wisuda “Dia wisuda” selanjutnya di pantai karanggongso trenggalek di ujung jembatan seorang pria berlutut dan menyerahkan cincin pada seorang wanita “Dia bilang ‘iya, aku bersedia’” foto berikutnya adalah foto di resepsi mereka “Kami menikah” Samuji dan Minto kini sampai ditengah album foto itu, di sebuah klinik ada mereka berdua dan seorang dokter “Dia hamil” itulah akhir dari album foto itu halaman demi halaman dibalik namun tidak ada foto lagi tapi di halaman terakhir ada tulisan “Kita sudah berjanji bahwa hanya maut yang memisahkan kita, namun saat kamu tiada, aku ingin maut yang menyatukan kita, aku akan selalu mencintaimu, istriku, duniaku, asihku” Minto menutup album itu dan memasukannya ke loker, matanya berkaca-kaca, Samuji juga sama tapi masih merasa belum puas dengan semua ini ia melihat sekeliling, lemari pakaian, lemari itu pasti menyimpan sesuatu, dia membukanya perlahan betapa terkejutnya dia ketika melihat ada rakitan bom didalamnya, Minto pun langsung berdiri dan di dalam lemari ada foto Sigit dan Prapto.
“Sudah jelas sekarang, itu ulah Adi” Minto memulai pembicaraan
“Balas dendam”
“Lagi-lagi”
“Sigit yang menabrak mereka, mereka berdua lalu dibawa ke RS, namun ketika sampai disana...” Samuji berhenti
“..Asih meninggal, bayinya juga tak terselamatkan”
“Adi yang masih hidup merasa hidupnya sia-sia dan berencana membunuh Sigit dan Dr. Prapto...”
“...Dokter yang menanganinya. Kalau begitu kasus ini sudah selesai”
“Belum, ada sesuatu lagi”
“Apa?”
“Dia juga bermaksud menggunakan bom rakitan itu untuk balas dendam”
“Balas dendam pada apa? Bukannya semua sudah dibunuh”
“Dia tidak bermaksud menggunakan bom itu pada manusia..”
“..Dia bermaksud menggunakannya untuk menghancurkan rumah sakit” keduanya berlari keluar rumah Minto melempar smartphonenya ke Samuji sedangkan dia bersiap-siap naik motor
“Telepon Koharu!” Samuji menurut dan menelponnya namun tidak diangkat
Goddamnit!!” Teriak Samuji

Di Saat yang bersamaan

Rumah sakit itu sangat tenang, pasien sedang beristirahat para penunggu sedang shalat tiba-tiba terdengar bunyi ledakan, semua orang panik berlarian, ditengah kepanikan itu terdengar bunyi smartphone seseorang, namun sang pemilik tidak ada, dia sedang di atap bersama seorang laki-laki
“Mau apa kamu?” Teriak Koharu
“Aku ingin melihat semuanya hancur, rumah sakit ini harus dihancurkan” teriaknya, Adi kemudian tertawa terbahak-bahak



[1] Aplikasi untuk berbagi di smartphone
[2] Sebuah Universitas Negeri di Malang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar