DETEKTIF SAMUJI
BAB 3
Rumah Sakit Widyawati adalah rumah sakit yang besar,
rumah sakit terbaik di Trenggalek, pelayanannya memuaskan, ya meskipun kadang
ada pasien yang dilarikan ke rumah sakit kota Tulungagung karena disini
kekurangan alat, mereka berdua mencari tempat praktek pak prapto. Menurut
beberapa pegawai tempat praktek pak prapto berada di sebelah kamar Anggrek,
Minto dan Samuji menuju kesana, ternyata ruangan itu berada di lantai 2 rumah
sakit setelah sampai disana mereka melihat seorang perawat berkulit kuning
dengan rambut hitam sepinggang tengah berbicara dengan seorang pasien, ketika
selesai bicara dan berbalik keduanya terdiam melihat kecantikan perawat itu,
wanita itu terlihat seperti orang jepang, tunggu, bagaimana Samuji tahu kalau
dia mirip orang jepang? Padahal kan orang jepang, cina dan korea mirip, simpel,
itu karena Samuji sering melihat jav, eh.
“Selamat siang, Detektif Samuji, aku kesini karena kasus
pembunuhan pak prapto” Kata Samuji sambil menunjukan tanda pengenalnya
“A..aku minto, Bripda Minto” Minto ikut ngomong sambil
menjulurkan tangannya, Samuji melihatnya dengan mata di sipitkan, si perawat
hanya tersenyum melihatnya sambil menjabat tangan Minto
“Aku Koharu Takahashi, asisten Dr. Suprapto” kata perawat
itu dengan bahasa indonesia yang kurang lancar
“Aku ingin data pasien dr. prapto”
“Akan saya ambilkan” Koharu baru saja berbalik tapi Minto
memanggilnya
“Mbak, sepertinya saya mengalami sedikit pusing, bisa
tolong diperiksa”
“Ya, baiklah” Koharu kembali tersenyum, Samuji hanya bisa
menggeleng melihat kelakuan temannya. Setelah mereka berdua jalan Samuji duduk
di kursi panjang menunggu Koharu datang membawa data pasien, ia melihat-lihat
lagi catatannya tinggi pelaku 170an cm dan memakai celana, mungkin dia keluarga
orang yang bernama Asih, entah suami, kakak, adik, atau bahkan anak, tapi pasti
hubungannya dengan Asih cukup dekat, setelah itu dia menutup catatannya ia
melihat sekeliling tempat duduknya di rumah sakit ini dulu kakeknya dirawat
karena penyakit paru-paru, dokter menyuruh kakeknya berhenti merokok namun
kakeknya tidak menghiraukan, dasar tua-tua bandel, Samuji tersenyum mengenang
masa lalu, beberapa tahun kemudian kakeknya meninggal karena serangan jantung,
cara meninggalnya pun unik, setiap hari sebelum meninggal dia selalu menemani
sang nenek entah sedang mencuci, sedang menyapu, sedang santai hingga pada
suatu sore kakek dan neneknya duduk bersama didepan rumah lalu kakeknya berdiri
berjalan ke depan teras dan kemudian jatuh, neneknya bingung dan berteriak
memanggil nama kakeknya namun tidak ada jawaban, kakeknya meninggal. Ketika
sampai dirumah setelah les Samuji juga menangis kakek yang di.. Lamunan
Samuji terhenti ketika kakinya di senggol seorang pejalan kaki
“Aduh maaf mas” kata pria itu, salah satu tasnya jatuh,
Samuji berinisiatif mengambilkan, namun tas itu cukup berat
“Perlu dibantu membawakan mas?” Samuji menawarkan bantuan
namun dia menolak, Koharu dan Minto pun juga sudah kembali.
“Lama banget sih?” Protes Samuji
“Siapa barusan?”
“Nggak tau, jangan mengalihkan pembicaraan”
“Maaf maaf, tadi ternyata sakit aku parah” Minto menjawab
“Parah?” Samuji kaget
“Bukan parah, tapi nggak sakit, dari tadi bingung nyari
yang sakit yang mana” Jelas Koharu
“Ah bercanda saja, jadi mana datanya?” Koharu memberikan,
Samuji melihat-lihat beberapa nama, dan akhirnya dia menemukan nama asih
disitu.
“Ketemu, Sri Asih, rumah Widoro, umur 28” Samuji menunjuk
sebuah nama di daftar itu
“Apa Koharu tahu bagaimana Asih meninggal?”
“Asih? Hmm, kalau tidak salah dia meninggal karena
kecelakaan lalu lintas dia dan suaminya, suaminya berhasil diselamatkan namun
mbak Asih tidak berhasil”
“Ayo kita kesana, lebih cepat lebih baik” Samuji memaksa
“Eh iya Koharu, kamu kok mirip orang jepang sih?” Tanya
Minto
“Oh, ibu aku orang jepang, ayah aku dulu bekerja di sana.
Beberapa bulan lalu kembali kesini, aku sama ibu ikut”
“Oh begitu, enakan di jepang apa indonesia?”
“Dua-duanya bagus, susah milih”
“Ya ya ya, terima kasih ya atas bantuannya Koharu” Sela
Samuji
“Ya, sama-sama senang bisa membantu”
“Koharu-chan terima kasih ya” Minto tersenyum lebar
“Iya” Koharu membalas dengan senyuman sambil melambaikan
tangan
Saat menuruni rumah sakit minto tak henti-hentinya
bercerita tentang koharu menurutnya koharu adalah wanita yang dia cari, cantik
dan baik
“Mungkin nggak ya dia suka aku?”
“Enggak” kata Samuji muak
“Duh kenapa sih, kalau orang yang kamu suka nikah sama
orang bukan salah aku lagi” Samuji tahu betul siapa yang dia maksud
“Cuok”
“Mungkin aku harus mengunjungi dia besok”
“Pfft, kamu terlalu berharap, kamu bahkan tidak punya
nomer hpnya”
“Eh punya dong, tadi aku minta, menurutmu aku ngapain
lama kalau nggak action sekalian”
“TER-SE-RAH” Samuji mengatakannya dengan penuh penekanan
“Jadi kita kemana?”
“Ke rumah Asih, mungkin pelakunya suaminya yang selamat
dari kecelakaan” Setelah sampai parkiran mereka langsung bersiap ke rumah asih,
namun minto membuka suara
“Kira-kira koharu suka bunga mawar nggak ya?” Samuji
diam dan menutup kedua telinganya dengan tangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar