Sabtu, 28 April 2018

PETUALANGAN DETEKTIF SAMUJI 2 - ASIH (Bab 1/5)




PETUALANGAN DETEKTIF SAMUJI 2

ASIH

“Katanya kalau listrik mati
Terus hidup lagi sebentar
Dan mati lagi
Matinya bisa lama”







Wahyu Ernawan



DETEKTIF SAMUJI


BAB 1


“Sarangan”
“Kang dadi saksi”
“Nalikane jaman semono”
“Neng kono sliramu medot janji”
“Ono pinggir telogo, aku biso opo”
“Kejobo ngeronto neng dodo”
“Telogomu ibarat eluhku”
“Howo adem ibarat atiku”
“Asri panggonmu ra biso gambarke atiku”
“Seng tak roso perih neng dodo..”
Nyanyian Samuji terhenti ketika pintu rumahnya diketok, dia sebenarnya ingin menghiraukannya dan meneruskan nyanyiannya namun tamu itu mengetuk lagi
“Masuk” Kata Samuji pelan, ia terlalu malas untuk bangun dari kursinya dan berjalan ke pintu, ternyata itu Minto, Samuji melihat jam di dinding baru pukul 7. apa yang dia inginkan di minggu pagi seperti ini
“Halo detektif” sapa Minto santai lalu duduk di kursi
“Ada apa? Pagi-pagi buta datang, langsung duduk lagi”
“Ini pukul 7 dan aku lelah ingin istirahat” sambil meluruskan kakinya
“Ya ya, ada apa?” samuji masih dengan suara serak bertanya
“Sebelumnya tolong matikan musik yang depresi itu” Samuji menurut dengan enggan dan mematikan lagu di smartphonenya “..ku dengar, kamu menolak tawaran menjadi detektif kepolisian?” Minto mulai bicara
“Ya”
“Kenapa?” Minto penasaran
“Nggak kenapa-kenapa”
“Kan asik kalau kita bisa bekerja sama setiap saat, seperti waktu kita menangkap Bahak” Kata Minto sambil tersenyum, Samuji tersenyum masam, lalu meraih rokok di meja mengeluarkan satu batang kemudian menawari Minto
“Mau?”
“Mana boleh polisi merokok”
“Ah aku sering lihat polisi merokok”
“Syaratnya saja waktu daftar bukan perokok” Samuji lalu menaruh rokoknya di meja
“Apa itu berkas yang kamu bawa?” Samuji melihat berkas di samping Minto
“Oh, ini menarik, kau pasti suka..” kata Minto sambil melempar berkasnya ke meja “..Pembunuhan seorang dokter bernama Suprapto, pembunuh meninggalkan tulisan “ASIH” di tembok”
“Pesan kematian” Samuji membuka berkas itu
“Dia ditemukan tewas semalam pukul 23.35 menit saat istrinya masuk ke ruang kerjanya”
“Meninggal karena apa?”
“Tersayat pisau di leher” Pandangan Samuji beralih ke Minto
“Terus kenapa kamu bawa kasusnya kesini?” Tanyanya heran
“Kupikir kamu mau melihatnya, sebagai detektif harusnya kasus seperti ini menarik bagimu”
“Kamu pikir aku suka melihat mayat?”
“Ku pikir kamu mau melihat TKP” Samuji mendengus pelan
“Ayo kesana” Samuji bangkit dari kursinya
“Tunggu, aku haus, minta minum”
“Kampret” Samuji pergi ke belakang lalu mengambilkan segelas air putih dan meletakannya di meja
“Putar tvnya dong, aku mau nonton berita” Dia pikir dia siapa datang kerumah orang pagi-pagi lalu bertingkah seperti bos, begonya Samuji menurut dan mereka berdua melihat channel tvtwo[1], belum juga lama Minto menonton berita korupsi A-KTP di tv namun tiba-tiba listrik mati
“Kenapa deh listriknya mati, lagi seru-serunya nonton mati lagi” Minto mengeluh
“Sebentar lagi juga hidup” Samuji menanggapi dan benar saja tak lama listrik kembali menyala
“YES, AKHIRNYA” sial betul Minto hari ini, belum juga gambarnya muncul listrik mati lagi “PLM[2] Brengsek” Samuji hanya bisa tersenyum melihat tingkah polah temannya
“Sabar”
“Biasanya kalau listrik menyala sebentar dan mati lagi, matinya bisa lama loh” Kata Minto dengan santai
“Hoax” Samuji tersenyum “Ya sudah mau nonton apa? Ayo ke TKP” Samuji memaksa
“Ayo” Minto bangkit dan keduanya bersiap ke TKP, Samuji mengambil mantel panjangnya, buku catatan, pulpen dan penggaris, sebentar-sebentar untuk apa Samuji membawa penggaris?



[1] Sebuah TV swasta
[2] Perusahaan Listrik negara


Tidak ada komentar:

Posting Komentar