PETUALANGAN DETEKTIF SAMUJI 2
ASIH
“Katanya kalau listrik mati
Terus hidup lagi sebentar
Dan mati lagi
Matinya bisa lama”
Wahyu Ernawan
DETEKTIF SAMUJI
BAB 1
“Sarangan”
“Kang dadi saksi”
“Nalikane jaman
semono”
“Neng kono sliramu
medot janji”
“Ono pinggir
telogo, aku biso opo”
“Kejobo ngeronto
neng dodo”
“Telogomu ibarat
eluhku”
“Howo adem ibarat
atiku”
“Asri panggonmu ra
biso gambarke atiku”
“Seng tak roso
perih neng dodo..”
Nyanyian Samuji terhenti ketika pintu rumahnya diketok, dia sebenarnya
ingin menghiraukannya dan meneruskan nyanyiannya namun tamu itu mengetuk lagi
“Masuk” Kata Samuji
pelan, ia terlalu malas untuk bangun dari kursinya dan berjalan ke pintu,
ternyata itu Minto, Samuji melihat jam di dinding baru pukul 7. apa yang dia inginkan
di minggu pagi seperti ini
“Halo detektif”
sapa Minto santai lalu duduk di kursi
“Ada apa? Pagi-pagi
buta datang, langsung duduk lagi”
“Ini pukul 7 dan
aku lelah ingin istirahat” sambil meluruskan kakinya
“Ya ya, ada apa?”
samuji masih dengan suara serak bertanya
“Sebelumnya tolong
matikan musik yang depresi itu” Samuji menurut dengan enggan dan mematikan lagu
di smartphonenya “..ku dengar, kamu menolak tawaran menjadi detektif
kepolisian?” Minto mulai bicara
“Ya”
“Kenapa?” Minto
penasaran
“Nggak kenapa-kenapa”
“Kan asik kalau
kita bisa bekerja sama setiap saat, seperti waktu kita menangkap Bahak” Kata
Minto sambil tersenyum, Samuji tersenyum masam, lalu meraih rokok di meja
mengeluarkan satu batang kemudian menawari Minto
“Mau?”
“Mana boleh polisi
merokok”
“Ah aku sering
lihat polisi merokok”
“Syaratnya saja
waktu daftar bukan perokok” Samuji lalu menaruh rokoknya di meja
“Apa itu berkas
yang kamu bawa?” Samuji melihat berkas di samping Minto
“Oh, ini menarik,
kau pasti suka..” kata Minto sambil melempar berkasnya ke meja “..Pembunuhan
seorang dokter bernama Suprapto, pembunuh meninggalkan tulisan “ASIH” di
tembok”
“Pesan kematian”
Samuji membuka berkas itu
“Dia ditemukan
tewas semalam pukul 23.35 menit saat istrinya masuk ke ruang kerjanya”
“Meninggal karena
apa?”
“Tersayat pisau di
leher” Pandangan Samuji beralih ke Minto
“Terus kenapa kamu
bawa kasusnya kesini?” Tanyanya heran
“Kupikir kamu mau
melihatnya, sebagai detektif harusnya kasus seperti ini menarik bagimu”
“Kamu pikir aku
suka melihat mayat?”
“Ku pikir kamu mau
melihat TKP” Samuji mendengus pelan
“Ayo kesana” Samuji
bangkit dari kursinya
“Tunggu, aku haus,
minta minum”
“Kampret” Samuji
pergi ke belakang lalu mengambilkan segelas air putih dan meletakannya di meja
“Putar tvnya dong,
aku mau nonton berita” Dia pikir dia siapa datang kerumah orang pagi-pagi lalu
bertingkah seperti bos, begonya Samuji menurut dan mereka berdua melihat
channel tvtwo[1],
belum juga lama Minto menonton berita korupsi A-KTP di tv namun
tiba-tiba listrik mati
“Kenapa deh
listriknya mati, lagi seru-serunya nonton mati lagi” Minto mengeluh
“Sebentar lagi juga
hidup” Samuji menanggapi dan benar saja tak lama listrik kembali menyala
“YES, AKHIRNYA”
sial betul Minto hari ini, belum juga gambarnya muncul listrik mati lagi “PLM[2]
Brengsek” Samuji hanya bisa tersenyum melihat tingkah polah temannya
“Sabar”
“Biasanya kalau
listrik menyala sebentar dan mati lagi, matinya bisa lama loh” Kata Minto
dengan santai
“Hoax” Samuji
tersenyum “Ya sudah mau nonton apa? Ayo ke TKP” Samuji memaksa
“Ayo” Minto bangkit dan keduanya bersiap ke TKP,
Samuji mengambil mantel panjangnya, buku catatan, pulpen dan penggaris,
sebentar-sebentar untuk apa Samuji membawa penggaris?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar