DETEKTIF SAMUJI
BAB 2
Ditengah perjalanan menuju rumah korban di daerah Rejowinangun
Samuji tak henti memutar lagu sambil menyanyi tangise sarangan hingga akhirnya
Minto memprotes kelakuan temannya
“Bisa tolong
matikan nggak? itu mengganggu konsentrasiku” Protes Minto, namun Samuji enggan
mematikannya, Minto benar benar kesal dan tidak bicara sepatah kata pun sampai
tiba di rumah korban. Setelah sampai di TKP Samuji terkejut tempat itu dijaga
ketat beberapa polisi, apa ini kasus yang besar? Keduanya masuk ke rumah itu
sambil mengenakan sarung tangan. Begitu masuk keruang kerja si dokter
pemandangan horor tersaji di depan mata Samuji, seorang pria sedikit gemuk
meninggal dengan leher nyaris putus tergeletak di lantai dan tulisan ASIH
menggunakan darah di temukan di tembok. Samuji mendekati tembok tempat tulisan ASIH
ditulis, diam disana beberapa saat memperhatikan tulisan itu, mengeluarkan
penggarisnya lalu mencatatnya dalam buku kecilnya, dia kemudian berjalan ke
jendela melihat kebawah, Samuji lalu mencatatnya lagi.
“Ada yang menarik?”
Tanya Minto sambil memperhatikan Samuji yang tengah asik sendirian
“Ya, ayo temui
keluarga pak prapto, mungkin mereka tau siapa itu Asih” Samuji dan Minto
menemui keluarga pak prapto di ruang tamu yang masih berduka. Keluarga itu
tidaklah besar hanya ada istri dan dua orang anak laki-laki, yang besar sudah
sma dan yang kecil masih sd kelas 6, Samuji memperhatikan mereka dengan posisi
menyilangkan kaki dan meletakkan lengan di tanganan kursi, ibu jari tangan
kanannya terletak di bawah dagu, jari telunjuknya di mulut lalu membuka suara
“Apa diantara kalian
ada yang tau atau kenal seseorang bernama Asih?” Tanya Samuji, ketiganya
menggeleng, ia mencatatnya
“Untuk ibu, apa ibu
kenal teman suami anda yang bernama Asih?”
“Tidak” Kata si Ibu
sambil menggeleng
“Ibu yakin? Berapa
lama anda mengenal suami anda?”
“Sejak SMP”
“Lumayan lama ya,
apa mungkin teman kerjanya ada yang bernama asih?”
“Tidak, dia bekerja
di rumah sakit dan disana tidak ada orang bernama Asih”
“Menarik, apa
mungkin dia punya simpanan yang bernama asih?”
“Tidak tahu, dia
tidak punya simpanan sepertinya”
“To, ambil
smartphonenya, lihat kontaknya dan percakapannya Whatsdown[1]”
Minto menurut lalu melihat daftar kontak dan percakapan di smartphone itu namun
tidak ditemukan nama asih atau sesuatu yang menyinggung asih disana
“Tidak ada ji”
“Menarik sekali,
sungguh menarik. Apa mungkin ada pasiennya yang bernama asih?” Semuanya diam
“Jika bukan teman dan simpanannya pasti pasiennya” Samuji meneruskan
“Oh iya ji, tadi
kamu menulis sesuatu di buku catatanmu, apa yang kamu ketahui tentang kasus
ini”
“Ini bisa saja
salah, tapi aku akan beritahu kalian, pelaku tersebut mempunyai tinggi sekitar
170 cm dan memakai celana”
“Bagaimana kau
tahu?” Minto penasaran
“Tulisannya,
manusia biasanya akan menulis sejajar dengan matanya, aku mengukurnya dengan
penggaris yang tadi aku bawa”
“Wah, Soal pelaku
bercelana?”
“Untuk naik turun
jendela yang lumayan tinggi dan membunuh seseorang kamu harus masuk dengan
cepat dan keluar dengan cepat mustahil pembunuhnya menggunakan sarung atau rok”
Samuji menyenderkan punggungnya sambil menyesap rokoknya
“Analisa yang
menarik” Minto kagum
“Ah biasa, ayo kita
periksa rumah sakit” Minto mengangguk, mereka lalu bersiap pergi ke rumah sakit
sebelum naik motor minto mendapat telepon.
“Halo, ya ada apa?
Apa?..” Minto terkejut, Samuji melihatnya dengan seksama “..Oke aku segera
kesana” Pembicaraan itu lalu diakhiri
“Ada apa?”
“Kamu tidak akan
percaya, ada pembunuhan lagi dengan pesan kematian ASIH lagi” Samuji
tersenyum
“Semakin lama kasus
ini semakin menarik, dimana rumah korban kedua?”
“Sumberdadi”
“Lebih baik kita
cepat kesana” setelah memakai helm mereka berdua meluncur ke rumah korban kedua
dengan kecepatan penuh, rumah itu ramai di kunjungi tetangga, Samuji menyapa
seorang pria disana yang mengaku tetangga korban, menurut keterangan tetangganya
korban kedua diketahui bernama Sigit seorang pengangguran dan terkenal
mempunyai reputasi buruk di lingkungannya, menurut keterangan warga dia tidak
terlihat keluar rumah selama sekitar 3 hari, saat seorang tetangga mengantar
undangan slametan ke rumahnya dia mencium bau menyengat dari dalam rumah, sang
pengantar undangan pun mengajak beberapa warga mendobrak pintunya betapa
terkejutnya mereka ketika melihat Sigit tergeletak tak bernyawa dengan bekas
tusukan di jantung, Samuji mencatat semua info itu di buku catatannya. Mereka
berdua lalu masuk kedalam rumah, bau disana sangat menyengat
“Ya Allah” Minto
menutup mulut dan hidungnya
“To, lihat” Samuji
menunjuk ke arah tembok, tulisan ASIH dengan darah, mungkin karena sudah
lama meninggal dan baru ditemukan tidak banyak jejak yang bisa didapat Samuji
di TKP kedua, namun tulisan ASIH mempunyai tinggi yang hampir sama
dengan di TKP pertama, satu hal lagi yang bisa disimpulkan, ini pembunuhan
berantai. Minto mengajak Samuji keluar rumah
“Ayo kita keluar”
“Ayo” mereka berdua
lalu keluar rumah
“Ah, udara segar”
Minto berteriak lega sambil menghirup udara dalam-dalam
“Pembunuhan
berantai”
“Ya, ada yang bisa
kau temukan didalam?”
“Tidak, tidak ada
apapun mungkin karena sudah terlalu lama tidak ditemukan” Samuji agak kecewa
“Mungkin akan ada
pembunuhan selanjutnya?”
“Kita harus bersiap
dengan kemungkinan itu”
“Jadi, kita pergi
ke Rumah Sakit sekarang?”
“Ya, hari sudah
siang lebih baik kita cepat-cepat” saat hampir naik tiba-tiba Samuji berpikir
“Sebentar, apa hubungan Sigit dan Prapto dengan ASIH?” Samuji bingung
“Pikirkan itu nanti saja, setelah kita sampai di RS”
Samuji menurut dan langsung naik, semakin lama kasus ini semakin rumit, semoga
di rumah sakit ada cahaya terang untuk kasus ini, semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar