Jumat, 28 April 2017

PETUALANGAN DETEKTIF SAMUJI 2 - ASIH (Bab 2)


DETEKTIF SAMUJI


BAB 2


Ditengah perjalanan menuju rumah korban di daerah Rejowinangun Samuji tak henti memutar lagu sambil menyanyi tangise sarangan hingga akhirnya Minto memprotes kelakuan temannya
“Bisa tolong matikan nggak? itu mengganggu konsentrasiku” Protes Minto, namun Samuji enggan mematikannya, Minto benar benar kesal dan tidak bicara sepatah kata pun sampai tiba di rumah korban. Setelah sampai di TKP Samuji terkejut tempat itu dijaga ketat beberapa polisi, apa ini kasus yang besar? Keduanya masuk ke rumah itu sambil mengenakan sarung tangan. Begitu masuk keruang kerja si dokter pemandangan horor tersaji di depan mata Samuji, seorang pria sedikit gemuk meninggal dengan leher nyaris putus tergeletak di lantai dan tulisan ASIH menggunakan darah di temukan di tembok. Samuji mendekati tembok tempat tulisan ASIH ditulis, diam disana beberapa saat memperhatikan tulisan itu, mengeluarkan penggarisnya lalu mencatatnya dalam buku kecilnya, dia kemudian berjalan ke jendela melihat kebawah, Samuji lalu mencatatnya lagi.
“Ada yang menarik?” Tanya Minto sambil memperhatikan Samuji yang tengah asik sendirian
“Ya, ayo temui keluarga pak prapto, mungkin mereka tau siapa itu Asih” Samuji dan Minto menemui keluarga pak prapto di ruang tamu yang masih berduka. Keluarga itu tidaklah besar hanya ada istri dan dua orang anak laki-laki, yang besar sudah sma dan yang kecil masih sd kelas 6, Samuji memperhatikan mereka dengan posisi menyilangkan kaki dan meletakkan lengan di tanganan kursi, ibu jari tangan kanannya terletak di bawah dagu, jari telunjuknya di mulut lalu membuka suara
“Apa diantara kalian ada yang tau atau kenal seseorang bernama Asih?” Tanya Samuji, ketiganya menggeleng, ia mencatatnya
“Untuk ibu, apa ibu kenal teman suami anda yang bernama Asih?”
“Tidak” Kata si Ibu sambil menggeleng
“Ibu yakin? Berapa lama anda mengenal suami anda?”
“Sejak SMP”
“Lumayan lama ya, apa mungkin teman kerjanya ada yang bernama asih?”
“Tidak, dia bekerja di rumah sakit dan disana tidak ada orang bernama Asih”
“Menarik, apa mungkin dia punya simpanan yang bernama asih?”
“Tidak tahu, dia tidak punya simpanan sepertinya”
“To, ambil smartphonenya, lihat kontaknya dan percakapannya Whatsdown[1]” Minto menurut lalu melihat daftar kontak dan percakapan di smartphone itu namun tidak ditemukan nama asih atau sesuatu yang menyinggung asih disana
“Tidak ada ji”
“Menarik sekali, sungguh menarik. Apa mungkin ada pasiennya yang bernama asih?” Semuanya diam “Jika bukan teman dan simpanannya pasti pasiennya” Samuji meneruskan
“Oh iya ji, tadi kamu menulis sesuatu di buku catatanmu, apa yang kamu ketahui tentang kasus ini”
“Ini bisa saja salah, tapi aku akan beritahu kalian, pelaku tersebut mempunyai tinggi sekitar 170 cm dan memakai celana”
“Bagaimana kau tahu?” Minto penasaran
“Tulisannya, manusia biasanya akan menulis sejajar dengan matanya, aku mengukurnya dengan penggaris yang tadi aku bawa”
“Wah, Soal pelaku bercelana?”
“Untuk naik turun jendela yang lumayan tinggi dan membunuh seseorang kamu harus masuk dengan cepat dan keluar dengan cepat mustahil pembunuhnya menggunakan sarung atau rok” Samuji menyenderkan punggungnya sambil menyesap rokoknya
“Analisa yang menarik” Minto kagum
“Ah biasa, ayo kita periksa rumah sakit” Minto mengangguk, mereka lalu bersiap pergi ke rumah sakit sebelum naik motor minto mendapat telepon.
“Halo, ya ada apa? Apa?..” Minto terkejut, Samuji melihatnya dengan seksama “..Oke aku segera kesana” Pembicaraan itu lalu diakhiri
“Ada apa?”
“Kamu tidak akan percaya, ada pembunuhan lagi dengan pesan kematian ASIH lagi” Samuji tersenyum
“Semakin lama kasus ini semakin menarik, dimana rumah korban kedua?”
“Sumberdadi”
“Lebih baik kita cepat kesana” setelah memakai helm mereka berdua meluncur ke rumah korban kedua dengan kecepatan penuh, rumah itu ramai di kunjungi tetangga, Samuji menyapa seorang pria disana yang mengaku tetangga korban, menurut keterangan tetangganya korban kedua diketahui bernama Sigit seorang pengangguran dan terkenal mempunyai reputasi buruk di lingkungannya, menurut keterangan warga dia tidak terlihat keluar rumah selama sekitar 3 hari, saat seorang tetangga mengantar undangan slametan ke rumahnya dia mencium bau menyengat dari dalam rumah, sang pengantar undangan pun mengajak beberapa warga mendobrak pintunya betapa terkejutnya mereka ketika melihat Sigit tergeletak tak bernyawa dengan bekas tusukan di jantung, Samuji mencatat semua info itu di buku catatannya. Mereka berdua lalu masuk kedalam rumah, bau disana sangat menyengat
“Ya Allah” Minto menutup mulut dan hidungnya
“To, lihat” Samuji menunjuk ke arah tembok, tulisan ASIH dengan darah, mungkin karena sudah lama meninggal dan baru ditemukan tidak banyak jejak yang bisa didapat Samuji di TKP kedua, namun tulisan ASIH mempunyai tinggi yang hampir sama dengan di TKP pertama, satu hal lagi yang bisa disimpulkan, ini pembunuhan berantai. Minto mengajak Samuji keluar rumah
“Ayo kita keluar”
“Ayo” mereka berdua lalu keluar rumah
“Ah, udara segar” Minto berteriak lega sambil menghirup udara dalam-dalam
“Pembunuhan berantai”
“Ya, ada yang bisa kau temukan didalam?”
“Tidak, tidak ada apapun mungkin karena sudah terlalu lama tidak ditemukan” Samuji agak kecewa
“Mungkin akan ada pembunuhan selanjutnya?”
“Kita harus bersiap dengan kemungkinan itu”
“Jadi, kita pergi ke Rumah Sakit sekarang?”
“Ya, hari sudah siang lebih baik kita cepat-cepat” saat hampir naik tiba-tiba Samuji berpikir “Sebentar, apa hubungan Sigit dan Prapto dengan ASIH?” Samuji bingung
“Pikirkan itu nanti saja, setelah kita sampai di RS” Samuji menurut dan langsung naik, semakin lama kasus ini semakin rumit, semoga di rumah sakit ada cahaya terang untuk kasus ini, semoga.



[1] Aplikasi percakapan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar