DETEKTIF SAMUJI
Pria bernama Bahak itu dibawa ke polsek Bendorejo untuk
di interogasi, karena ini kasusnya, Samuji yang akan menginterogasinya,
sementara Minto menggeledah rumah Bahak untuk mencari bukti.
“Halo, mas Bahak”
kata Samuji dengan senyum yang mengembang, Bahak masih diam
“Kenapa kamu
membunuh pak Anton?” Bahak masih diam
“Bisa ngomong?”
Tidak ada jawaban
“Dengar, jika kamu
tidak berkata apapun, kau akan dikirim ke penjara”
“Memangnya kalau
aku bilang aku akan dibebaskan?” akhirnya dia berkata sesuatu
“Enggak juga”
“Lagipula, aku
punya hak untuk diam”
“Apa masalahmu
dengan pak Anton?” Bahak kembali diam
“Beritahu aku
sesuatu!!” Samuji mulai marah
“Kau belum pernah
menginterogasi ya?” kata Bahak santai
“Samuji, tolong
kamu keluar, biar kami yang atasi” terdengar suara petugas di speaker, Samuji lalu keluar, seorang petugas
menghampirinya
“Kita diamkan dulu,
nanti kalau dia sudah bosan pasti buka mulut”
“Iya” Samuji lalu
menyalakan rokoknya “Minto belum kembali?”
“Belum” Samuji lalu
duduk di kursi panjang tempat dia tadi tidur
Samuji duduk selama 2 jam dengan kesal, Minto datang
dengan membawa beberapa berkas, Samuji langsung bangkit dan menanyai Minto.
“Gimana?”
“Kami sudah
memeriksa rumahnya, kami menemukan sepatu boot, tripod dan senapannya, sesuai
catatan kamu”
“Benar kalau begitu
dia yang membunuhnya, tapi kenapa?”
“Dia belum bilang?”
“Belum” kata Samuji
sambil menyalakan rokoknya yang kesekian “Berikan berkasnya padaku” Minto
memberikan berkasnya. Samuji kembali masuk ke dalam ruang interogasi
“He, kamu yang
membunuh pak Anton?” tanya samuji sambil melempar berkas di tangannya ke meja
“Iya” jawab Bahak
santai
“Kenapa?” Bahak
kembali diam, Samuji tidak bersabar lagi kali ini, ia melayangkan pukulan ke
mukanya sampai Bahak jatuh di lantai, Minto langsung masuk ke dalam.
“Hahahahaha” Bahak
tertawa
“Sabar ji” Minta
menarik Samuji mundur
“Sabar kayak gimana
lagi, kita sudah mendapatkan semuanya, jejak kaki yang cocok, tripod, senapan,
pembunuh yang kurang hanya motif pembunuhannya” Samuji marah
“Dan jejak roda
yang masih misteri” Minto menambahkan
“Hahahahahahahahaha..”
Bahak tertawa, mereka berdua melihat ke arahnya “..Biar kutebak, jejak roda
yang kalian cari adalah jejak roda standard V-Ixin?” Keduanya masih
diam, saling memandang dengan tatapan heran, lalu Minto bertanya
“Dimana motor itu?”
“Oh, Aku tidak
punya motor seperti itu” jawab Bahak santai
“Apa?” Samuji heran
“Ya, aku tidak
punya, karena aku dibonceng” Bahak tersenyum jahat kearah keduanya
“Siapa yang bonceng
kamu?” Samuji bertanya sambil mendekat
“Oh, Dia bukan
hanya membonceng, tapi dia juga menjadi otak dari pembunuhan ini” Senyum jahat
itu terus mengembang, Samuji terdiam sesaat
“Ji” Minto
memanggil
“SIAPA DIA?!!”
Samuji memukul Bahak, lebih keras dari sebelumnya.
“HAHAHAHA!” tawa
Bahak lebih keras dari sebelumnya
“SIAPA?!!” Samuji
memukul wajahnya lagi, lalu Minto menariknya
“HAHAHAHAHAHA!!!!,
detektif..” Bahak diam sejenak “..Aku ingin menguji kecerdasanmu” Minto masih
menahan Samuji.
“Menurutmu..” Bahak
bangkit dan duduk di kursinya “..siapa orang yang punya motor V-Ixin dan
punya masalah dengan pak Anton..” Samuji diam, Minto juga diam “..dan orang itu
tau kapan pak Anton pergi ke sawah?” senyum jahat itu muncul lagi, kali ini
terarah ke Samuji, mata Samuji membesar, dia tahu siapa yang dimaksud
“dancok” kata
Samuji pelan
“Good Luck” Senyum jahat di wajah Bahak mengemabang
“DANCOOOOOOOOK!!!”
Samuji lalu berlari ke luar ruangan, mengambil smartphone nya, melihat daftar
kontak dan menelpon seseorang, namun tidak diangkat
“Angkaten na,
angkaten!” teriaknya
Di rumah Husna
Husna sedang
menjahit pakaian ketika itu smartphonenya berbunyi, namun ia mengabaikannya
karena sedang serius menjahit
Di Polsek
Samuji mencoba
menelpon Husna lagi, kali ini diangkat
“NA, DIMANA
SUAMIMU?” teriak Samuji
“Keras banget, tadi
katanya ke gedung serba guna Bendo, bulutangkis, ada..” telpon tersebut diputus
“Ya terima kasih”
lokasinya yang tidak terlalu jauh membuat Samuji hanya berlari ke sana.
Sementara di Polsek
“Hahaha, temanmu
itu cerdas juga ternyata” Bahak tertawa
“Yang kau katakan
itu benar?” Minto memandangi Bahak dengan sambil menyilangkan tangannya
“Tentu” jawab Bahak
santai
“Kalau benar kau
tidak harus memancing emosinya kan, tinggal katakan siapa orangnya” Minto
memberi saran
“Aku ingin melihat
dia marah..” Bahak bicara dengan santai “..pada dasarnya aku suka melihat orang
marah” Bahak tersenyum jahat
“Cok!” sahut minto
marah dan memukulnya
“HAHAHA!!” Bahak
tertawa lagi
Depan gedung serba guna
Di depan dia
melihat ada satu motor di parkir, motor lanang dengan merk V-Ixin. Samuji
membuka pintu dengan segenap keyakinannya dan saat pintu dibuka dia sudah
ditunggu seseorang di kejauhan, Asep. Pria itu sedang memegangi raket
bulutangkisnya
“Wah, ternyata
Bahak bisa lama juga tutup mulut” Asep membuka pembicaraan
“Dia bahkan hampir
tidak mau mengatakannya” Samuji melangkah maju
“Aku membayarnya
dengan baik” Asep meletakkan raketnya
“Permainanmu kurang
rapi, kau harusnya menggunakan racun”
“Aku memainkannya
cukup rapi”
“Kau membawa Bahak
ke bukit timur sawah untuk menembak pak Anton..” Samuji menjelaskan “..kau
mengendarai motor melewati hutan untuk menghindari kecurigaan warga, membawa
Bahak ke posisi yang enak untuk menembak, bahkan kalian juga membawa tripod,
kalian juga menggunakan UTS-15, aku terkesan, ternyata kalian modal juga”
Asep tertawa
“Ternyata kau
pintar juga detektif” Asep memberikan tepuk tangan sarkas
“Kenapa kau
membunuhnya?”
“Masalah pribadi”
“Padahal dia orang
baik”
“Orang baik? Dia
menghinaku!” Asep berteriak dan bergerak maju, Samuji diam dan berhenti melangkah
“Dia menghinaku karena pengangguran, dia bahkan melarang aku dan Husna
berpacaran” tiba tiba Asep mengingat kejadian di masa lalu
Beberapa bulan lalu
Asep dan Husna
waktu itu pulang nonton bioskop di Tulungagung jam menunjukan pukul 19.55
merasa tidak enak karena pulang kemaleman Asep mengantar Husna sampai rumah
karena tau dia pasti akan domarahi bapaknya
“Dari mana na?”
tanya pak Anton begitu Husna masuk rumah
“Tulungagung pak
sama mas Asep pak”
“Pak” Asep coba
meraih tangan pak Anton namun ditolak
“Oh iya pak, mas
Asep mau ngomong sesuatu”
“Ngomong apa?”
“Duduk dulu pak”
“Jadi begini pak,
saya sudah mantap mau menikahi Husna, kalau bapak mengizinkan saya ajak orang
tua saya kesini untuk melamar”
“Nikah? Kerjaan
saja nggak punya gimana mau menafkahi anakku? Mau dikasih makan apa anakku?
Daun? Kalau mau kasih makan daun nikah aja sama kambing!” Suara pak Anton
menggema diruang tamu itu, Asep terdiam sejenak, Husna kaget mendengar jawaban
Bapaknya
“Pak, kok
ngomognnya gitu sih, mas Asep ini orangnya baik lo, niatnya juga baik”
“Kalau kerja saya
bisa cari pak, asal bisa dapat restu anda”
“Nggak nggak pulang
sana, kalau sudah mapan kesini lagi” pak Anton mengusir Asep
Beberapa hari kemudian
“Mas, hubungan kita
gimana kelanjutannya?” Husna bingung
“Aku beneran mau
serius sama kamu”
“Tapi bapak nggak
bakal ngasih ijin kalau kamu nggak punya kerjaan”
“Kamu masalah nggak
kalau aku nggak punya kerjaan?”
“Aku selama ini
nggak permasalahin itu, tapi bapak gimana?”
“Kamu mau nikah
sama aku?”
“Mau mas, tapi bapak
gimana?”
“Ya sudah gini aja,
kamu hamil saja, kalau sudah begitu masak iya tetep nggak ngasih restu?
“Apa?! Hamil? Gila
apa kamu mas?” Husna kaget
“Aku pasti tanggung
jawab, ini satu-satunya cara..” Asep coba menenangkan, Husna diam sambil
menunduk “..percaya dek, aku sayang kamu” Husna akhirnya megangguk pelan
2 Mingu kemudian
Husna merasa tidak
enak badan, dia merasa pusing dan muntah-,muntah, dia lalu menelpon Asep
“Mas, kayaknya aku
hamil deh”
“Kamu yakin?
Diperiksain dulu aja gimana? Biar yakin”
“Iya, jemput aku
ya” sekitar setengah jam kemudian Asep sampai dirumah Husna untuk mengantar ke
dokter kandungan, setelah di periksa dokter ternyata benar Husna hamil
“Selamat ya bu,
anda hamil” Asep terlihat gembira mendengarnya, Husna merasa kaget dan bingung
“Dek, ayo pulang,
kasih tau bapak”
“Sekarang?”
“Ya iya lah, terima
kasih ya bu dokter”
“Iya, hati-hai bawa
motornya mas” Setelah itu mereka berdua pulang kerumah Husna, entah apa yang
akan dikatakan apaknya nanti, Husna takut, apa dia akan dipukul, apa justru
diusir, ia tidak berani memikirkannya. Sedangkan Asep sudah siap dengan semua
kemungkinan, setelah sampai Husna menemui kedua orang tuanya yang duduk di
ruang tamu
“Pak, buk, mas Asep
mau ngomong sesuatu”
“Ngomong apa?
Ngelamar lagi?”
“Bapak saja yang
nemuin” Husna tidak berani mengatakannya dan langsung kembali ke ruang tamu,
orang tua Husna menemui Asep yang duduk disamping Husna
“Ada apa?” tanya
pak Anton
“Pak, Husna
hamil..” Asep mengucapkannya tanpa tedeng aling-aling “..tenang saja, saya pasti
tanggung jawab” pak Anton diam sesaat, lalu mendekati Asep dan memukulinya
“Dancok, Dancok!”
Pukulan pak Anto bertubi-tubi menghantam Asep, Husna coba melerai keduanya
“Pak, jangan
dipukul lagi” Husna menangis sambil memeluk Asep
“Aku nggak pengen
punya mantu kamu!”
Masa Sekarang
Asep menarik nafas
panjang setelah mengenang masa lau kemudian berkata dengan santai “Dia pantes
mati”
“Apa?” Samuji tidak
mengerti “Bukan tugas kita untuk menentukan siapa yang berhak hidup atau mati”
“DIA.. PANTAS..
MATI!” teriak Asep, dengan penekanan di setiap kata
“Bukan begini
caranya balas dendam” Samuji menghela nafas “Kamu mengecewakan Husna” Asep
melihat Samuji, lalu tersenyum
“Oh, kamu
menyukainya, kamu menyukai istriku”
“Enggak, nggak
seperti itu, dia temanku”
“TAI ASU!” teriakan
Asep menggema di gedung serba guna itu
“Baiklah cukup. Aku
akan membawamu ke kantor polisi”
“Coba saja”
Keduanya bersiap berkelahi, Asep melepas kaosnya, Samuji melepas mantel, topi
dan sepatunya. Keduanya berlari menghampiri masing-masing, Samuji mekayangkan
tendangan dua kaki sambil terjatuh, asep menghindar, tendangan Asep ke muka
Samuji berhasil ditahan dengan tangan, dan melempar kakinya menjauh. Setelah
berdiri Samuji bersiap memukul namun Asep mendahuluinya, wajah Samuji terkena
telak, serangan Asep semakin brutal kakinya menyerang kepala Samuji namun masih
mampu di tahan, Samuji lalu melepaskan pukulan ke arah rusuk Asep, lalu
menendang dada Asep dengan 2 kaki hingga Asep terdorong ke belakang, tak ingin
memberi waktu istirahat Samuji bersiap menyerang lagi, Asep mencari sesuatu di
tasnya, sebuah pistol
“Ini sudah
berakhir” Kata Asep pelan, Samuji mengangkat tangannya ke atas
“Ini tidak adil”
“Hidup memang tidak
adil jadi biasakan dirimu”
“Kalau berani kita
bertarung tangan kosong” keringat Samuji bercucuran
“Begini, karena kau
menyukai istriku aku akan menembakmu di bagian yang paling penting, jantungmu”
“Jangan sep,
membunuh tidak menyelesaikan masalah” kata Samuji sambil gemetaran
“Oh, sang detektif
takut”
“Kita teman kan?”
Samuji tersenyum hambar, Asep berpikir sejenak lalu bicara
“Ya, benar, karena
kita berteman aku akan memberitahumu sesuatu tentang Husna”
“Apa?”
“Malam itu, ketika
kami kawin dia melayaniku dengan baik..” Asep tersenyum jahat, raut wajah
Samuji berubah menjadi marah
“..tubuhnya,
desahannya, caranya menghisap..” kata Asep sambil menutup mata
“Hentikan!” teriak
Samuji
“..oh dan kamu tahu
bagaimana rasa bibirnya? Anggur” kata Asep sambil menjilat bibirnya
“Asu” kata Samuji
pelan
“Nah, walaupun kamu
tidak bisa merasakannya sekarang kamu bisa membayangkannya..” Asep bersiap
menarik pelatuknya “..selamat tinggal detektif bangsat”
Samuji hanya bisa
diam dan menutup mata, Asep menarik pelatuknya dan DOR!! Samuji kehilangan
keseimbangan, Asep tersenyum puas, namun sedetik kemudian Samuji bangkit dan
memukul leher Asep, lalu memukul telinga Asep yang sebelah kiri, saat Asep
tidak bisa bertahan serangan Samuji membabi buta mulai dari perut, dada hingga
muka, kemudian kembali memukul kedua telinga dan serangan membabi buta lagi, hingga
akhirnya Asep terjatuh tak sadarkan diri.
“Ini karena kamu
mengecewakan Husna..” Samuji memukul kepala Asep “..Dan Ini karena kamu
merendahkan Husna” Samuji membenturkan kepala Asep ke tembok, kepala Asep bocor
dan berlumuran darah. Setelah pertarungan selesai Samuji membuka bajunya, dia
memakai rompi anti peluru, pikirannya sejenak kembali beberapa saat lalu.
Beberapa saat lalu
“Ada lagi yang bisa
kami bantu ‘pak’?” Tanya Minto dengan nada mengejek
“Ya, ada 2 hal
lagi” kata Samuji sambil memejamkan mata “Pertama, aku ingin kamu ikut
denganku”
“Kemana?” Minto
bingung
“Ke rumah
pembunuhnya”
“Buat apa?”
“Andai rumahnya di
kunci kita dobrak rame-rame, andai dia kabur kita cegat, aku curiga dia akan
lari naik motor, kalau benar motornya V-Ixin aku tidak akan mampu
mengejarnya...”
“Oke, yang kedua?”
“Rompi anti peluru,
jaga-jaga kalau aku ditembak ditempat”
“Oke”
Masa sekarang
Samuji menelpon
Minto untuk menangkap Asep, setelah polisi datang Asep dibawa ke polsek dengan
keadaan pingsan. Samuji masih diam di tempat, memikirkan bagaimana reaksi
Husna, sedih atau marah, apakah dia akan membenci Samuji karena ini, begitu
banyak pertanyaan dalam pikirannya.
“Ji, keluarganya
datang ke polsek, kau mau menemui mereka?” Minto memberitahu
“Ya” Samuji bangkit
dan mengambil mantel dan topinya
“Kasus sudah
selesai?” tanya minto pelan
“Sudah” Samuji
menyalakan rokoknya dan menghembuskan nafas panjang. Setelah sampai di polsek
dia melihat Husna memeluk Asep yang masih pingsan dengan erat, Ibunya hanya
bisa menangis. Tanpa sepatah kata Samuji pulang, ia melempar rokoknya, kasus
ditutup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar