Kamis, 30 Maret 2017

Petualangan Detektif Samuji 1 - Pembunuhan Pak Anton (Bab 4)


DETEKTIF SAMUJI

BAB 4

Pria bernama Bahak itu dibawa ke polsek Bendorejo untuk di interogasi, karena ini kasusnya, Samuji yang akan menginterogasinya, sementara Minto menggeledah rumah Bahak untuk mencari bukti.
“Halo, mas Bahak” kata Samuji dengan senyum yang mengembang, Bahak masih diam
“Kenapa kamu membunuh pak Anton?” Bahak masih diam
“Bisa ngomong?” Tidak ada jawaban
“Dengar, jika kamu tidak berkata apapun, kau akan dikirim ke penjara”
“Memangnya kalau aku bilang aku akan dibebaskan?” akhirnya dia berkata sesuatu
“Enggak juga”
“Lagipula, aku punya hak untuk diam”
“Apa masalahmu dengan pak Anton?” Bahak kembali diam
“Beritahu aku sesuatu!!” Samuji mulai marah
“Kau belum pernah menginterogasi ya?” kata Bahak santai
“Samuji, tolong kamu keluar, biar kami yang atasi” terdengar suara petugas di speaker, Samuji lalu keluar, seorang petugas menghampirinya
“Kita diamkan dulu, nanti kalau dia sudah bosan pasti buka mulut”
“Iya” Samuji lalu menyalakan rokoknya “Minto belum kembali?”
“Belum” Samuji lalu duduk di kursi panjang tempat dia tadi tidur

Samuji duduk selama 2 jam dengan kesal, Minto datang dengan membawa beberapa berkas, Samuji langsung bangkit dan menanyai Minto.
“Gimana?”
“Kami sudah memeriksa rumahnya, kami menemukan sepatu boot, tripod dan senapannya, sesuai catatan kamu”
“Benar kalau begitu dia yang membunuhnya, tapi kenapa?”
“Dia belum bilang?”
“Belum” kata Samuji sambil menyalakan rokoknya yang kesekian “Berikan berkasnya padaku” Minto memberikan berkasnya. Samuji kembali masuk ke dalam ruang interogasi
“He, kamu yang membunuh pak Anton?” tanya samuji sambil melempar berkas di tangannya ke meja
“Iya” jawab Bahak santai
“Kenapa?” Bahak kembali diam, Samuji tidak bersabar lagi kali ini, ia melayangkan pukulan ke mukanya sampai Bahak jatuh di lantai, Minto langsung masuk ke dalam.
“Hahahahaha” Bahak tertawa
“Sabar ji” Minta menarik Samuji mundur
“Sabar kayak gimana lagi, kita sudah mendapatkan semuanya, jejak kaki yang cocok, tripod, senapan, pembunuh yang kurang hanya motif pembunuhannya” Samuji marah
“Dan jejak roda yang masih misteri” Minto menambahkan
“Hahahahahahahahaha..” Bahak tertawa, mereka berdua melihat ke arahnya “..Biar kutebak, jejak roda yang kalian cari adalah jejak roda standard V-Ixin?” Keduanya masih diam, saling memandang dengan tatapan heran, lalu Minto bertanya
“Dimana motor itu?”
“Oh, Aku tidak punya motor seperti itu” jawab Bahak santai
“Apa?” Samuji heran
“Ya, aku tidak punya, karena aku dibonceng” Bahak tersenyum jahat kearah keduanya
“Siapa yang bonceng kamu?” Samuji bertanya sambil mendekat
“Oh, Dia bukan hanya membonceng, tapi dia juga menjadi otak dari pembunuhan ini” Senyum jahat itu terus mengembang, Samuji terdiam sesaat
“Ji” Minto memanggil
“SIAPA DIA?!!” Samuji memukul Bahak, lebih keras dari sebelumnya.
“HAHAHAHA!” tawa Bahak lebih keras dari sebelumnya
“SIAPA?!!” Samuji memukul wajahnya lagi, lalu Minto menariknya
“HAHAHAHAHAHA!!!!, detektif..” Bahak diam sejenak “..Aku ingin menguji kecerdasanmu” Minto masih menahan Samuji.
“Menurutmu..” Bahak bangkit dan duduk di kursinya “..siapa orang yang punya motor V-Ixin dan punya masalah dengan pak Anton..” Samuji diam, Minto juga diam “..dan orang itu tau kapan pak Anton pergi ke sawah?” senyum jahat itu muncul lagi, kali ini terarah ke Samuji, mata Samuji membesar, dia tahu siapa yang dimaksud
“dancok” kata Samuji pelan
“Good Luck” Senyum jahat di wajah Bahak mengemabang
“DANCOOOOOOOOK!!!” Samuji lalu berlari ke luar ruangan, mengambil smartphone nya, melihat daftar kontak dan menelpon seseorang, namun tidak diangkat
“Angkaten na, angkaten!” teriaknya

Di rumah Husna

Husna sedang menjahit pakaian ketika itu smartphonenya berbunyi, namun ia mengabaikannya karena sedang serius menjahit

Di Polsek

Samuji mencoba menelpon Husna lagi, kali ini diangkat
“NA, DIMANA SUAMIMU?” teriak Samuji
“Keras banget, tadi katanya ke gedung serba guna Bendo, bulutangkis, ada..” telpon tersebut diputus
“Ya terima kasih” lokasinya yang tidak terlalu jauh membuat Samuji hanya berlari ke sana.

Sementara di Polsek

“Hahaha, temanmu itu cerdas juga ternyata” Bahak tertawa
“Yang kau katakan itu benar?” Minto memandangi Bahak dengan sambil menyilangkan tangannya
“Tentu” jawab Bahak santai
“Kalau benar kau tidak harus memancing emosinya kan, tinggal katakan siapa orangnya” Minto memberi saran
“Aku ingin melihat dia marah..” Bahak bicara dengan santai “..pada dasarnya aku suka melihat orang marah” Bahak tersenyum jahat
“Cok!” sahut minto marah dan memukulnya
“HAHAHA!!” Bahak tertawa lagi

Depan gedung serba guna

Di depan dia melihat ada satu motor di parkir, motor lanang dengan merk V-Ixin. Samuji membuka pintu dengan segenap keyakinannya dan saat pintu dibuka dia sudah ditunggu seseorang di kejauhan, Asep. Pria itu sedang memegangi raket bulutangkisnya
“Wah, ternyata Bahak bisa lama juga tutup mulut” Asep membuka pembicaraan
“Dia bahkan hampir tidak mau mengatakannya” Samuji melangkah maju
“Aku membayarnya dengan baik” Asep meletakkan raketnya
“Permainanmu kurang rapi, kau harusnya menggunakan racun”
“Aku memainkannya cukup rapi”
“Kau membawa Bahak ke bukit timur sawah untuk menembak pak Anton..” Samuji menjelaskan “..kau mengendarai motor melewati hutan untuk menghindari kecurigaan warga, membawa Bahak ke posisi yang enak untuk menembak, bahkan kalian juga membawa tripod, kalian juga menggunakan UTS-15, aku terkesan, ternyata kalian modal juga” Asep tertawa
“Ternyata kau pintar juga detektif” Asep memberikan tepuk tangan sarkas
“Kenapa kau membunuhnya?”
“Masalah pribadi”
“Padahal dia orang baik”
“Orang baik? Dia menghinaku!” Asep berteriak dan bergerak maju, Samuji diam dan berhenti melangkah “Dia menghinaku karena pengangguran, dia bahkan melarang aku dan Husna berpacaran” tiba tiba Asep mengingat kejadian di masa lalu

Beberapa bulan lalu

Asep dan Husna waktu itu pulang nonton bioskop di Tulungagung jam menunjukan pukul 19.55 merasa tidak enak karena pulang kemaleman Asep mengantar Husna sampai rumah karena tau dia pasti akan domarahi bapaknya
“Dari mana na?” tanya pak Anton begitu Husna masuk rumah
“Tulungagung pak sama mas Asep pak”
“Pak” Asep coba meraih tangan pak Anton namun ditolak
“Oh iya pak, mas Asep mau ngomong sesuatu”
“Ngomong apa?”
“Duduk dulu pak”
“Jadi begini pak, saya sudah mantap mau menikahi Husna, kalau bapak mengizinkan saya ajak orang tua saya kesini untuk melamar”
“Nikah? Kerjaan saja nggak punya gimana mau menafkahi anakku? Mau dikasih makan apa anakku? Daun? Kalau mau kasih makan daun nikah aja sama kambing!” Suara pak Anton menggema diruang tamu itu, Asep terdiam sejenak, Husna kaget mendengar jawaban Bapaknya
“Pak, kok ngomognnya gitu sih, mas Asep ini orangnya baik lo, niatnya juga baik”
“Kalau kerja saya bisa cari pak, asal bisa dapat restu anda”
“Nggak nggak pulang sana, kalau sudah mapan kesini lagi” pak Anton mengusir Asep

Beberapa hari kemudian

“Mas, hubungan kita gimana kelanjutannya?” Husna bingung
“Aku beneran mau serius sama kamu”
“Tapi bapak nggak bakal ngasih ijin kalau kamu nggak punya kerjaan”
“Kamu masalah nggak kalau aku nggak punya kerjaan?”
“Aku selama ini nggak permasalahin itu, tapi bapak gimana?”
“Kamu mau nikah sama aku?”
“Mau mas, tapi bapak gimana?”
“Ya sudah gini aja, kamu hamil saja, kalau sudah begitu masak iya tetep nggak ngasih restu?
“Apa?! Hamil? Gila apa kamu mas?” Husna kaget
“Aku pasti tanggung jawab, ini satu-satunya cara..” Asep coba menenangkan, Husna diam sambil menunduk “..percaya dek, aku sayang kamu” Husna akhirnya megangguk pelan

2 Mingu kemudian

Husna merasa tidak enak badan, dia merasa pusing dan muntah-,muntah, dia lalu menelpon Asep
“Mas, kayaknya aku hamil deh”
“Kamu yakin? Diperiksain dulu aja gimana? Biar yakin”
“Iya, jemput aku ya” sekitar setengah jam kemudian Asep sampai dirumah Husna untuk mengantar ke dokter kandungan, setelah di periksa dokter ternyata benar Husna hamil
“Selamat ya bu, anda hamil” Asep terlihat gembira mendengarnya, Husna merasa kaget dan bingung
“Dek, ayo pulang, kasih tau bapak”
“Sekarang?”
“Ya iya lah, terima kasih ya bu dokter”
“Iya, hati-hai bawa motornya mas” Setelah itu mereka berdua pulang kerumah Husna, entah apa yang akan dikatakan apaknya nanti, Husna takut, apa dia akan dipukul, apa justru diusir, ia tidak berani memikirkannya. Sedangkan Asep sudah siap dengan semua kemungkinan, setelah sampai Husna menemui kedua orang tuanya yang duduk di ruang tamu
“Pak, buk, mas Asep mau ngomong sesuatu”
“Ngomong apa? Ngelamar lagi?”
“Bapak saja yang nemuin” Husna tidak berani mengatakannya dan langsung kembali ke ruang tamu, orang tua Husna menemui Asep yang duduk disamping Husna
“Ada apa?” tanya pak Anton
“Pak, Husna hamil..” Asep mengucapkannya tanpa tedeng aling-aling “..tenang saja, saya pasti tanggung jawab” pak Anton diam sesaat, lalu mendekati Asep dan memukulinya
“Dancok, Dancok!” Pukulan pak Anto bertubi-tubi menghantam Asep, Husna coba melerai keduanya
“Pak, jangan dipukul lagi” Husna menangis sambil memeluk Asep
“Aku nggak pengen punya mantu kamu!”

Masa Sekarang

Asep menarik nafas panjang setelah mengenang masa lau kemudian berkata dengan santai “Dia pantes mati”
“Apa?” Samuji tidak mengerti “Bukan tugas kita untuk menentukan siapa yang berhak hidup atau mati”
“DIA.. PANTAS.. MATI!” teriak Asep, dengan penekanan di setiap kata
“Bukan begini caranya balas dendam” Samuji menghela nafas “Kamu mengecewakan Husna” Asep melihat Samuji, lalu tersenyum
“Oh, kamu menyukainya, kamu menyukai istriku”
“Enggak, nggak seperti itu, dia temanku”
“TAI ASU!” teriakan Asep menggema di gedung serba guna itu
“Baiklah cukup. Aku akan membawamu ke kantor polisi”
“Coba saja” Keduanya bersiap berkelahi, Asep melepas kaosnya, Samuji melepas mantel, topi dan sepatunya. Keduanya berlari menghampiri masing-masing, Samuji mekayangkan tendangan dua kaki sambil terjatuh, asep menghindar, tendangan Asep ke muka Samuji berhasil ditahan dengan tangan, dan melempar kakinya menjauh. Setelah berdiri Samuji bersiap memukul namun Asep mendahuluinya, wajah Samuji terkena telak, serangan Asep semakin brutal kakinya menyerang kepala Samuji namun masih mampu di tahan, Samuji lalu melepaskan pukulan ke arah rusuk Asep, lalu menendang dada Asep dengan 2 kaki hingga Asep terdorong ke belakang, tak ingin memberi waktu istirahat Samuji bersiap menyerang lagi, Asep mencari sesuatu di tasnya, sebuah pistol
“Ini sudah berakhir” Kata Asep pelan, Samuji mengangkat tangannya ke atas
“Ini tidak adil”
“Hidup memang tidak adil jadi biasakan dirimu”
“Kalau berani kita bertarung tangan kosong” keringat Samuji bercucuran
“Begini, karena kau menyukai istriku aku akan menembakmu di bagian yang paling penting, jantungmu”
“Jangan sep, membunuh tidak menyelesaikan masalah” kata Samuji sambil gemetaran
“Oh, sang detektif takut”
“Kita teman kan?” Samuji tersenyum hambar, Asep berpikir sejenak lalu bicara
“Ya, benar, karena kita berteman aku akan memberitahumu sesuatu tentang Husna”
“Apa?”
“Malam itu, ketika kami kawin dia melayaniku dengan baik..” Asep tersenyum jahat, raut wajah Samuji berubah menjadi marah
“..tubuhnya, desahannya, caranya menghisap..” kata Asep sambil menutup mata
“Hentikan!” teriak Samuji
“..oh dan kamu tahu bagaimana rasa bibirnya? Anggur” kata Asep sambil menjilat bibirnya
“Asu” kata Samuji pelan
“Nah, walaupun kamu tidak bisa merasakannya sekarang kamu bisa membayangkannya..” Asep bersiap menarik pelatuknya “..selamat tinggal detektif bangsat”
Samuji hanya bisa diam dan menutup mata, Asep menarik pelatuknya dan DOR!! Samuji kehilangan keseimbangan, Asep tersenyum puas, namun sedetik kemudian Samuji bangkit dan memukul leher Asep, lalu memukul telinga Asep yang sebelah kiri, saat Asep tidak bisa bertahan serangan Samuji membabi buta mulai dari perut, dada hingga muka, kemudian kembali memukul kedua telinga dan serangan membabi buta lagi, hingga akhirnya Asep terjatuh tak sadarkan diri.
“Ini karena kamu mengecewakan Husna..” Samuji memukul kepala Asep “..Dan Ini karena kamu merendahkan Husna” Samuji membenturkan kepala Asep ke tembok, kepala Asep bocor dan berlumuran darah. Setelah pertarungan selesai Samuji membuka bajunya, dia memakai rompi anti peluru, pikirannya sejenak kembali beberapa saat lalu.

Beberapa saat lalu

“Ada lagi yang bisa kami bantu ‘pak’?” Tanya Minto dengan nada mengejek
“Ya, ada 2 hal lagi” kata Samuji sambil memejamkan mata “Pertama, aku ingin kamu ikut denganku”
“Kemana?” Minto bingung
“Ke rumah pembunuhnya”
“Buat apa?”
“Andai rumahnya di kunci kita dobrak rame-rame, andai dia kabur kita cegat, aku curiga dia akan lari naik motor, kalau benar motornya V-Ixin aku tidak akan mampu mengejarnya...”
“Oke, yang kedua?”
“Rompi anti peluru, jaga-jaga kalau aku ditembak ditempat”
“Oke”

Masa sekarang

Samuji menelpon Minto untuk menangkap Asep, setelah polisi datang Asep dibawa ke polsek dengan keadaan pingsan. Samuji masih diam di tempat, memikirkan bagaimana reaksi Husna, sedih atau marah, apakah dia akan membenci Samuji karena ini, begitu banyak pertanyaan dalam pikirannya.
“Ji, keluarganya datang ke polsek, kau mau menemui mereka?” Minto memberitahu
“Ya” Samuji bangkit dan mengambil mantel dan topinya
“Kasus sudah selesai?” tanya minto pelan
“Sudah” Samuji menyalakan rokoknya dan menghembuskan nafas panjang. Setelah sampai di polsek dia melihat Husna memeluk Asep yang masih pingsan dengan erat, Ibunya hanya bisa menangis. Tanpa sepatah kata Samuji pulang, ia melempar rokoknya, kasus ditutup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar