DETEKTIF SAMUJI
Keadaan di rumah bercat putih itu berbeda 180 derajat
dengan keadaan seminggu lalu, janur kuning berubah menjadi bendera kuning, tawa
suka cita menjadi tangis duka cita, Samuji duduk di kursi panjang dibawah pohon
mangga bersama beberapa orang, banyak desas desus di sana tentang kematian pak
Anton.
“Pak Anton pasti
meninggal karena anaknya nikah nggak milih hari baik” kata seorang warga
“Omong kosong dia
ditembak, pasti ini pembunuhan” jawab seorang warga lagi dengan penuh keyakinan
“Siapa tahu peluru
nyasar” seorang warga ikut ngomong
“Salah sendiri
kenapa peluru tidak bawa alamat, jadinya nyasar deh” Samuji mendengarkan
lelucon garing itu dengan perasaan sedih, banyak spekulasi diantara masyarakat,
tapi Samuji masih diam, dia tidak ingin membuat teori sebelum ada data. Setelah
di sholatkan jenazah bersiap diantar ke tempat peristirahatan terakhir, sebelum
diberangkatkan kyai menanyai warga tentang bagaimana pak Anton semasa hidupnya
warga pun menjawab “Sae” 3 kali, setelah itu jenazah diberangkatkan ke kuburan,
Samuji ikut mengantar ke kuburan, setelah mendoakan dan dikubur kuburan
dilempar tanah 3 kali, maksudnya apa juga dia tidak tahu, setelah semua orang
pulang Samuji masih berdiri disana, beberapa lama kemudian Samuji lalu kembali
ke rumah Husna, untuk mencari tahu kebenaran tentang kematian pak Anton. Husna
masih menangis, tidak apa-apa Samuji tahu betul bagaimana rasanya ditinggal
mati orang tua. Setelah hampir 3 jam Husna menemui Samuji, masih dengan suara
serak.
“Lama menunggu?”
Husna menghampiri Samuji yang duduk di depan rumah
“Enggak kok, kamu
gimana sekarang?” Husna diam, Samuji menarik nafas “Gak apa-apa kalau kamu
sedih, aku ngerti kok”
“Kamu enggak
ngerti”
“Kamu ingin marah,
bukan hanya marah, sedih juga, semuanya campur aduk...” kata Samuji sambil
menerawang, Husna masih diam
“...Lalu, ada orang
yang ngomong mereka ngerti perasaanmu, padahal sebenarnya enggak” kali ini
Samuji melirik Husna
“Benar juga bapak
kamu sudah nggak ada ya. Ji, bapak ditembak” Husna mulai bicara
“Lokasinya?” tanya
Samuji sambil mengeluarkan buku catatannya
“Di sawah”
“Ada yang kamu
curigai?”
“Enggak ada”
“Ada Pelurunya?”
“Ada di dapur, mau
diambilkan?”
“Tentu” beberapa
saat kemudian Husna kembali dengan plastik kecil
“Aku tidak membawa
peralatan, nanti aku selidiki”
“Mau diapakan itu?”
“Sidik jari”
“Oh, aku minta
tolong ya” Husna memelas
“Pasti aku tolong”
Senyum Samuji berusaha menguatkan
Setelah pulang Samuji lalu mengambil kuasnya dan mulai
mencari sidik jari di pelurunya, setelah lama mencari tidak ada sidik jari yang
ditemukan di peluru itu, orang itu tidak meninggalkan sidik jari, sepertinya
ini pembunuhan berencana. Samuji mengambil smartphone nya, lalu menelfon Husna.
“Na, di pelurunya
nggak ada sidik jarinya”
“Yah, terus?”
“Kita periksa di
TKP aja”
“Bapak meninggalnya
di sawah kayujaran, kamu tau tempatnya?”
“Enggak, Anter aku
ya?”
“Kapan?”
“Sekarang”
“Oke” Samuji lalu
pergi ke rumah Husna menjemputnya, kali ini ia bergegas waktu sudah menunjukan
pukul 15.26, Husna sudah menunggu di depan rumah sambil memegangi helm, setelah
Husna naik tiba-tiba suaminya datang membawa kertas kardus dengan naik “montor
lanang”
“Mas aku mau ke
sawah kayujaran dulu ya?” Husna meminta ijin dan mencium tangan suaminya,
mendadak Samuji ingin pergi dari sana
“Ya, hati-hati ya”
“Oke” Asep
memandangi Samuji lalu mengangguk pelan, Samuji pun juga mengangguk. setelah
selesai pembicaraan itu Samuji langsung melaju ke kayujaran dari perempatan
bendo ke utara sampai ada pertigaan ke arah gunung, di sebelah selatan jalan
adalah sawah pak Anton.
“Disana ji” kata
Husna sambil menunjuk ke arah sawah, mereka pun berhenti
“Yakin?”
“Yakin” keduanya
melepas helmnya
“Oke, ayo turun”
Husna dan Samuji turun dari motor melihat-lihat sebentar Samuji lalu terjun ke
sawah, Samuji melihat posisi sawahnya sekilas
“Posisinya gak
menguntungkan, dia bisa ditembak dari segala arah disini”
“Masak iya ditembak
dari segala arah, la wong pelurunya lo cuma 1”
“Mari kita perkecil
kemungkinannya”
“Katanya Bapak
jatuhnya ke arah timur, mungkin penembaknya dari arah timur” Samuji melihat ada
bekas tubuh manusia di tanah tapi tercampur dengan beberapa jejak kaki, mungkin
yang mengangkat, Samuji membayangkan kejadian itu, pak Anton sedang memotong
padi saat lelah dan sedikit mendongak ke atas dia seketika itu juga ditembak.
Samuji bangkit melihat sekeliling, di sekitar sawahnya tidak ada bekas jejak
aktivitas atau jejak kaki, karena padi di sekitarnya masih belum bisa dipanen,
kalau bukan jarak dekat berarti Long range shot[1].
Pak Anton tingginya hampir sama dengan Samuji, Samuji
kemudian membayangkan diposisi pak Anton, mengeluarkan teropong dan melihat ke
arah bukit timur, mungkin disana.
“Ngomong-ngomong
yang ngangkat siapa?”
“Orang sini,
katanya denger suara tembakan lalu keluar rumah”
“Kita tanya orang
dekat sini dulu” mereka berdua pergi menanyai rumah dekat sawah
“Kulonuwun[2]”
Samuji mengetuk pintu rumah, beberapa saat kemudian pintu terbuka, seorang pria
yang berusia sekitar 38 tahun
“Enggeh[3],
nyari siapa?”
“Detektif Samuji..”
kata Samuji tegas sambil menunjukkan tanda pengenal “..kami cuma ingin bertanya
siapa yang tadi pagi ngangkat pak Anton yang tertembak di sawah, katanya orang
dekat sini yang bantu ngangkat” Samuji lalu membuka buku catatannya
“Oh, saya tadi yang
ngangkat sama pak Nur, tadi kami ngobrol santai di sini..” katanya sambil
menunjuk kursi di depan rumahnya, diikuti pandangan mereka berdua
“..lalu terdengar
suara tembakan, kami bangkit lalu ngangkat pak Anton” Samuji menulis sesuatu di
buku catatannya
“Sebentar sebentar,
pak Nur itu siapa? Bapak sendiri namanya siapa?”
“Pak Nur itu yang
rumahnya disitu..” katanya sambil menunjuk ke rumah di sebelahnya “..nama saya
Bagio”
“Bapak kenal pak
Anton?” Husna ikut bertanya, Samuji berhenti menulis
“Kenal, sawah saya
sebelahnya pak Anton”
“Berapa orang yang
ngangkat pak Anton?” Samuji melanjutkan
“Cuma saya sama pak
Nur” Samuji kembali menulis
“Bapak tau arah
tembakannya dari mana?”
“Kayaknya dari
timur, soalnya pak Anton jatuhnya menghadap ke timur”
“Oh gitu, ya sudah,
matursembahnuwun[4]
nggeh pak” Samuji menutup bukunya dan memasukkan catatannya ke dalam saku
mantelnya
“Iya iya”
Samuji dan Husna pergi ke bukit timur untuk mengecek
apakah ada petunjuk di sana, sebelum naik ke bukit Samuji bertanya pada orang
tua yang duduk didepan rumah, semakin banyak petunjuk semakin bagus.
“Kulonuwun pak”
Sapa Samuji ramah
“Enggeh, wonten
nopo mas[5]?”
“Mau tanya pak,
hari ini di pagi hari, apa ada orang yang datang ke bukit ini?”
“Mboten ngertos
mas[6]”
kata pria berambut putih tersebut
“Oalah, nggeh
lekne ngoten[7],
matursuwun pak” Mereka berdua lalu naik ke atas, tidak jauh dari rumah
bapak-bapak tua tadi ada pemakaman, mereka berdua naik lagi, cukup tinggi,
hingga Samuji melihat jejak sepatu, jejak sepatu di bukit yang jarang ada orang
naik? Sangat mencurigakan. Samuji memotretnya dengan smartphone dan
mengeluarkan teropongnya, melihat ke arah sawah dan terlihat jelas meskipun
jauh, pandangannya melihat sekitar, tanahnya dilihat lagi ada 3 lubang kecil, tripod,
Husna hanya diam melihat Samuji melakukan kegiatannya, satu yang mengganggu
Samuji, di sini ada jejak sepatu namun dibawah tidak ada, naik darimana si
pembunuh ini, Samuji kembali melihat sekeliling, lalu melanjutkan berjalan dia
menemukan jejak sepatu lagi tidak jauh dari tempat tadi, dibuka smartphonenya,
dicocokan, sama. Samuji terus berjalan, dia menemukan tanah menurun dan jejak
kaki itu berganti jejak ban, Samuji memotretnya lagi, jika di lihat motor itu
melalui jalan setapak bukan jalan aspal, melewati hutan, pembunuhnya lewat
hutan untuk menghindari kecurigaan warga, sudah jelas ini pembunuhan berencana,
pembunuh itu tau seluk beluk daerah disini, saat Samuji sibuk dengan pikirannya
Husna memanggilnya.
“Ji, sudah sore,
pulang yuk”
“Sebentar na”
Samuji mengeluarkan buku catatannya, menulis yang dia ketahui
“Aku mau masak”
“Ya sudah ayo
pulang” buku itu dimasukkan lagi ke saku jaketnya
“Gimana?
Pembunuhnya sudah ketahuan?”
“Belum, hampir,
kita sudah dapat jejak kaki, jejak sepeda motornya”
“Apa itu bisa
membantu?”
“Belum, pelurunya,
pelurunya pasti tidak dibeli disini”
“Kok tau?”
“Ini Trenggalek,
siapa yang mau jualan peluru disini? Yang jualan kue saja satu-dua” keduanya
menuruni bukit itu dengan perasaan bingung
Setelah mengantar pulang Husna, Samuji pulang dengan
penuh semangat untuk menyelesaikan kasusnya, sesampainya di rumah, Samuji
melihat pelurunya, ada tulisan NMWT 6.5 oz 9999 CU, Samuji lalu mencari
nama peluru itu di situs jual beli, tutuplapak dan tokowiki. Namun tidak
satu pun yang menjual peluru tersebut, dia benar-benar buntu namun dia tidak
boleh menyerah, dia menulis jenis peluru tersebut di google dan mempelajari
tentangnya, tapi karena kelelahan akhirnya Samuji ketiduran di depamn
laptopnya. Pagi harinya Samuji memutuskan melihat petunjuk yang lebih jelas
seperti jejak sepatu dan jejak roda, dia pergi ke toko sepatu untuk menanyakan
jejak sepatu lebih dulu, Samuji bertanya pada pegawai toko sepatu di Bendorejo Awet
Sekali.
“Mbak, Detektif
Samuji, mbak tau ini jenis sepatu apa?” kata Samuji sambil menunjukan tanda
pengenal dan foto jejak sepatu, mbak pegawai melihat dengan seksama
“Kayak pernah lihat
ya mas, jenis sepatu boot kalau nggak salah, coba cek deh” Mbak pegawai toko
mengantar Samuji memeriksa sepatu boot di toko itu, toko itu memang cuma 1
lantai tapi barangnya cukup lengkap, akhirnya mereka sampai di bagian sepatu
boot mungkin ada yang cocok pikir Samuji dalam hati. Dari puluhan hanya ada 2
yang mirip, Samuji menulis merknya.
“Makasih ya mbak”
“Iya pak detektif”
setelah itu Samuji mengunjungi bengkel untuk bertanya tentang jejak roda yang
ditemuinya, ada bengkel di selatan Awet sekali. Bengkel itu milik bapak
temen Samuji di tempat ngaji dulu, Bengkel Pak Dibyo.
“Pak dib, kulonuwun”
kata Samuji sambil mengetuk pintu
“Enggeh ji.
Ada apa?” suara pak Dib terdengar dari dalam rumah
“Pak mau nanya, ini
jejak roda motor apa ya?” Samuji menunjukkan foto jejak roda yang di fotonya
“Oh, ini jejak ban
standard V-Ixin kayaknya”
“Oh, motor V-Ixin
ya, makasih ya pak” Samuji hendak pergi namun tiba-tiba ada sesuatu yang
mengganjal “Eh pak ada kemungkinan gak kalau ban ini dipakai motor lain?”
“Ada, kalau
motornya cocok, karena kan gak semua ban untuk semua motor, ada yang khusus”
“Oh, makasih ya
pak”
“Ya, ji. Hati-hati”
Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala Samuji gak
semua ban untuk semua motor, ada yang khusus, gak semua ban ... untuk semua
motor ... ada yang khusus, gak semua peluru ... untuk semua senapan ... ada
yang khusus, Samuji pulang dan melihat pelurunya lagi, dan mengetik jenis
pelurunya di google dan yah, peluru itu cocok untuk beberapa senapan, namun
utamanya untuk Shotgun, misteri ini semakin jelas, dia menulis merk peluru dan
beberapa jenis senapannya, untuk dibawa ke kantor polisi, agar dapat memiliki
senapan kamu pasti butuh surat ijin kepolisian kan. Sedikit lagi na, sedikit lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar