Kamis, 30 Maret 2017

Petualangan Detektif Samuji 1 - Pembunuhan Pak Anton (Bab 2)


DETEKTIF SAMUJI

BAB 2

Keadaan di rumah bercat putih itu berbeda 180 derajat dengan keadaan seminggu lalu, janur kuning berubah menjadi bendera kuning, tawa suka cita menjadi tangis duka cita, Samuji duduk di kursi panjang dibawah pohon mangga bersama beberapa orang, banyak desas desus di sana tentang kematian pak Anton.
“Pak Anton pasti meninggal karena anaknya nikah nggak milih hari baik” kata seorang warga
“Omong kosong dia ditembak, pasti ini pembunuhan” jawab seorang warga lagi dengan penuh keyakinan
“Siapa tahu peluru nyasar” seorang warga ikut ngomong
“Salah sendiri kenapa peluru tidak bawa alamat, jadinya nyasar deh” Samuji mendengarkan lelucon garing itu dengan perasaan sedih, banyak spekulasi diantara masyarakat, tapi Samuji masih diam, dia tidak ingin membuat teori sebelum ada data. Setelah di sholatkan jenazah bersiap diantar ke tempat peristirahatan terakhir, sebelum diberangkatkan kyai menanyai warga tentang bagaimana pak Anton semasa hidupnya warga pun menjawab “Sae” 3 kali, setelah itu jenazah diberangkatkan ke kuburan, Samuji ikut mengantar ke kuburan, setelah mendoakan dan dikubur kuburan dilempar tanah 3 kali, maksudnya apa juga dia tidak tahu, setelah semua orang pulang Samuji masih berdiri disana, beberapa lama kemudian Samuji lalu kembali ke rumah Husna, untuk mencari tahu kebenaran tentang kematian pak Anton. Husna masih menangis, tidak apa-apa Samuji tahu betul bagaimana rasanya ditinggal mati orang tua. Setelah hampir 3 jam Husna menemui Samuji, masih dengan suara serak.
“Lama menunggu?” Husna menghampiri Samuji yang duduk di depan rumah
“Enggak kok, kamu gimana sekarang?” Husna diam, Samuji menarik nafas “Gak apa-apa kalau kamu sedih, aku ngerti kok”
“Kamu enggak ngerti”
“Kamu ingin marah, bukan hanya marah, sedih juga, semuanya campur aduk...” kata Samuji sambil menerawang, Husna masih diam
“...Lalu, ada orang yang ngomong mereka ngerti perasaanmu, padahal sebenarnya enggak” kali ini Samuji melirik Husna
“Benar juga bapak kamu sudah nggak ada ya. Ji, bapak ditembak” Husna mulai bicara
“Lokasinya?” tanya Samuji sambil mengeluarkan buku catatannya
“Di sawah”
“Ada yang kamu curigai?”
“Enggak ada”
“Ada Pelurunya?”
“Ada di dapur, mau diambilkan?”
“Tentu” beberapa saat kemudian Husna kembali dengan plastik kecil
“Aku tidak membawa peralatan, nanti aku selidiki”
“Mau diapakan itu?”
“Sidik jari”
“Oh, aku minta tolong ya” Husna memelas
“Pasti aku tolong” Senyum Samuji berusaha menguatkan

Setelah pulang Samuji lalu mengambil kuasnya dan mulai mencari sidik jari di pelurunya, setelah lama mencari tidak ada sidik jari yang ditemukan di peluru itu, orang itu tidak meninggalkan sidik jari, sepertinya ini pembunuhan berencana. Samuji mengambil smartphone nya, lalu menelfon Husna.
“Na, di pelurunya nggak ada sidik jarinya”
“Yah, terus?”
“Kita periksa di TKP aja”
“Bapak meninggalnya di sawah kayujaran, kamu tau tempatnya?”
“Enggak, Anter aku ya?”
“Kapan?”
“Sekarang”
“Oke” Samuji lalu pergi ke rumah Husna menjemputnya, kali ini ia bergegas waktu sudah menunjukan pukul 15.26, Husna sudah menunggu di depan rumah sambil memegangi helm, setelah Husna naik tiba-tiba suaminya datang membawa kertas kardus dengan naik “montor lanang”
“Mas aku mau ke sawah kayujaran dulu ya?” Husna meminta ijin dan mencium tangan suaminya, mendadak Samuji ingin pergi dari sana
“Ya, hati-hati ya”
“Oke” Asep memandangi Samuji lalu mengangguk pelan, Samuji pun juga mengangguk. setelah selesai pembicaraan itu Samuji langsung melaju ke kayujaran dari perempatan bendo ke utara sampai ada pertigaan ke arah gunung, di sebelah selatan jalan adalah sawah pak Anton.
“Disana ji” kata Husna sambil menunjuk ke arah sawah, mereka pun berhenti
“Yakin?”
“Yakin” keduanya melepas helmnya
“Oke, ayo turun” Husna dan Samuji turun dari motor melihat-lihat sebentar Samuji lalu terjun ke sawah, Samuji melihat posisi sawahnya sekilas
“Posisinya gak menguntungkan, dia bisa ditembak dari segala arah disini”
“Masak iya ditembak dari segala arah, la wong pelurunya lo cuma 1”
“Mari kita perkecil kemungkinannya”
“Katanya Bapak jatuhnya ke arah timur, mungkin penembaknya dari arah timur” Samuji melihat ada bekas tubuh manusia di tanah tapi tercampur dengan beberapa jejak kaki, mungkin yang mengangkat, Samuji membayangkan kejadian itu, pak Anton sedang memotong padi saat lelah dan sedikit mendongak ke atas dia seketika itu juga ditembak. Samuji bangkit melihat sekeliling, di sekitar sawahnya tidak ada bekas jejak aktivitas atau jejak kaki, karena padi di sekitarnya masih belum bisa dipanen, kalau bukan jarak dekat berarti Long range shot[1].

Pak Anton tingginya hampir sama dengan Samuji, Samuji kemudian membayangkan diposisi pak Anton, mengeluarkan teropong dan melihat ke arah bukit timur, mungkin disana.
“Ngomong-ngomong yang ngangkat siapa?”
“Orang sini, katanya denger suara tembakan lalu keluar rumah”
“Kita tanya orang dekat sini dulu” mereka berdua pergi menanyai rumah dekat sawah
Kulonuwun[2]” Samuji mengetuk pintu rumah, beberapa saat kemudian pintu terbuka, seorang pria yang berusia sekitar 38 tahun
Enggeh[3], nyari siapa?”
“Detektif Samuji..” kata Samuji tegas sambil menunjukkan tanda pengenal “..kami cuma ingin bertanya siapa yang tadi pagi ngangkat pak Anton yang tertembak di sawah, katanya orang dekat sini yang bantu ngangkat” Samuji lalu membuka buku catatannya
“Oh, saya tadi yang ngangkat sama pak Nur, tadi kami ngobrol santai di sini..” katanya sambil menunjuk kursi di depan rumahnya, diikuti pandangan mereka berdua
“..lalu terdengar suara tembakan, kami bangkit lalu ngangkat pak Anton” Samuji menulis sesuatu di buku catatannya
“Sebentar sebentar, pak Nur itu siapa? Bapak sendiri namanya siapa?”
“Pak Nur itu yang rumahnya disitu..” katanya sambil menunjuk ke rumah di sebelahnya “..nama saya Bagio”
“Bapak kenal pak Anton?” Husna ikut bertanya, Samuji berhenti menulis
“Kenal, sawah saya sebelahnya pak Anton”
“Berapa orang yang ngangkat pak Anton?” Samuji melanjutkan
“Cuma saya sama pak Nur” Samuji kembali menulis
“Bapak tau arah tembakannya dari mana?”
“Kayaknya dari timur, soalnya pak Anton jatuhnya menghadap ke timur”
“Oh gitu, ya sudah, matursembahnuwun[4] nggeh pak” Samuji menutup bukunya dan memasukkan catatannya ke dalam saku mantelnya
“Iya iya”

Samuji dan Husna pergi ke bukit timur untuk mengecek apakah ada petunjuk di sana, sebelum naik ke bukit Samuji bertanya pada orang tua yang duduk didepan rumah, semakin banyak petunjuk semakin bagus.
Kulonuwun pak” Sapa Samuji ramah
Enggeh, wonten nopo mas[5]?
“Mau tanya pak, hari ini di pagi hari, apa ada orang yang datang ke bukit ini?”
Mboten ngertos mas[6]” kata pria berambut putih tersebut
“Oalah, nggeh lekne ngoten[7], matursuwun pak” Mereka berdua lalu naik ke atas, tidak jauh dari rumah bapak-bapak tua tadi ada pemakaman, mereka berdua naik lagi, cukup tinggi, hingga Samuji melihat jejak sepatu, jejak sepatu di bukit yang jarang ada orang naik? Sangat mencurigakan. Samuji memotretnya dengan smartphone dan mengeluarkan teropongnya, melihat ke arah sawah dan terlihat jelas meskipun jauh, pandangannya melihat sekitar, tanahnya dilihat lagi ada 3 lubang kecil, tripod, Husna hanya diam melihat Samuji melakukan kegiatannya, satu yang mengganggu Samuji, di sini ada jejak sepatu namun dibawah tidak ada, naik darimana si pembunuh ini, Samuji kembali melihat sekeliling, lalu melanjutkan berjalan dia menemukan jejak sepatu lagi tidak jauh dari tempat tadi, dibuka smartphonenya, dicocokan, sama. Samuji terus berjalan, dia menemukan tanah menurun dan jejak kaki itu berganti jejak ban, Samuji memotretnya lagi, jika di lihat motor itu melalui jalan setapak bukan jalan aspal, melewati hutan, pembunuhnya lewat hutan untuk menghindari kecurigaan warga, sudah jelas ini pembunuhan berencana, pembunuh itu tau seluk beluk daerah disini, saat Samuji sibuk dengan pikirannya Husna memanggilnya.
“Ji, sudah sore, pulang yuk”
“Sebentar na” Samuji mengeluarkan buku catatannya, menulis yang dia ketahui
“Aku mau masak”
“Ya sudah ayo pulang” buku itu dimasukkan lagi ke saku jaketnya
“Gimana? Pembunuhnya sudah ketahuan?”
“Belum, hampir, kita sudah dapat jejak kaki, jejak sepeda motornya”
“Apa itu bisa membantu?”
“Belum, pelurunya, pelurunya pasti tidak dibeli disini”
“Kok tau?”
“Ini Trenggalek, siapa yang mau jualan peluru disini? Yang jualan kue saja satu-dua” keduanya menuruni bukit itu dengan perasaan bingung

Setelah mengantar pulang Husna, Samuji pulang dengan penuh semangat untuk menyelesaikan kasusnya, sesampainya di rumah, Samuji melihat pelurunya, ada tulisan NMWT 6.5 oz 9999 CU, Samuji lalu mencari nama peluru itu di situs jual beli, tutuplapak dan tokowiki. Namun tidak satu pun yang menjual peluru tersebut, dia benar-benar buntu namun dia tidak boleh menyerah, dia menulis jenis peluru tersebut di google dan mempelajari tentangnya, tapi karena kelelahan akhirnya Samuji ketiduran di depamn laptopnya. Pagi harinya Samuji memutuskan melihat petunjuk yang lebih jelas seperti jejak sepatu dan jejak roda, dia pergi ke toko sepatu untuk menanyakan jejak sepatu lebih dulu, Samuji bertanya pada pegawai toko sepatu di Bendorejo Awet Sekali.
“Mbak, Detektif Samuji, mbak tau ini jenis sepatu apa?” kata Samuji sambil menunjukan tanda pengenal dan foto jejak sepatu, mbak pegawai melihat dengan seksama
“Kayak pernah lihat ya mas, jenis sepatu boot kalau nggak salah, coba cek deh” Mbak pegawai toko mengantar Samuji memeriksa sepatu boot di toko itu, toko itu memang cuma 1 lantai tapi barangnya cukup lengkap, akhirnya mereka sampai di bagian sepatu boot mungkin ada yang cocok pikir Samuji dalam hati. Dari puluhan hanya ada 2 yang mirip, Samuji menulis merknya.
“Makasih ya mbak”
“Iya pak detektif” setelah itu Samuji mengunjungi bengkel untuk bertanya tentang jejak roda yang ditemuinya, ada bengkel di selatan Awet sekali. Bengkel itu milik bapak temen Samuji di tempat ngaji dulu, Bengkel Pak Dibyo.
“Pak dib, kulonuwun” kata Samuji sambil mengetuk pintu
Enggeh ji. Ada apa?” suara pak Dib terdengar dari dalam rumah
“Pak mau nanya, ini jejak roda motor apa ya?” Samuji menunjukkan foto jejak roda yang di fotonya
“Oh, ini jejak ban standard V-Ixin kayaknya
“Oh, motor V-Ixin ya, makasih ya pak” Samuji hendak pergi namun tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal “Eh pak ada kemungkinan gak kalau ban ini dipakai motor lain?”
“Ada, kalau motornya cocok, karena kan gak semua ban untuk semua motor, ada yang khusus”
“Oh, makasih ya pak”
“Ya, ji. Hati-hati”
Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala Samuji gak semua ban untuk semua motor, ada yang khusus, gak semua ban ... untuk semua motor ... ada yang khusus, gak semua peluru ... untuk semua senapan ... ada yang khusus, Samuji pulang dan melihat pelurunya lagi, dan mengetik jenis pelurunya di google dan yah, peluru itu cocok untuk beberapa senapan, namun utamanya untuk Shotgun, misteri ini semakin jelas, dia menulis merk peluru dan beberapa jenis senapannya, untuk dibawa ke kantor polisi, agar dapat memiliki senapan kamu pasti butuh surat ijin kepolisian kan. Sedikit lagi na, sedikit lagi.



[1] Tembakan jarak jauh
[2] Permisi
[3] Iya
[4] Terima kasih banyak
[5] Iya, ada apa mas?
[6] Tidak tau mas
[7] Ya sudah kalau begitu



Tidak ada komentar:

Posting Komentar