Kamis, 30 Maret 2017

Petualangan Detektif Samuji 1 - Pembunuhan Pak Anton (Bab 3)

DETEKTIF SAMUJI

BAB 3

Samuji langsung pergi ke polsek Bendorejo, tempat temannya bekerja, Minto namanya, mereka teman sejak SD, ketika Samuji butuh apapun Minto selalu ada ketika Minto butuh apapun Samuji malah sebaliknya, eh. Setelah memarkir motornya Samuji masuk ke polsek, terlihat temannya sedang bermain game online.
“To, aku ada kasus pembunuhan” Samuji langsung bicara tanpa salam atau apapun
“Siapa yang dibunuh?” Minto santai mendengarnya sambil main smartphone, dia tahu kalau temannya ini datang pasti butuh bantuan
“Bapaknya Husna, temenku SMP”
“Aku nggak kenal, terus?” masih sibuk main smartphone
“Ini aku dapat beberapa jenis senapannya, dan pelurunya. Tolong kamu cek siapa pemiliknya” kata Samuji sambil menunjukkan catatannya
“Mati miya monyet” Seru Minto sambil memainkan smartphonenya
“To denger nggak sih”
“Ini bisa makan waktu lama” Minto menjawab masih dengan bermain game online
“Persempit pada jenis senapannya saja”
“Tetap saja”
“Persempit lagi daerahnya hanya di Trenggalek”
“Meskipun begitu tetap butuh waktu lama”
“Kalau begitu cepat mulai”
“Udah ditolong merintah merintah lagi, kampret” kata Minto dengan kesal
“Kampret kan kelelawar, kelelawar kan Batman, Batman kan World Greatest Detective, makasih ya” Kata Samuji sambil cengengesan
“TER-SE-RAH!!” Minto berlalu dengan nada tinggi

Enam Jam Kemudian

Samuji tertidur di polsek, dia lelah, lapar dan ngantuk, dia tertidur di kursi kayu panjang sambil mangap, tiba-tiba suara keras terdengar.
“KAMPRET!!” Samuji seketika bangun dan jatuh di lantai
“Cok” Melihat minto sejenak “Ada apa?”
“Kita sudah temukan pemilik senapannya, ada 3 orang” Minto menunjukkan daftar lalu melanjutkan “Pertama orang Ngadirenggo, Melis dan Kerjo”
“Aku akan mulai dari yang paling deket, Ngadirenggo” kata samuji sambil mengucek matanya
”Semoga beruntung, ada lagi yang bisa kami bantu ‘pak’?” Tanya Minto dengan nada mengejek
“Ya, ada 2 hal lagi..” kata Samuji santai sambil memejamkan mata

Desa Ngadirenggo

Rumah itu di RT 5, harusnya daerah sini, orang pertama yang dia cari adalah Imron, orang yang memiliki Senapan Benelli M4, rumah itu sepi sepertinya tidak ada orang disana, Samuji bertanya pada tetangga, dan benar saja, rumah itu tidak berpenghuni karena Imron bekerja di luar kota. Kemungkinan bukan dia, kalau begitu langsung rumah kedua di Melis.

Desa Melis

Melis adalah rumah kedua bagi Samuji, kakeknya lahir disini, dia SMP disini, dia hafal seluk beluk Melis. Rumah yang dia cari ada di RT 11 RW 5 dia mengitari rumah itu dahulu sebelum mendatanginya, selain memastikan ada orangnya ada alasan lain. Samuji memarkir kendaraanya di depan rumah, pintu depannya terbuka.
“Assalamualaikum” Samuji mengucap salam, ini melis, desa Islami, harus mengucapkan salam
“Waalaikumsalam” terdengar suara pria menjawab “Mas nyari siapa?”
“Detektif Samuji..” Samuji menunjukan tanda pengenalnya “..saya kesini mencari Bahak untuk menyelidiki kasus pembunuhan pak Anton” mata pria itu memancarkan ketakutan, kemudian memandang Samuji dan langsung menutup pintu, Samuji langsung berlari ke pintu belakang yang tadi dia lihat terbuka, namun begitu sampai pintu itu langsung tertutup, Samuji berusaha mendobraknya, usahanya terhenti ketika melihat si pria berlari ke arah timur, Samuji tidak mengejarnya, dia mengambil Smartphonenya.

Pria itu berlari terus ke arah timur, menuju jalan besar, langkahnya lebar dia berlari secepat mungkin lari dari kejaran Samuji, belum sampai di sana dia sudah dicegat oleh beberapa polisi.
“Selamat sore pak Bahak” kata Minto sambil tersenyum “mari ikut kami ke kantor polisi” Bahak terdiam dan langsung di borgol, tak lama Samuji datang dengan santai.
“Halo pembunuh” Samuji melempar senyum ke arah Bahak
“Kerja bagus ji, untung kamu pintar” Minto memegang pundak Samuji
“Kalau bodoh mana mungkin jadi detektif” Keduanya tertawa.

Beberapa saat lalu

“Ada lagi yang bisa kami bantu ‘pak’?” Tanya Minto dengan nada mengejek
“Ya, ada 2 hal lagi” kata Samuji sambil memejamkan mata “Pertama, aku ingin kamu ikut denganku”
“Kemana?” Minto bingung
“Ke rumah pembunuhnya”
“Buat apa?”
“Andai rumahnya di kunci kita dobrak rame-rame, andai dia kabur kita cegat, aku curiga dia akan lari naik motor, kalau benar motornya V-Ixin aku tidak akan mampu mengejarnya...”

Masa sekarang

“Bawa ke polsek, kita interogasi dia” Minto memberi perintah
“Aku hubungi Husna dulu ya”
“Iya, silahkan” Samuji menjauh sedikit, melihat daftar di kontak lalu menelpon.
“Halo, Husna?”
“Iya ji, ada apa?”
“Pembunuhnya sudah tertangkap”
“Beneran?” Suara Husna terdengar kaget
“Iya, orang Melis, tapi masih belum diketahui motif dia membunuh pak Anton apa, mau di interogasi dulu”
“Ya sudah, hubungi aku kalau sudah ketahuan ya, aku kasih tau ibuk dulu”
“Iya na” Husna terdengar senang, bagi Samuji itu sudah cukup, asal bisa membuat dia bahagia itu sudah cukup.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar