DETEKTIF SAMUJI
Samuji langsung pergi ke polsek Bendorejo, tempat
temannya bekerja, Minto namanya, mereka teman sejak SD, ketika Samuji butuh
apapun Minto selalu ada ketika Minto butuh apapun Samuji malah sebaliknya, eh.
Setelah memarkir motornya Samuji masuk ke polsek, terlihat temannya sedang
bermain game online.
“To, aku ada kasus
pembunuhan” Samuji langsung bicara tanpa salam atau apapun
“Siapa yang
dibunuh?” Minto santai mendengarnya sambil main smartphone, dia tahu kalau
temannya ini datang pasti butuh bantuan
“Bapaknya Husna,
temenku SMP”
“Aku nggak kenal,
terus?” masih sibuk main smartphone
“Ini aku dapat
beberapa jenis senapannya, dan pelurunya. Tolong kamu cek siapa pemiliknya”
kata Samuji sambil menunjukkan catatannya
“Mati miya monyet”
Seru Minto sambil memainkan smartphonenya
“To denger nggak
sih”
“Ini bisa makan
waktu lama” Minto menjawab masih dengan bermain game online
“Persempit pada
jenis senapannya saja”
“Tetap saja”
“Persempit lagi
daerahnya hanya di Trenggalek”
“Meskipun begitu
tetap butuh waktu lama”
“Kalau begitu cepat
mulai”
“Udah ditolong
merintah merintah lagi, kampret” kata Minto dengan kesal
“Kampret kan
kelelawar, kelelawar kan Batman, Batman kan World Greatest Detective, makasih
ya” Kata Samuji sambil cengengesan
“TER-SE-RAH!!”
Minto berlalu dengan nada tinggi
Enam Jam Kemudian
Samuji tertidur di polsek, dia lelah, lapar dan ngantuk,
dia tertidur di kursi kayu panjang sambil mangap, tiba-tiba suara keras
terdengar.
“KAMPRET!!” Samuji
seketika bangun dan jatuh di lantai
“Cok” Melihat minto
sejenak “Ada apa?”
“Kita sudah temukan
pemilik senapannya, ada 3 orang” Minto menunjukkan daftar lalu melanjutkan
“Pertama orang Ngadirenggo, Melis dan Kerjo”
“Aku akan mulai
dari yang paling deket, Ngadirenggo” kata samuji sambil mengucek matanya
”Semoga beruntung, ada lagi yang bisa kami bantu ‘pak’?” Tanya Minto dengan nada mengejek
”Semoga beruntung, ada lagi yang bisa kami bantu ‘pak’?” Tanya Minto dengan nada mengejek
“Ya, ada 2 hal
lagi..” kata Samuji santai sambil memejamkan mata
Desa Ngadirenggo
Rumah itu di RT 5, harusnya daerah sini, orang pertama
yang dia cari adalah Imron, orang yang memiliki Senapan Benelli M4,
rumah itu sepi sepertinya tidak ada orang disana, Samuji bertanya pada
tetangga, dan benar saja, rumah itu tidak berpenghuni karena Imron bekerja di
luar kota. Kemungkinan bukan dia, kalau begitu langsung rumah kedua di Melis.
Desa Melis
Melis adalah rumah kedua bagi Samuji, kakeknya lahir
disini, dia SMP disini, dia hafal seluk beluk Melis. Rumah yang dia cari ada di
RT 11 RW 5 dia mengitari rumah itu dahulu sebelum mendatanginya, selain
memastikan ada orangnya ada alasan lain. Samuji memarkir kendaraanya di depan
rumah, pintu depannya terbuka.
“Assalamualaikum”
Samuji mengucap salam, ini melis, desa Islami, harus mengucapkan salam
“Waalaikumsalam”
terdengar suara pria menjawab “Mas nyari siapa?”
“Detektif Samuji..”
Samuji menunjukan tanda pengenalnya “..saya kesini mencari Bahak untuk
menyelidiki kasus pembunuhan pak Anton” mata pria itu memancarkan ketakutan,
kemudian memandang Samuji dan langsung menutup pintu, Samuji langsung berlari
ke pintu belakang yang tadi dia lihat terbuka, namun begitu sampai pintu itu
langsung tertutup, Samuji berusaha mendobraknya, usahanya terhenti ketika
melihat si pria berlari ke arah timur, Samuji tidak mengejarnya, dia mengambil
Smartphonenya.
Pria itu berlari terus ke arah timur, menuju jalan besar,
langkahnya lebar dia berlari secepat mungkin lari dari kejaran Samuji, belum
sampai di sana dia sudah dicegat oleh beberapa polisi.
“Selamat sore pak
Bahak” kata Minto sambil tersenyum “mari ikut kami ke kantor polisi” Bahak
terdiam dan langsung di borgol, tak lama Samuji datang dengan santai.
“Halo pembunuh”
Samuji melempar senyum ke arah Bahak
“Kerja bagus ji,
untung kamu pintar” Minto memegang pundak Samuji
“Kalau bodoh mana
mungkin jadi detektif” Keduanya tertawa.
Beberapa saat lalu
“Ada lagi yang bisa
kami bantu ‘pak’?” Tanya Minto dengan nada mengejek
“Ya, ada 2 hal
lagi” kata Samuji sambil memejamkan mata “Pertama, aku ingin kamu ikut
denganku”
“Kemana?” Minto
bingung
“Ke rumah
pembunuhnya”
“Buat apa?”
“Andai rumahnya di
kunci kita dobrak rame-rame, andai dia kabur kita cegat, aku curiga dia akan
lari naik motor, kalau benar motornya V-Ixin aku tidak akan mampu
mengejarnya...”
Masa sekarang
“Bawa ke polsek,
kita interogasi dia” Minto memberi perintah
“Aku hubungi Husna
dulu ya”
“Iya, silahkan”
Samuji menjauh sedikit, melihat daftar di kontak lalu menelpon.
“Halo, Husna?”
“Iya ji, ada apa?”
“Pembunuhnya sudah
tertangkap”
“Beneran?” Suara
Husna terdengar kaget
“Iya, orang Melis,
tapi masih belum diketahui motif dia membunuh pak Anton apa, mau di interogasi
dulu”
“Ya sudah, hubungi
aku kalau sudah ketahuan ya, aku kasih tau ibuk dulu”
“Iya na” Husna terdengar senang, bagi Samuji itu sudah
cukup, asal bisa membuat dia bahagia itu sudah cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar