PETUALANGAN DETEKTIF SAMUJI 1
Pembunuhan Pak Anton
“Katanya kalau kita nikah
tidak milih hari baik,
orang tua kita akan celaka”
DETEKTIF SAMUJI
BAB 1
Samuji membuka lemari lalu memilih batik coklatnya, tidak
ada alasan khusus, ia hanya merasa lebih ganteng menggunkannya, hari ini adalah
hari spesial, orang yang disukainya akan menikah meskipun dengan orang lain, ia
melihat sebuah undangan di atas meja, undangan pernikahan Asep Suhendra dan
Lailatul Husna, Samuji mengambilnya, melihatnya sesaat lalu menaruhnya
kembali di atas meja. Rasa menyesal terus menghantuinya, andai dulu ketika
smp dia bisa mengatakanya, andai dia punya keberanian mendengar jawabannya,
andai... Samuji berangkat ke pernikahan itu mengendarai motornya ia tidak
terburu-buru berangkat karena jaraknya memang tidak terlalu jauh dari rumahnya
di Krandegan ke Bendorejo, dia mengendarai motor maticnya dengan santai sambil
melihat-lihat pemandangan sekitarya, cuaca sore itu cukup bagus, cahaya kuning
menyinari Trenggalek, katanya kalau ada cahaya kuning di sore hari malamnya
akan hujan, Samuji tidak percaya dengan hal semacam itu, andai dia orang biasa
mungkin dia akan percaya mitos, tapi sebagai detektif dia tidak boleh percaya
hal semacam itu.
Semakin dekat ke tempat pernikahan suara musik dari acara
pernikahan itu terdengar sangat keras, lagu itu memiliki lirik yang galau tapi
dinyanyikan dengan nada bahagia, eh? Ada beberapa kesalahan di pernikahan salah
satunya adalah lagu pernikahan, di acara pernikahan kan seharusnya romantis
atau setidaknya bahagia, Samuji pernah datang ke acara pernikahan dan
penyanyinya menyanyikan lagu “Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi..” bahkan
ada masanya “Never mind i’ll find someone like you” ada disetiap pernikahan,
lebih jauh lagi ada masa dimana Sido Rondho dan Stasiun Balapan menjadi lagu
wajib di acara pernikahan, apakah ini pembicaraan yang penting sekarang?
Setelah memarkirkan kendaraannya Samuji melangkah santai
menghampiri mempelai, Husna terlihat bahagia, dia sudah tidak memakai gaunnya,
dia menggunakan baju ungu, warna kesukaannya, suaminya menggunakan baju putih.
Samuji menyalami 4 orang tua mempelai, lalu pengantin pria dan Husna, mereka
bertiga lalu duduk.
“Selamat ya” Samuji memulai percakapan sambil melemparkan senyum
“Alhamdulilah” Husna menjawab sambil tersenyum
“Berapa lama pacaran?”
“Hampir 3 tahun mas”
“Oh, lama juga ya, semoga cepet-cepet dikasih momongan”
“Sudah isi kok” Husna menjawab sambil tersenyum
“Heh?” Samuji kaget setengah mati, iya, bagian tubuh kanannya mati yang
kiri hidup
“Gak dikasih restu mas, nekat sekalian” jelas Asep
“Bapakku yang nggak ngasih restu” Samuji masih diam
“Ya mau gimana lagi, aku cinta dia, kami sama-sama nggak pengen pisah ya
sudah, tembak dalam” mereka berdua saling menatap
“Wow” hanya itu yang bisa keluar dari Samuji
“Ini juga mepet, gak milih hari baik dulu, yang penting nikah mas”
“Katanya kalau nikah enggak milih hari baik bisa celaka lo orang tuanya”
kata Husna cemas
“Kamu percaya yang kayak begitu?”
“Udah ada yang kejadian soalnya, kamu percaya ji?” tanya Husna masih dengan
nada cemas
“Sebagai detektif kami di larang percaya mitos”
“Oh iya kamu detektif ya, dulu Samuji bantu aku mecahin kasus pramuka di
smp loh” kata Husna
“Oh sampeyan detektif to mas?”
“Detektif nggak terkenal” Samuji tertawa hambar
“Ngurusin kasus apa saja?”
“Sandal yang hilang di masjid, maling receh, semacam itu lah”
“Selalu ketemu pelakunya?”
“Tidak pernah gagal” Samuji tertawa diikuti keduanya, selebihnya mereka
mengobrol masalah politik dan isu terbaru, ternyata Asep orangnya asik diajak
ngobrol, pantes Husna suka, setelah berfoto Samuji memutuskan untuk pulang,
hari sudah hampir gelap, setelah berpamitan dengan keduanya ia pulang dengan
senyum sambil berdoa dalam hati Semoga kamu bahagia.
Malam harinya Samuji
tidak bisa tidur bukan karena Husna menikah karena udara menjadi panas, suara
halilintar juga terdengar begitu keras. Ia melihat keluar jendela, Hujan
Satu minggu
kemudian
Pagi itu Samuji
bangun agak siang setelah sarapan ia menyalakan tv untuk melihat berita,
tiba-tiba smartphone nya berbunyi, Husna menelfon.
“Assalamualaikum ji” Suaranya terdengar seperti orang menangis
“Waalaikum salam na, kamu nangis ya?” Samuji bangun dari kursinya
“Bapak ji, bapak..”
“Pak Anton kenapa?” Samuji panik
“..Bapak sedo[1]!!!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar